Kerinduan Seruling

 Dengan Nama Allah yang Maha Kasih Maha Sayang

Dengarkan seruling bagaimana ia berkisah, karena perpisahannya ia adukan derita.

katanya:
Sejak aku berpisah dari rumpun bambuku, laki perempuan tlah merintih karena jeritku. Kuingin dada yang terkoyak perceraian, biar kuungkapkan semua derita kerinduan. Siapa saja yang terlempar dari asalnya, mencari saat kembali ia bergabung dengannya.

Pada setiap kelompok, jeritan kugubah lagu dan dendang. Aku gabung dengan yang malang juga yang senang, Setiap orang menduga dia sudah menjadi kawanku, tapi tak seorangpun ingin tahu rahasia dalam diriku. Rahasiaku tak jauh dari jeritanku, tetapi mata dan telinga tak punya cahaya untuk mencerapku. Ruh tidak tertutup dari badan, dan badan dari ruh, tapi tak seorangpun dapat memandang ruh.

Suara seruling ini bukan lagi angin, tetapi api. tiadalah dia, siapa saja yang tak punya api. Yang berada dalam seruling hanya api cinta, yang berada dalam anggur cuma gelora cinta. Seruling itu kawan siapapun yang berpisah dari kawannya, menyobekkan tirai-tirai kita lagu-lagunya. Siapa gerangan pernah melihat bisa dan penawar bak seruling. Seruling bertutur tentang jalan penuh darah, juga tentang kerinduan majnun ia berkisah.

Hanya kepada yang tak sadar kesadaran ini diberikan, hanya kepada telinga pembicaraan ini ditujukan. Dalam derita kita hari-hari datang terlalu cepat, hari-hari kita berjalan bersama duka yang pekat. Jika hari-hari kita berlalu biarkan semua berlalu begitu saja.

Wahai yang tak seorangpun suci selain-Mu, biarlah yang tinggal hanya Kau saja.

Siapapun selain ikan akan kenyang dengan air-Nya.
Siapapun tanpa makanan, akan menjadi lama hari-harinya.

Tentang kematangan, tak satupun yang mentah paham
Karena itu ucapku mesti pendek, Wassalam.

(Jalaluddin Rumi)

Tanggapi posting ini