Nabi Muhammad Manusia Biasa?? Cape deeehhhh…

Oleh : Luthfi Seli Fauzi

“Orang Islam itu luar biasa!” kata Urwah ats-Tsaqofi kepada kaumnya, yang merupakan salah satu utusan kafir Quraisy dari Mekkah dalam perjanjian Hudaibiyah. “Demi Allah, aku pernah menjadi utusan untuk menemui raja-raja, aku pernah berkunjung kepada Kaisar, Kisra, dan Najasyi. Demi Allah, aku belum pernah melihat orang-orang mengagungkan rajanya seperti sahabat-sahabat Muhammad mengagungkan Muhammad (shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam). Demi Allah, jika ia meludah, ludahnya selalu jatuh pada telapak tangan salah seorang diantara mereka, lalu mereka usapkan ludah itu kepada wajah dan kulit mereka. Bila ia memerintah, mereka berlomba-lomba melaksanakannya. Bila ia berwudlu, mereka hampir-hampir berkelahi memperebutkan bekas air wudhunya. Bila ia bicara, mereka merendahkan suara dihadapannya. Dan mereka menundukkan pandangan dihadapannya karena memuliakannya.” (Shohih Bukhori 3: 255)

             Saya sengaja mengutip kisah diatas karena beberapa waktu lalu kita telah memperingati maulid Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam (tepatnya tanggal 12 Rabiul awwal versi Sunni dan 17 Rabiul awwal versi Ahlul bayt) dan juga hari wafatnya, yang menurut riwayat Ahlul bayt terjadi pada tanggal 28 Shafar. Saya juga sengaja menulis kisah diatas untuk kawan-kawan kita yang anti maulid, dan bahkan membid’ahkan serta memusyrikan orang yang mengagungkan dan merayakannya.

Dan saya juga memang sengaja menulis ini, untuk menebus pemahaman dan sikap saya dulu yang juga suka membid’ahkan serta memusyrikan orang yang merayakannya, karena dulu saya anggap Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam itu hanya sekedar manusia biasa. Betulkah itu?

            Logika yang saya pakai dulu sangat sederhana untuk menyudutkan (lebih tepatnya membantai) orang yang memuliakan Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam. Pertama, Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam itu manusia biasa, hanya saja diberi wahyu oleh Alloh Swt, jadi kalau kita mengagungkannya berarti kita sudah kultus, dan jika kita kultus maka secara otomatis kita sudah menuhankan Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam, kalau kita menuhankan Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam maka kita sama dengan menyekutukan Alloh Swt dan jika kita menyekutukan Alloh Swt berarti kita musyrik!! Dan tahu apa itu musyrik? Itu adalah dosa yang tidak akan pernah diampuni Alloh Swt. Kedua, Alloh Swt dan orang-orang beriman tidak pernah membeda-bedakan para utusan-Nya (QS. Al-Baqoroh: 285), kalau orang-orang yang beriman saja tidak membeda-bedakan utusan-Nya (para Rosul), berarti kalau kita membeda-bedakannya, secara otomatis kita tidak termasuk orang-orang yang beriman, dan kalau bukan orang beriman lantas termasuk apa?. Ketiga, mengagungkan termasuk memperingati hari lahir dan hari wafat atau hari bi’tsah beliau tidak pernah diperintah oleh Nabi bahkan beliau memperingatkan agar tidak mengagungkan dirinya sebagaimana umat Nasrani mengagungkan Nabi Isa, lantas kalau tidak diperintah oleh Nabi, kita mengikuti siapa?

Tidak semua argumen yang anti memulikan Nabi saya kutip diatas, argumen tersebut hanya argumen yang saya ingat saja ketika dulu sering saya gunakan untuk menyerang orang yang tidak sepemahaman dengan saya (atau mungkin juga supaya pas tiga argumen, karena angka 3 itu biasanya angka tokcer). Nah, tulisan ini saya tujukan untuk kepribadian saya yang lain (yang dulu suka seenaknya membid’ahkan dan memusyrikan orang lain). Jadi, buat anda yang sepemikiran dengan kepribadian saya yang lain, santai saja… ini bukan untuk anda kok.

Kembali lagi ke permasalahan. Sebenarnya memang harus diakui bahwa Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam adalah manusia, dan tentu saja beliau memiliki sifat yang mausiawi seperti makan, minum, tidur, (maaf) buang hajat, bersosialisasi, sakit, dan lain sebagainya. Untuk itu semua kita tidak bisa membantah karena sudah sewajarnya sebagai manusia harus seperti itu, tapi kalau Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam adalah manusia biasa? Saya rasa ini perlu kita diskusian lebih lanjut.

Untuk masalah pertama yang menyebutkan bahwa mengagungkan beliau berarti kultus, dan kultus itu berarti menuhankan, dan seterusnya… ini sama sekali tidak benar bahkan menurut saya logika seperti ini adalah (sekali lagi ini menurut pemahaman saya) logika yang keliru yang justru tidak logis sama sekali. Mengagungkan seseorang tidak berarti kultus, kita tidak bisa mengatakan bahwa ketika kita menggangungkan seseorang berarti kultus, ketika kita menempatkan seseorang sesuai dengan haknya maka itu bukanlah kultus tapi memang sudah seharusnya. Kita mengagungkan Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam sebatas pengagungan beliau sebagai seorang nabi, bahkan nabi terakhir dan termulia. Lebih ekstrim lagi kalau dihubungkan dengan menuhankan dan menyekutukan Alloh Swt, ini sama sekali tidak masuk akal. Mana ada mengagungkan sama dengan menuhankan, dari mana ceritanya memuliakan Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam sama dengan menyekutukan Alloh? Dimana korelasinya memuliakan dengan menuhankan? Ini jelas-jelas dua hal yang sangat jauh berbeda, seperti jauhnya langit dan bumi. Silahkan tanya orang-orang yang melakukan tawassul (ini juga adalah perbuatan yang dulu saya anggap musyrik), memperingati maulid, dll. apakah mereka menuhankan Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam? Jawabannya: Tidak!. Cobalah berpikir jernih!

Masalah kedua tentang tidak membeda bedakan diantara para Rosul bukan berarti seluruh Rosul itu sama dan harus diperlakukan sama. Bukankah Alloh Swt sendiri yang telah melebihkan sebagian rosul terhadap rosul yang lainnya (QS. Al-Baqoroh: 253)? Bahkan bukan hanya rosul saja, kelebihan ini juga diberikan diantara manusia biasa seperti Maryam (QS. Ali Imran: 42), atau juga orang-orang yang berjihad (QS. An-Nisa’: 95). Jadi para Rosul itu memang sama, yaitu sama-sama sebagai utusan Alloh Swt. Tapi tentu tidak sama karena diantara para rosul itu ada tingkatan kemuliaannya seperti Ulul Azmi, dan sudah jelas yang paling mulia diantara para nabi, bahkan seluruh mahluk di alam semesta ini adalah Nabi muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam.

Masalah ketiga, Rosulullah memang melarang umatnya untuk memperlakukan dirinya secara berlebihan, Rosul mengatakannya dengan “janganlah kamu mengagungkanku sebagaimana Nasrani mengagungkan Isa as.”. Hadits ini memang benar, tapi betulkan tidak boleh mengagungkan beliau? Sebetulnya tidak perlu kajian mendalam tentang ini, karena sebenarnya pernyataan Rosul tersebut sudah jelas bahwa yang tidak boleh itu bukanlah mengagungakn beliau, tapi mengagungkan beliau secara berlebihan sampai kepada derajat menuhankan beliau sebagaimana umat kristen menuhanakan Nabi Isa. Hal ini jelas! Tak ada umat Islam yang menganggap Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam sebagai Tuhan yang harus disembah, berbeda dengan Umat kristen yang benar-benar menganggap Nabi Isa sebagai Tuhan dan menyembahnya.

Dalam kisah yang tercantum dalam Shohih Bukhori (kalau anda menganggapnya kitab hadits yang paling shohih) diatas dan beberapa kisah lainnya yang shohih, menunjukan bahwa Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam bukanlah manusia biasa. Kita bisa lihat bagaimana para sahabat mengagungkan Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam dengan bertabarruk (lagi-lagi ini adalah hal yang dulu saya anggap sebagai perbuatan syirik, menyekutukan Alloh Swt) dengan mengambil ludah beliau, berebut rambut beliau seperti dalam peristiwa tahallul, mengumpulkan keringat beliau seperti ummu Sulaym (lihat Shahih Muslim 4: 1815; Musnad Ahmad 3: 136), berebut bahkan meminum air bekas wudhu beliau seperti Ibnu Mas’ud (Shahih Bukhori), dll.

Pengagungan tersebut, seperti meminta berkah (tabarruk) terhadap peninggalan beliau secara jelas menunjukan bahwa Nabi Muhammad bukanlah manusia biasa dan sekaligus membantah bahwa tabarruk itu musyrik (sekali lagi argumen ini saya tujukan kepada kepribadian saya yang lain). Bagaimana mungkin musyrik, Rosulullah sendiri mendiamkannya bahkan mencontohkannya seperti dalam kisah ummu sulaym dan Anas bin Malik yang tercantum dalam shohih Muslim (saya baru sadar, kalau mengagungkan beliau seperti tabarruk itu musyrik maka mayoritas sahabat dan keluarga Rosul adalah orang musyrik, bahkan lebih ekstrim lagi justru Nabi Muhammad sendiri yang menyebarkan kemusyrikan diantara umatnya, nauzhubillahi mindzalik).

Sekarang, kalau anda bertanya kepada saya apakah Nabi Muhammad itu manusia biasa atau bukan? Saya dengan penuh keyakinan akan menjawab (walaupun sebenarnya kalimat aneh ini masih jauh dari menunjukan kemulian dan keagungan Nabi Muhammad yang sesungguhnya) “Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam itu adalah mahluk paling mega super benar-benar sangat Ruaaaaaaaaa…r biasa sekali!!!”. Terakhir, saya mengambil sebuah hadits yang dikutip oleh Jalaluddin As-Suyuti ketika beliau menjelaskan surat al-Baqoroh ayat 37:

‘Rosulullah bersabda: “ketika Adam berbuat kesalahan yang dilakukannya itu, ia mengangkat kepalanya keatas dan berkata, “Aku memohon demi hak Muhammad, ampunilah aku”. Maka kemudian Alloh Swt mewahyukan kepadanya: “Siapa Muhammad itu?”. Adam menjawab: “Maha mulia asma-Mu, dan disitu tertulis Laailaaha illa allah, Muhammadar rosulalloh. Maka tahulah aku bahwa tidak seorangpun lebih besar kedudukannya dihadapan-Mu selain orang yang namanya bersama nama-Mu. Kemudian Alloh Swt mewahyukan kepadanya: “Hai Adam, sesungguhnya ia adalah Nabi yang terakhir dari keturunanmu. Kalau bukan karena dia, aku tidak akan menciptakanmu”.

8 Tanggapan to this post.

  1. sedikit menyela, saya juga membatalkan hadist bukori di atas, kita pakai anugerah yang di berikan Alloh kepada hamba-hambaNYA, yaitu akal. dalam Qur’an 3:159
    “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu . Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
    dari ayat tersebut jelas, nabi Muhammad yang lembut tidak akan meludah, karena secara biologis meludah merasakan hal kurang nyaman. atau tindakan meludah di depan atau tempat umum adalah tidak sopan, bahkan orangx kafir (barat)pun melarang meludah di depan umum.
    saya petik lagi Qur’an 2:165
    Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa , bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya.
    hadist-hadist banyak yang mengagungkan nabi sangat melampui batas. sehingga tanpa sadar telah mensejajarkan tuhan dengan nabi.
    contoh lazim adalah pemasangan lafas Alloh dan Muhammad yang disejajarkan.
    kalau kita merefer Qur’an 112:4
    “dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia”.
    apakah pemasangan lafas tersebut tidak menentang ayat tersebut?
    setara=sejajar=selevel=sederajat=sama kemampuan=sebandingkan dll
    kita umat Islam tidak pernah memakai akal, padahal dalam firmanNYA :
    10:100 “Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.”
    banyak sekali hadist justru secara tersirat sangat menghina nabi,dan bertentangan dengan Qur’an.
    dan kita tanpa sadar dan tanpa filter melegitimasi hadist-hadist tersebut. apa sih sebenarnya tujuan hadist yang mengagungkan nabi dengan sangat melampaui batas? tidak lain hanya akan menyimpangkan manusia dari jalan “LURUS”.dan penyekutuan terhadap ALLOH itu adalah misi iblis sejak terusir dari sorga.
    pada intinya ajaran nabi-nabi Alloh adalah sama yaitu menegakkan kalimat tauhid” LAAILAAHA ILLA ALLAH”.titik. tanpa harus menyebut nama nabinya.
    tahukah saudara bagaimana membunuh ajaran nabi?
    yaitu dengan “AJARAN YANG MENGATASNAMAKAN NABI (hadist)”

    salam…
    #im…

    Balas

  2. Posted by luthfis on April 10, 2008 at 1:05 pm

    ukhty… lantas untuk apa gunanay Hadits? kita diberikan al-Quran dan Assunnah… maka pakailah ini, jangan menyalahi dengan nash. kalau anda memang merasa orang yang ‘pinter’, sehingga anda jauh lebih tahu soal agama melebihi Rosulullah, ahlulbaitnya dan para sahabat terpilih, ya silahkan saja….

    tapi saya tetap berkeyakinan ketika rosul sepereti itu, maka itu otomatis mejadi hukum….

    NB: kita memang diberi akal, tapi akal itu bukan untuk menafikan Nash, justru untuk menguatkannya dan untuk memahaminya. janganlah kita meletakan akal diatas Nash… karena akal itu terbatas.

    Balas

  3. nabi banyak memberi petuah dan contoh positif, itulah sunnah beliau…bahkan Alloh pun telah berfirman tentang akhlak beliau, demikian juga Alloh berfirman jikalau nabi melenceng dari Qur’an. (69:44-48)
    “Seandainya dia mengadakan sebagian perkataan atas Kami,”
    “niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya .”
    “Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya.”
    “Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi , dari pemotongan urat nadi itu.”
    “Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.”
    apakah umat Islam gak memahami ayat-ayat ini?
    tak ada manusia di jaman nabi atau pun masa yang akan datang yang lebih paham Qur’an daripada nabi.kenapa hadist -hadist yang diriwayatkan oleh yang mengaku-ngaku dengar atau sebagai sahabatnya justru melampaui nabi dan Qur’an?
    sebagai contoh ” hadist penajisan anjing” atas dasar apa dan refer kemana hadist ini? sehingga di yakini oleh kebanyakan umat Islam. padahal kalau kita kembali ke Qur’an kita akan dapati firman Alloh (5:4)
    “Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu . Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu , dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu . Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya.”
    lalu kenapa anjing diperlakukan lebih rendah dari makhluk yang haram? bukankah dengan meyakini hadist tersebut umat muslim menjadi salah satu pengingkar ayat Qur’an?
    so apakah saudara-saudara kita itu memakai akalnya?
    akal adalah anugrah tertinggi yang di berikankan Alloh kepada hamba-hambaNYA. akal kita memang sangat terbatas, tapi akal inilah sebagai pembeda antara yang hak dan batil dan sebagai media untuk kita berhubungan denganNYA. akal kita tak akan mampu menggapai kuasaNYA, namun dengan akal inilah kita bisa mengetahui dan merasakan ExistensiNYA dan sebagai benteng untuk tetap mempertahankan dan mengaplikasikan “AJARAN NABI” yang telah banyak di bunuh oleh “AJARAN YANG MENGATASNAMAKAN NABI (hadist)”

    salam…
    #im…

    Balas

  4. Posted by maful on Agustus 20, 2008 at 6:32 am

    biasa atau tidak sekiranya tidak menjadi masalah, yang jelas kita sepakat muhammad adalah rosullullah, mengenai yang muhammad sebagai manusia biasa ya benar juga, dia manusia, juga diberi sifat kemanusiaan, muhammad sebagi rosul juga diberi sifat kerasulan, laa ini yang perlu kita lihat, bahwa kita dan nabi muhammad dalam sifat kemanusiaan ya sama-sama manusianya, hanya ada hal-hal positif yang mungkin kita tidak bisa lakukan seperti dia wajarkan ….., la mengenai sifat kerasulan maka secara mutlak kita tidak bisa mendapatkannya karena muhammad adalah rasul penutup, jangan mempersulit hal-hal yang gampang, mari kita perkuat saja hal-hal yang gampang tersebut, seperti tidak mempermasalahkan dia manusia biasa atau tidak, yang penting ” muhammad adalah manusia utusan ALLAH SWT” maaf ya jika pendapat salah

    Balas

  5. salam kenal….
    saya hanya sedikit menambahkan….kita refer ke Qur’an…”Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu , tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”(33:40)
    jadi kenabian sudah ditutup oleh Nabi Muhammad, tetapi rosul tidak, jadi ada perbedaan antara rosul dengan nabi. jangan dibiaskan mana yang telah di tutup dan mana yang terus berlanjut….Nabi adalah gelar tertinggi untuk manusia pilihan….

    Balas

  6. Posted by luthfis on November 10, 2008 at 5:24 am

    Contoh Rosul zaman ini siapa?
    bedanya Rosul sama Nabi?

    Balas

  7. Posted by denny on Juni 18, 2009 at 4:13 pm

    Salam…..

    yang jelas begini, pada zaman nabi masih hidup, di bumi ini terdapan jutaan, ratusan juta bahkan mungkin miliaran manusia, muncullah sebuah nama Muhammad, satu-satunya manusia yang dizaman itu bernama Muhammad. jika beliau adalah manusia biasa, ( ini pertanyaan untuk orang yg mengira Nabi Muhammad adalah manusia biasa ) kenapa? harus beliau yang diutus? bukankah manusia biasa juga banyak di zaman itu? coba jelaskan?

    Aku bersaksi Bahwa dari lahir sampai wafatnya nabi semua adalah KEAJAIBAN ( bacalah sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAWW )

    Balas

  8. sorry ya om Luthfi, itu pan hadith bathil Om ^^

    Balas

Tanggapi posting ini