Oleh: Lutfi Seli Fauzi
Definisi Homoseksual
Homoseksual merupakan salah satu masalah yang menghinggapi remaja saat ini. Fakta dilapangan menunjukan bahwa perilaku homoseksual dilakukan mulai umur remaja. Sebagai contoh, jumlah homoseksual di Kanada sekitar 1% dari keseluruhan penduduknya, dengan usia 18-59 tahun. Sedangkan di Amerika berdasarkan hasil penelitian dari National Center for Health Research (Kamilia Manaf: 2007) tahun 2002 sekitar 4,4% masyarakat Amerika pernah melakukan hubungan homoseksual, dengan usia 15-44 tahun. Di Indonesia sendiri (Deti Riyanti dan Sinly Evan Putra: 2008) berdasarkan hasil statistik menunjukan bahwa sekitar 8 sampai 10 juta pria pernah terlibat dalam hubungan homoseksual.
Para ahli mendefinisikan homoseksual secara beragam, menurut Deti Riyanti dan Sinly Evan Putra (2008) homoseksual dapat diartikan sebagai kelainan terhadap orientasi seksual yang ditandai dengan timbulnya rasa suka terhadap orang lain yang mempunyai kelamin sejenis atau identitas gender yang sama. Sedangkan Kaplan (Wayan Westa: 2006) mengemukakan bahwa homoseksual adalah penyimpangan psikoseksual di mana seseorang dewasa tertarik gairah seksualnya dengan teman sejenis.
Berbeda dengan kedua pendapat diatas yang menganggap bahwa homoseksual merupakan sebuah penyimpangan atau kelainan, Dali Gulo (Abu Al-Ghifari: 2002: 105) mengatakan bahwa homoseksual merupakan kecenderungan untuk memiliki hasrat seksual atau mengadakan hubungan seksual dengan jenis kelamin yang sama. Suharko Kasran (2008) berpendapat bahwa homoseksual pada dasarnya meruapakan interest afektif dan genital terarah kepada sesama seks.Dari beberapa definisi tersebut setidaknya kita dapat mengambil satu persamaan yaitu bahwa homoseksual merupakan kecenderungan individu untuk menyukai orang lain yang mempunyai jenis kelamin yang sama. Homoseksual sendiri terbagi menjadi dua kelompok yaitu homoseksual yang terjadi pada pria yang disebut gay dan yang terjadi pada wanita yang disebut lesbianisme. Orientasi SeksualOrientasi seksual individu pada dasarnya terbagai menjadi 3 yaitu Heteroseksual, yang merupakan reaksi seksual antara makhluk berbeda jenis kelamin; Homoseksual, reaksi seksual antara mahluk sesama jenis kelamin; dan Biseksual, yang merupakan gabungan antara keduanya. Perlu diingat bahwa orientasi seksual ini tidak sama dengan aktivitas seksual, ini terbukti dengan bahwa remaja yang lesbian, gay, ataupun biseksual belum tentu pernah melakuakn hubungan seksual secara nyata. Begitu pula sebaliknya orang yang pernah berhubungan seks sesama jenis bukan berarti adalah lesbian, gay, atau biseksual (Just The fact Coalition: 2008)Alfred Kinsey (1961) mengemukakan bahwa 96% manusia itu biseksual. 2% homoseksual murni dan 2% heteroseks murni. Dalam teori statistik, hal ini dikenal dengan istilah kurva distribusi normal. Bila suatu populasi dikelompokkan, akan terbentuk kurva distribusi pada kedua ujungnya, 2% kanan dan 2 % kiri dianggap sebagai standar deviasi atau abnormalitas. Jadi, sesuai dengan teori dr. Kinsey, yaitu 2% homoseks dan 2% heteroseks dianggap abnormal. Yang termasuk kedalam kelompok heteroseks murni adalah orang yang 100% orientasinya heteroseks. Orang ini tidak mungkin bisa bergaul di masyarakat dan menjadi penyakit masyarakat, seperti juga halnya dengan kelompok homoseksual murni, mereka tidak bisa berkomunikasi dengan sesama jenis dalam bentuk apa pun.Lebih lanjut Alfred Kinsey (1961) menyebutkan bahwa sisa manusia 96% yang biseksual itu dimasukkan ke dalam beberapa kelas sesuai derajat homoseksual dan heteroseksualitasnya, misalnya kelompok tengah adalah kelompok 50:50. Derajat seksualitas ini tidak berarti sebagai ekspresi seksualitas. Walaupun seseorang berada pada kelompok ekstrem kanan dalam skema Kinsey, yaitu 10% heteroseksual dan 90% homoseksual, akan tetapi karena sejak kecil berkembang di lingkungan heteroseks, potensi homoseksnya yang 90% itu tidak akan berkembang dan bisa saja seumur hidup dia merupakan heteroseks yang baik karena aspek berlawanannya tidak berkembang. Hal yang sebaliknya juga bisa terjadi pada orang yang berada dalam kelompok ekstrem kiri yaitu 90% heteroseks dan 10% homoseks, bila berkembang di lingkungan homoseks, bisa saja terekspresi sebagai seorang homoseks tulen karena aspek heteroseksnya tidak berkembang. Dari teori ini, kita melihat bahwa lingkungan sangat dominan mempengaruhi orientasi seksual manusia. Dampak HomoseksualWalaupun World Health Organization (WHO) telah mengeluarkan homoseksualitas dari daftar penyakit kejiwaan pada tanggal 17 Mei 1981, dan mengeluarkannya dari daftar penyakit pada tahun 1992 (Kamilia Manaf: 2007), tetapi dampak dari homoseksual tidaklah maini-main. Hal ini terbukti dari data penderita HIV/AIDS di Amerika.Data pasien AIDS di Amerika menunjukan bahwa penderita AIDS terbanyak ditunjukan oleh kaum homoseksual atau biseksual sekitar 65%, pengguna jarum suntik 17%, homoseksual dan suntik 8%, hemofilia 1%, penerima tranfusi darah 2%, heteroseksual 4% dan lainnya 3%. Data pada tahun 2002 juga menunjukan angka yang tidak terlalu jauh yaitu sebagai berikut: 68,3% homoseksual, 12,9% karena obat suntik, 8% homoseks dan jarum suntk, hemofilia 2,1%, heteroseksual 3,4%, tranfusi darah 0,7%, ibu pengidap HIV 0,6% dan lainnya 4%.Dari data diatas, fakta kebanyakan menyebut angka penyebab AIDS paling tinggi terdapat di kalangan mereka yang melakukan hubungan seksual sesama jenis dan kemudian disusul pengguna narkoba suntikan, baru disusul hubungan heteroseksual, dan kemudian di susul penyebab lainnya. Penyebab Homoseksual Memang diakui terjadi perbedaan pendapat diantara para ahli mengenai penyebab homoseksualitas. Freud (Fact about Sexuality and Mental Healt: 2007), berasumsi bahwa semua manusia pada dasarnya adalah mahluk biseksual atau penggabungan homoseksual dan heteroseksual, ia kemudian mengemukakan bahwa individu menjadi homoseksual ataupun heteroseksual didapat sebagai hasil dari pengalamannya berhubungan dengan orang tua dan yang lainnya. Tentang homoseksual ia menulis: “Homosexuality is assuredly no advantage, but it is nothing to be ashamed of, no vice, no degradation, it cannot be classified as an illness; we consider it to be a variation of the sexual function produced by a certain arrest of sexual development. Many highly respectable individuals of ancient and modern times have been homosexuals, several of the greatest men among them (Plato, Michelangelo, Leonardo da Vinci, etc.). It is a great injustice to persecute homosexuality as a crime, and cruelty too….”.Jadi, menurut Freud pada dasarnya individu sudah memiliki potensi sejak lahir untuk menjadi homoseksual dan heteroseksual. Terjadinya orientasi seks homoseksual, heteroseksual, atapun biseksual tersebut dipengaruhi oleh lingkungan, khususnya lingkungan masa kecilnya bersama kedua orangtua. Orientasi seksual merupakan variasi yang terjadi dalam perkembangan seksual individu yang akan berkembang sesuai dengan kondisi lingkungan sehingga homoseksual bukanlah sebuah penyakit. Pada perkembangan selanjutnya, tokoh-tokoh psikoanalisa meninggalkan pandangan Freud ini. Sandor Rado (Fact about Sexuality and Mental Healt: 2007) meninggalkan asumsi Freud mengenai pembawaan individu yang biseksual. Ia dan tokoh psikoanlisa lainnya (Bieber: 1962), berpendapat bahwa homoseksual diakibatkan hanya oleh pengalaman individu bersama kedua orangtuanya, yang dimulai sejak masa oedipal period (sejak umur 4-5 tahun). Sedangkan Charles Socarides: 1968 (Fact about Sexuality and Mental Healt: 2007), mengungkapkan bahwa perkembangan homoseksual individu dimulai sejak masa pre-oedipal dan sesuadahnya.Seorang laki-laki dapat menjadi seorang gay bila memiliki hubungan yang terlalu erat dengan ibunya atau karena kurang dan hilangnya figur kebapakan dalam keluarga, sehingga bapak yang terlalu disiplin yang pada perkembangan selanjutnya memunculkan kebencian pada laki-laki secara umum. Hal ini berlaku terbalik pada kasus perempuan lesbian dimana posisi ibu hilang atau terlalu disiplin dan ayah yang terlalu dekat dengan anak perempuannya. Sebagian besar psikolog dan psikiatri percaya bahwa hal ini adalah “penyebab” utama homoseksualitas yang baru kemudian mengubah proses biologis dalam tubuh (Hosea Handoyo: 2007). Mengatasi Homoseksualitas
Didalam Psikoanalisa untuk mengatasi homoseksual menurut Bieber (Soeharko Kasran: 2008) dapat dilakukan dengan terapi selam 350 jam, dari 1/3 homoseksual/ biseksual pria sebanyak 100 orang dapat ditanggulangi setelah 5 tahun. Mac Culloch dengan anticipatoryavoidance conditioning dapat mereduksi homoseksualitas sebanyak 57% selama 2 tahun.
Yang paling utama dalam terapi ini adalah dengan adanya motivasi yang kuat yang berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Sedangkan agar meminimalisir kemungkinana homoseksualitas maka pada saat masih kanak-kanak, individu harus diberikan pendidikan secara proporsional oleh kedua orang tua khususnya pada usia 4 tahun keatas. Serang ayah harus memerankan perannya sebagai seorang bapak yang baik dan begitu pula seorang ibu harus memerankan perannya sebagai seorang ibu secara baik pula. Oleh karena itu pola asuh orang tua yang baik dapat meminimalisir kemungkinan individu menjadi homoseksual.
Referensi:
Al-Ghifari, Abu. (2002). Gelombang Kejahatan Seks Remaja Modern. Bandung: Mujahid Press.
Disheen. (2006). Apa dan Bagaimana Homoseksualitas. [Online].
Tersedia: http://disheen.tk/a?t=homoseksual+remaja+Penis+seks+Pria+AIDS+second+home&v=0&c=1&p=1&r=1183162975050 [8 Maret 2008]Handoyo, Hosea. (2008). Gaya Pride: Homoseksual dipicu Lingkungan dan Gaya Hidup. [Online]. Tersedia: http://www.netsains.com/index.php/page_info/pid_216 [23 Februari 2008]Just the acts Coalition. (2008). Just the Facts About Sexual Orientation and Youth: A Primerfor Principals, Educators, and School Personnel. [Online]Tersedia: http://www.apa.org/pi/lgbc/publications/justthefacts.html. [8 Maret 2008]Kasran, Suharko. (2008). Norma Nilai Etika Moral dalam Kehidupan Psikoseksual. [Online]. Tersedia: http://www.geocities.com/forkos_keswais/moralpsikoseksual.html[23 Februari 2008]Manaf, Kamilia. (2007). Lesbian, Normal Kalee..!!. [Online] Tersedia: http://www.satupelangi.com/lesbiannormalkalee.htm [8 Maret 2008]MaPI. (2007). Homoseksualitas. [Online] Tersedia: http://www.percikan-iman.com/mapi/index.php [8 Maret 2008]Psychology.ucdavis.edu (2008). Facts About Homosexuality and Mental Health. [Online]. Tersedia: http://psychology.ucdavis.edu/rainbow/html/facts_mental_health.htm [23 Februari 2008]Riyanti, Deti & Evan, Sinly. (2008). Homoseksual, Tinjauan dari Perspektif Ilmiah.[Online]. Tersedia: http://www.chem-is-try.org/?sect=artikel&ext=120[23 Februari 2008]


Posted by adel on Mei 23, 2008 at 9:48 am
saya anak psikologi UI, sedang membuat skripsi mengenai stres dan coping pada ibu dengan anak gay yang sudah coming out. ada yang bisa membantu saya? saya membutuhkan narasumber untuk penelitian ini yang dapat diwawancara dan bersedia berbagi informasi tentang penelitian ini. tapi kalau ada yang bersedia memberikan informasi lainnya,saya sangat berterima kasih. kalo ada yang bisa membantu tolong kabari saya di email veenha_venhus@yahoo.com. terima kasih.
Posted by Goez on Juli 12, 2008 at 11:39 am
Fakta memang homoseks adalah bagian dari kehidupan di muka bumi ini. Dengan sendirinya hal itu merupakan pelengkap dari bumbu-bumbu dosa di muka bumi. Siapapun yang lahir kedunia sudah membawa dosa. Mungkin kalau dia heteroseks, dosanya dalam bentuk lain seperti cacat, miskin atau apalah. Orang cacat kalau mau bisa diterapi agar menjadi lebih mandiri atau paling sedikit ada beberapa elemen fungsonal sebagai manusia dia raih. Orang miskin kalau dia sadar bahwa miskin itu enggak enak, akan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi kemiskinannya. Paling sedikit bisa mencukupi kebutuhan makan sehari-hari. Nah, orang homo ? Kalau ingin enggak dicemooh oleh orang-orang, berusaha untuk tidak menunjukkan kehomoannya. Kalo bisa belajar menyukai perempuan, memacari kalo bisa menikahi. Semudah itukah ? Tidak…Saya adalah seorang homoseksual sejati yg sangat membenci kehomoan saya. Kemudian saya berusaha dengan segala daya upaya untuk menyukai perempuan. Saya kemudian menikah dan memiliki anak-anak. Tetapi rasa kehomoan saya enggak bisa hilang, malah makin menjadi-jadi…sampai saya enggak tahan dan berterus terang dengan istri. Dia sangat terluka dan enggak bisa menerima.Sangat menderita banget menjadi seorang homo. Saya hanya berpesan kalo kamu menjadi homo sudah dari sononya, bukan muncul setelah bergaul dengan kaum homo, terimalah dirimu apa adanya. Jangan sampai berusaha jadi bi atau hetero karena kamu akan membunuh dirimu sendiri, istrimu dan anak-anakmu…Salam sehati.
Posted by Anonim on September 14, 2009 at 8:50 am
saya setuju dngan pndapatmu…
Posted by Cassandros on Agustus 29, 2008 at 4:40 pm
Goez
TIdak ada yang namanya “homo dari sononya.” Ketika sebagian ahli menyatakan bahwa ada sekian persen predisposisi genetis dari homoseksualitas, mereka tidak bermaksud menyatakan bahwa ada sebagian homo yang dilahirkan demikian. Mereka hanya mau mengatakan bahwa seseorang menjadi homo adalah karena kombinasi faktor biologis dan lingkungan, bukan salah satunya saja.
Juga, predisposisi genetis tidak memaksa orang untuk melakukan sesuatu, misalnya mengkhianati istrinya. Paling banter, predisposisi itu hanya membuat anda tertarik pada sesama jenis. Tapi apakah anda mau setia atau tidak, itu pilihan anda. Jadi, berhentilah menyalahkan gen anda, mulailah ambil tanggung jawab atas pilihan anda. Salah satunya adalah saudara saya bung Alif, meski dia homo, tapi ia berjuang untuk melawannya. Ia tidak pasang target untuk jadi hetero. Ia hanya melawannya, dan berpasrah kepada Tuhan apapun hasilnya. Karena ia sadar, bahwa tanggung jawabnya adalah mengendlaikan peirlakunya, bukan mengubah ketertarikannya. Komennya dpaat dibaca di sini: http://helda.blogdetik.com/2008/08/15/homoseksualitas-pasrah-atau-berjuang/#comment-609
Posted by rifqi on Oktober 11, 2008 at 2:43 am
penyebab penyimpangan pada orientasi seks adalah nafsu, ALLAH SWT memang menciptakan laki-laki yang tidak memiliki kemampuan (maaf > berjima’) / tidak tertarik dengan perempuan tapi lelaki yang semacam ini hendaknya bersabar dan tetap berkomitmen terhadap aturan ALLAH SWT bahwa homoseks haram hukumnya.
Posted by naz-q on Oktober 11, 2008 at 8:13 am
Allah pasti punya tujuan dalam setiap keinginanya.
jika anda termasuk orang-orang pilihan Allah dalam menjalani ujian sebagai orang Homo maka hendaknya anda bijak dalam menjalani ujian yang telah diberikan oleh Allah kepada anda.
janganlah anda pasrah dan menyalahkan Allah atas ujian yang telah diberikan kepada anda. Allah takkan memberikan suatu cobaan diluar batas kemampuan anda untuk menjalaninya, percayalah.
jika Iman manusia kecil maka Allah akan mengujinya dengan kecil pula dan jika iman manusia tinggi maka Allah akan menguji iman manusia itu dengan tinggi pula jika anda termasuk orang homo maka percayalah bahwa anda termasuk orang-orang pilihan yang dianggap Allah orang yang dapat menjalani ujian dan cobaan yang telah diberikan oleh Allah kepada anda, dengan catatan anda harus bertawakan dan bertakwa kepada Allah dan hindari segala perbuatan yang dilaknati oleh Allah.
semoga kita semua dapat mejalani takdir yang ditulis Allah dengan selalu bertawakal kepada Allah. Amin. god bles u all.
Posted by ai on September 29, 2009 at 4:31 pm
iya aku selalu beursaya bagaimana cara ki untuk terus berjalan dijalan allah dan menjahui larangannya doa kan saya semoga dapat terbebas dari perbuatan yang terkutuk ini.
Posted by Anis Anwar on Oktober 26, 2008 at 10:22 pm
Ad dua orang rakan saya yang terjebak kadalam gejala ini.
Kisah pertama,
Dia tertarik akan susuk tubuh rakannya yang agak tegap tapi kurus jer. Malah rakannya ini suka pula menayangkan badannya dan sentiasa memakai pakaian mencolok mata di dalam dorm. Namun, dia sedar itu adalah ujian baginya. Dia mengambil langkah bijak dengan jarang masuk dorm dan tidak bergaul dengan rakannya yang berpakaian sedemikian apatah lagi untuk memandangnya. Dalam masa dua bulan dengan berkat keikhlasannnya terhadap Allah, Allah telah membantunya. Dia pun mampu berubah.
Kisah kedua,
Rakan saya terjebak secara tiba-tiba tanpa kami tahu faktornya. Namun dia tidak mahu berubah malah melakukannya terhadap ‘idolanya’ padahal idolanya ni pula orang yang menutup aurat. Lama kelamaan aktivitinya telah dikesan dan telah diberi pengajaraan secara fizikial dan tidak lama kemudian dia semakin pulih.
Maka perllihatkan dua situasi yang sungguh berbeza. Semangat untuk berubah,ikhlas dan ingat kepada Allah merupakan kunci utama. Tiada alasan unutk berdolak dalih.
Posted by Al FarRidLlaH on November 19, 2008 at 3:12 am
saya lagi nyusun proposal bwt skripsi, sekarang saya butuh fakta-fakta mengenai homo di kalangan remaja putri yang tinggal satu asrama.kalau ada yang bersedia membantu saya sangat berterima kasih, dan kalu ada yang bisa membantu tolong hubungi saya di email ALinQilabiy@plasa.com.terima kasih
Posted by luthfis on November 19, 2008 at 12:09 pm
ooo,,, sama saya juga sedang nyusun skripsi tentang homo….
Posted by ardi on Maret 15, 2009 at 3:00 am
ayo lawan homoseksual
Posted by vhica on Maret 15, 2009 at 10:09 am
homoseksual tuh biadab bngt yuuaaaaa
kya 9a ad cwe aj bkn;y cwe itu makhluk pling indah…. binatang aja ga mw sma sesama jenis
Posted by radit on Maret 17, 2009 at 1:52 am
homoseksual bukan genetis ataupun dari sononya, homoseks adalah pilihan hidup. saya juga seorang homo, tapi saya berusaha menyeimbangkan dan menahan nafsu saya.
Posted by ai on September 29, 2009 at 4:34 pm
aku setuju mas aku juga berusaha untuk lepas dari belenggu setan ini.