Menyikapi Kasus Ahmadiyah

Oleh: Luthfi Seli Fauzi

 

            Beberapa tahun yang lalu tepatnya beberapa hari setelah hari raya ‘Idul Fitri, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan kehidupan dan suasana hari ‘Idul Fitri yang dialami oleh para anggota Ahmadiyah di tempat pengungsian (lebih tepatnya pengasingan) setelah sebelumnya mereka diusir dari kampung halaman mereka karena keyakinan mereka yang dianggap menyimpang. Jujur, saya pribadi menyaksikan tayangan tersebut merasa terharu, sedih, marah, dan bingung.

            Bagaimana rumah mereka dihancurkan, bagaimana mereka diusir dari tempat kelahirannya, bagaimana anak-anak mereka dijauhi oleh teman-temannya, bagaimana diri mereka dihakimi secara tidak adil layaknya penjahat, dan berbagai perlakuan yang menurut saya sangat tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Jujur, saya meneteskan air mata ketika melihat mereka tinggal di tempat pengasingan yang kumuh, mereka merayakan ‘idul fitri dengan kesedihan, tak ada baju baru, tak ada makanan enak, bahkan untuk tidur saja antar keluarga hanya dipisah oleh sekat kain sarung. Saya tanpa sadar meneteskan air mata dan marah ketika sebuah rumah dilempari batu, sedangkan didalam rumah tersebut berbaring seorang nenek tua yang sudah tidak bisa berjalan. Karena apa ia diperlakukan seperti itu? Hanya karena dia pengikut Ahmadiyah!

            Tunggu dulu! Saya memaparkan kisah ini bukan berarti saya pro Ahmadiyah, bukan berarti saya membela ajaran Ahmadiyah, apalagi meyakininya (Nauzhubillahi min dzalik). Saya pribadi sangat tidak setuju sekali dengan ajaran Ahmadiyah, saya juga tidak setuju kalau Ahmadiyah dikategorikan sebagai Muslim (sebagaimana fatwa Imam Khomeini yang menyatakan bahwa Ahmadiyah telah murtad), tapi ada satu hal yang harus kita ingat bahwa para pengikut Ahmadiyah adalah juga manusia. Jadi perlu saya tekankan bahwa saya tidak membela ajaran Ahmadiyah, tapi saya membela pengikut Ahmadiyah.

            Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebab tindakan kekerasan yang dialamatkan kepada pengikut Ahmadiyah dikarenakan ajaran mereka yang telah menyimpang jauh dari ajaran pokok Islam namun tetap membawa embel-embel Islam, ditambah lagi sikap keberagamaan mereka yang sangat eksklusif (saya sendiri dulu mempunyai kawan orang Ahmadiyah dan saking eksklusifnya mereka tidak mau sholat berjamaah kecuali kalau dia sendiri atau pengikut Ahmadiyah lain yang menjadi Imam). Pola penyebaran gerakan Ahmadiyah yang mirip misionaris kristenpun menjadi faktor penyebab banyaknya konflik diberbagai daerah. Tapi permasalahannya adalah apakah betul membendung arus Ahmadiyah dengan kekerasan? Inilah inti masalahnya.

            Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, justru malah menambah masalah baru, yang terpenting sekarang adalah bagaimana agar orang yang sudah terlanjur menjadi pengikut Ahmadiyah dapat kembali kepada Islam, tentunya bukan dengan paksaan apalagi penyiksaan tapi dengan dialog, dari hati kehati.

Keyakinan adalah masalah hati, bukan materi. Masalah keyakinan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dirubah, semudah membalikan telapak tangan. Saya yakin seandainya orang-orang Ahmadiyah dibantai, tetap saja mereka tidak akan bergeming dari keyakinan yang dianutnya atau kalaulah ada yang secara lisan mengaku bertaubat, tetap saja hati mereka tidak bisa berbohong, jauh dilubuk hati mereka Ahmadiyah adalah kebenaran.

            Mengenai pembubaran organisasi Ahmadiyah, saya sendiri masih ragu. Karena walau bagaimanapun, semakin Ahmadiyah ditekan justru malah akan semakin berkembang, dan yang perlu diingat adalah bahwa gerakan Ahmadiyah ini bukanlah gerakan yang bersifat Nasional tapi Internasional sehingga sia-sia saja membubarkan mereka di Indonesia tapi gerakan Internasional tetap kuat (Apalagi Ahmadiyah didukung oleh Amerika, Inggris, Kanada, dan negara Eropa lainnya). Dampak pembubaran ini juga sangat besar, dan dapat menimbulkan aksi kekerasan yang semakin menjadi-jadi, yang pada akhirnya citra Islam yang dipertaruhkan.

            Pembubaran Organisasi Ahmadiyah, harus dibarengi dengan fatwa mutlak mengenai tidak bolehnya melakukan tindakan anarkisme terhadap para pengikut Ahmadiyah beserta asetnya. Disinilah peran MUI sebagai lembaga yang menaungi Ormas-ormas Islam di Indonesia. MUI harus tegas menangani tindakan kekerasan ini karena diakui atau tidak MUI juga ikut menyumbang dalam tindakan anarkisme terhadap pengikut Ahmadiyah melalui fatwa yang dikeluarkannya. Begitu pula dengan PAKEM dan kepolisian, semua harus bertanggung jawab terhadap keselamatan warga Ahmadiyah.

            Saya meyakini selama seseorang berikrar bahwa tiada tuhan selain Alloh dan meyakini Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam sebagai Nabi terakhir, maka ia adalah muslim. Jika seseorang keluar dari garis tersebut, maka tercabutlah hak-haknya sebagai seorang Muslim, namun walaupun begitu ia tetap mempunyai hak sebagai seorang manusia. Kalau memang Ahmadiyah bukan muslim, lantas apa hak kita untuk merampas hak mereka sebagai seorang manusia? Atau dalam sebuah jawaban yang diberikan Rosulullah kepada sahabatnya yang protes karena Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam menghormati mayat orang yahudi beliau berkata: “Bukankah ia juga manusia?”. Kalau kita transformasikan ucapan Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam tersebut kepada kasus Ahmadiyah, saya akan berkata: “Bukankah Ahmadiyah juga manusia?”.

Kita harus bijak menyikapi kasus Ahmadiyah ini. Kita harus menempatkan diri kita sebagai orang yang netral, kita harus bisa melihat tidak hanya dari sudut pandang kita sebagai seorang muslim, tapi kita juga harus melihat masalah ini dari sudut pandang Ahmadiyah sendiri. Kita bukanlah Tuhan yang berhak menghakimi keyakinan seseorang, kita hanyalah manusia biasa yang mencoba memahami realitas yang ada, dan tentu saja realitas yang terlihat oleh kita akan dipahami secara berbeda pula oleh setiap orang. Oleh karena itu gunakanlah kacamata universal untuk melihat realitas yang ada, kacamata kemanusiaan.

           

 

3 Tanggapan to this post.

  1. Bagaimana Ahmadiyah bisa binasa? Ahmadiyah akan hancur binasa dengan sendirinya bahkan walau tanpa bantuan kita sekalipun. Karena seseorang atau golongan yang menyatakan mereka berasal dari Allah maka urusan mereka tentu adalah kepada Allah. Jika pernyataan mereka dusta tentu mereka tidak akan bertahan dan tentu tidak akan berkembang, sebaliknya jika Ahmadiyah atau pernyataan ghulam Ahmad adalah benar di mata Allah tentu batapapun semua berhimpun hendak menghancurkan maka tidak akan ada yang menghacurkan, karena ada kekuatan Allah di belakangnya.

    Bagaimana bisa demikian??

    Terhadap hal yang pertama Allah telah menekankan bahwa tidak akan mendapat petunjuk kepada para pendusta. Kita mendapati dalam Alquran syarif:

    “Jika engkau (Muhammad) sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya dan mereka tidak memperoleh penolong”.(An-nahl: 37)

    “Sesungguhnya orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah tidak akan beruntung, sukses”. (An-Nahl: 116)

    ”…celakalah kamu! Janganlah kamu mangada-adakan kebohongan terhadap Allah, nanti Dia membinasakan kamu dengan azab”. Dan sungguh rugi orang yang mengada-ada kan kebohongan.” (Tho-ha: 61)

    “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang-orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang zalim itu tidak mendapat keberuntungan” (Al-An’am:22).

    Terhadap Rasulullah sendiri-untuk meyakinkan para pengingkar-Allah taala menekankan bahwa:

    “Dan seandainya dia (Muhammad saw) mengadakan sebagian dari perkataan atas nama Kami, niscaya Kami pegang tangan kanannya, kemudian kami potong urat jantungnya”. (Al Haaqqoh:44-46).

    sebaliknya adalah kita bisa melihat lagi bahwa suatu yang berasal dari Allah taala maka Allah sendiri yang akan menjadi penolong dan pelindung mereka. Setidaknya kisah-kisah para nabi telah membuktikan hal ini. Allah taala befirman dalam Q.S. Al Mujadilah[58]:21 bahwa “Allah telah menetapkan bahwa Aku dan pesan Ku pasti akan menang”. Nah kalau Allah akan menang maka tak ada satupun yang akan dapat menghancurkan suatu gerakan yang berasal dari Tuhan. Selanjutnya kita baca dalam surah Yunus ayat 103 “kemudian akan kami selamatkan rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah kewajiban kamilah untuk menyelamatkan orang-orang beriman”.

    Pada tempat lain kita baca “Adalah kewajiban Kami untuk menolong orang-orang beriman” (Ar-Rum[30]:47). Dan lagi pada surah Al-mujadilah[58] ayat 22 terdapat “…mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah tealh menguatkan meereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun Ridho kepadaNya. Merekalah Golongan Allah. Ingatlah sesungguhnya golongan Allah itulah yang menang.” Demikian pula dalam surah Al-maidah[5]:56, “Dan mereka yang mengambil Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai kawan haruslah yakin bahwa adalah golongan/partai Allah yang akan memperoleh kemenangan”.

    Nah dari dua batu ujian ini, mari kita kaitkan terhadap Ahmadiyah. Dasar pokok masalah ini adalah bahwa Ahmadiyah meyakini bahwa setiap pengkuan yang dikemukakan oleh Ghulam Ahmad mempunyai dasar yang teguh. Ahmadiyah berpendapat bahwa Ghulam Ahmad mendapat wahyu, diperintahkan oleh Tuhan untuk mewujudkan kebangkitan kembali Islam dan kemenangannya atas semua agama. ringkasnya Demikianlah keadaannya. Nah sekarang kita perhatikan dari pernyataan ini hanya ada dua sifat, benar atau salah/palsu. Sekarang kita perhatikan kalau Ahmadiyah memang palsu-berdasarkan ayat-ayat diatas yang telah kita baca bersama-maka tentu Ahmadiyah dengan sendirinya akan runtuh bak bangunan yang tergerus oleh waktu atau seperti bangunan yang roboh oleh bebannya sendiri karena tiadanya penopang yang kuat, takkan bertahan. Tetapi jika sebaliknya bahwa ternyata Ahmadiyah benar, jika Ghulam Ahmad memang diutus Allah maka kebalikannya dari ayat-ayat diatas tentu Ahmadiyah akan bertahan dan berkembang, kendati semua berhimpun berniat menghancurkannya dia akan tetap lestari, karena di belakangnya bekerja kekuatan Sang Pemilik Segala Kekuatan. Sejarah para utusan Ilahi terdahulu telah meyakinkah kita atas hal ini, karena dibalik mereka Allah taala berada sebagai penopang mereka.

    Disini saya ketengahkan tulisan Ghulam Ahmad mengenai permasalahan ini semoga bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua.

    “….jika saya ini pendusta dan dajjal, maka bersabarlah kalian. Allah taala berfirman: “Dan jika dia pendusta, maka dialah yang menanggung kedustaannya itu, dan jika dia seorang yang benar, niscaya sebagian yang diancamkannya itu akan menimpa kalian” (Al-Mu’min[40]:28). Sejak dunia ini diciptakan, tidak pernah secara kebetulan terjadi bahwa Allah taala telah mendukung seorang pendusta lalu memberi kekalahan pada orang-orang yang benar. Di Zaman Rasulullah saw juga terdapat pendakwa-pendakwa ilham yang menentang beliau. Dan mereka meyakini bahwa Rasulullah saw sebagai pendusta. Musailamah al-Kadzdzab juga salah seorang diantaranya.

    Jika yang menjadi patokan adalah Qaol (Firman/wahyu), maka keraguan masih akan tetap ada. Namun, akhirnya fi’il (perbuatan) ilahi lah yang memberi keputusan. Lihat sekarang sangkala agama siapa yang bersinar-sinar? Seseorang yang berasal dari Allah taala kepadanya diberikan berkat. Dia akan maju berkembang, dan berbuah. Dia akan memperoleh kemenangan atas musuh-musuhnnya. Namun sesorang yang bukan berasal dari Allah taala permisalannya seperti busa yang dengan sangat cepat akan habis. Tidak ada orang yang dapat menipu Allah taala. Seseorang yang landasan pijakannya adalah takwa, dan dia memiliki hubungan-hubungan dengan Allah taala, maka dialah yang akan memperoleh pertolongan.

    Hal ini tidak hanya terjadi pada diri saya, yakni pada masa ini para penerima ilham lainnya menyatakan saya sebagai pendusta. Bahkan di zaman Isa a.s. Dan Musa a.s. Juga terdapat orang-orang demikian. Dan mereka mendustakan para nabi tersebut. Orang-orang bijak pandai pada zaman itu telah memberi keputusan demikian, yakni barangsiapa yang benar maka upaya-upayanya akan beberkat.

    Jadi, sekarang, tidak tampak cara pengambilan keputusan lain kecuali yang satu ini. Yakni jika di dalam Qaol (Firman/wahyu) terdapat pertentangan, maka perhatikanlah fi’il (perbuatan/sikap ilahi) …Seorang juru pungut pajak palsu tidak akan dapat memperoleh kehormatan dari pemerintah, dan dia pasti akan ditangkap. Lalu bagaimana mungkin seorang yang mengadakan dusta terhadap Allah bisa menjadi orang yang dicintai oleh-Nya? Dan orang yang seperti ini tidak akan pernah memperoleh dukungan dari-Nya. Jika penghomatan terhadap orang yang benar itu sama saja seperti yang diberikan kepada orang yang dusta maka kedamaian akan lenyap dari dunia ini.

    Jadi ingatlah, keraguan yang timbul dari masalah qaol dapat dihapuskan melalui fiil. Janji-janji yang diberikan oleh Allah taala kepada saya telah tercantum 25 atau 30 tahun lalu di dalam buku Barahin Ahmadiyah. Dan banyak sekali yang sudah terbukti sempurna. Sedangkan yang belum, jika kalian mau, nantikanlah.

    Dalam ilham, juga memang bisa terdapat campur tangan setan, sebagaimana hal itu diketahui dari Quran syarif. Namun seseorang yang berada dalam pengaruh setan tidak pernah memperoleh pertolongan. Pertolongan justru selalu diraih oleh orang yang berada di bawah naungan Sang Rahmaan. Saya Melalui lidah saya tidak mengatakan seseorang sebagai pendusta. Tatkala wahyu setaniah juga bisa terjadi, maka mungkin saja seseorang yang sangat lugu dapat terkecoh. Oleh karena itu saya menerapakan sertifikat fiil Ilahi.

    Rasulullah saw juga memaparkan hal itu. Allah taala banyak sekali menjadikan fiil itu sebagai landasan.”dan sekiranya dia (Muhammad) mengadakan sebagian dari perkataan atas nama kami, niscaya kami pegang tangan kanannya, kemudian kami potong urat jantungnya” (Al-Haqqoh:44-46). Disitu juga dipaparkan mengenai fiil ilahi.

    Jadi tatkala ini merupakan suatu cara yang disunnahkan, maka mengapa menghindar dari hal ini?
    Saya berada dihadapan orang-orang. Jika saya melakukan hal-hal ini berasakan pada kedustaaan, maka Allah taala akan membinasakan saya dengan satu azab sedemikian rupa sehingga orang-orang akan dapat mengambil pelajaran dari situ. Dan jika ini berasal dari Allah taala dan memang pasti dari Allah taala, maka orang-orang lain akan menjadi binasa. (Malfudzat, Add. Nazir Isyaat, London, 1984, jil.7, hal.304-306/MI 18.05.2001).

    Kemudian Mirza Ghulam Ahmad berkata:

    “Ingatlah siapa saja yang melawan saya, dia tidak melawan saya melainkan dia melawan Wujud yang telah mengutus saya. ..saya pastikan kepada kalian, jika jemaat saya ini bukan berasal dari Allah maka ia akan hancur begitu saja tidak peduli apakah ada yang menentangnya atau tidak. Sebab Allah taala sendiri telah berfirman ” Qod Khooba maniftaroo- (sungguh rugi orang yang mengada-ada ” (Tho haa:61) dan Dia berfirman: “”waman azlamu mim maniftaraoo ‘alallahil kaziba au kazaba bi aayatihii innahu laa yuflihuzh-zhoolimuun- dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang-orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang zalim itu tidak mendapat keberuntungan” (Al-An’am:22). Yakni orang yang malam hari mengatakan lain, sedangkan di siang hari dia menagatakan yang lain lagi kepada orang-orang bahwa, “Tuhan telah mengatakan ini dan itu kepada saya,” bagaimana mungkin dia dapat berhasil dan berjaya. Allah taala telah berfirman kepada Rasulullah saw : “wa law taqowwala ‘alaina ba’dhol aqoowil, laakhodzna minhu bil yamiin tsumma laqotho’na minhul watiin- dan seandainya dia (muhammad saw) mengadakan sebagian dari perkataan atas nama kami, niscaya kami pegang tangan kanannya, kemudian kami potong urat jantungnya’ (Al haaqoh:45-47). Tatkala bagi seorang yang begitu besar sekali pun telah diberikan firman yag seperti ini, maka bagi manusia yang rendah, yang diperlukan hanyalah sebilah pisau kecil, dan tentu sudah diambil keputusan mengenai orang itu jauh sebelumnya. (Malfudzat, Add. Nazir Isyaat, London, 1984, jil.10, h.425-426/Mi 07.10.2000)
    “Allah taala belum lagi menghabiskan bantuan-bantuan dan tanda-tanda-Nya, dan aku bersumpah atas nama Zat-Nya bahwa Dia tidak akan berhenti selagi belum menampakkan kebesaranku kepada dunia. Wahai manusia, bilamana kalian dapat mendengar seruanku, takutlah kepada Tuhan dan janganlah melampaui batas, sebab jika ini rencana manusia maka tentu Tuhan akan membinasakanku dan tidak ada lagi peninggalan-peninggalan dari pekerjaan-pekerjaanku yang tersiasa. Tapi kami telah menyaksikannya bahwa betapa pertolongan Tuhan telah menyertaiku dan betapa banyak tanda-tanda telah diturunkan yang tak terhitung jumlahnya. Cobalah perhatikan, berapa banyak musuh-musuh telah binasa karena bermubahalah denganku. Wahai hamba Tuhan berpikirlah sejenak apakah Tuhan akan memperlakukan seperti ini terhadap orang-orang yag berdusta? (Darsus no 32 9-8-90 khutbah tgl 18-5-90 di masjid fadl London)

    Beliau juga berkata:

    “….jika ini semua merupakan upaya-upaya manusia, maka sudah lama jemaat ini hancur. Kepada Rasulullah saw Allah taala berfirman: “Jika orang-orang ini mengadakan dusta atas kami , maka kami akan memotong urat jantung mereka.” Lalu apa sebabnya kalau saya ini seorang pendusta dan tidak hanya bertahan singkat melainkan telah mendekati masa 30 tahun dimana saya selalu memperdengarkan kepada orang-orang wahyu-wahyu yang berasal dari-Nya? Dan Allah juga tahu bahwa jika saya ini dusta tetapi Dia tetap saja mendukung saya dan tidak membinasakan saya? Tuhan yang bagaimana Allah itu, yakni yang setuju terhadap seorang pendusta? Justru Dia memperlihatkan ribuan tanda untuk mendukung si pendusta?-Alat transportsi baru telah Allah keluarkan untuknya, Gerhana bulan dan matahari juga telah Dia jadikan di satu bulan Ramadhan untuknya, wabah pes juga ia telah kirimkan – seolah-olah Allah itu dengan sengaja telah mengelabui. Dan tugas yang seharusnya dilakukan Dajjal, ternyata Allah sendiri yang melakukannya, yakni menghancurkan manusia? (Na’udzubillah min dzalik)

    Pikirkanlah sedikit apakah hal itu dapat dibenarakan pada Allah taala bahwa Dia memberi bantuan begitu besar terhadap seorang pendusta dan Dajjal? Sedangkan para ulama yang mengangap diri mereka dekat dengan Allah, ternyata doa-doa mereka tidak dikabulkan oleh Allah?

    Peperangan yang dilakukan orang-orang terhadap diri saya, sebenarnya tidaklah terhadap diri saya, melainkan terhadap Allah, saya bukanlah sesutu yang berarti sedikit pun. Orang yang berperang melawan Allah tidak akan pernah beberakat. Saya saja takut dan gemetar ketika mengatakan bahwa ada pendusta tetapi Allah taala tetap saja diam tidak berbuat apa-apa. Jika menurut orang-orang itu apa yang saya dakwakan ini merupakan suatu kedustaaan maka hendaknya mereka berdoa supaya Allah menghacurkan saya. Atau berdoa, supaya mereka dapat menurunkan Almasih dari langit.

    Para peneliti di kalangan Kristen juga akhirnya penat mengenai kedatangan Almasih dari langit dan setelah menyaksikan bahwa jangka masa yang diperhitungkan itu telah lewat maka mereka telah memutuskan agar gereja saja sebagai Almasih. [ternyata] mereka pun akhirnya terpaksa mengartikan kata ‘turun secara kiasan.

    Hadits-hadits dengan suara tinggi meneriakkan bahwa segenap khalifah akan berasal dari umat [islam ] ini juga. Quran syarif juga berkata demikian. Dan di semua tempat terdapat kata “minkum”- dari antara kalian”. Namun tidak diketahui dari mana sampai mereka mengatakan “min bani israooil – dari antara bani Israel”.

    Bukankah itu suatu tanda bahwa saya tidak memiliki juru propaganda dan tidak pula juru pidato akan tetapi kemajuan terus saja berlangsung, hadanglah jika mereka memiliki kekuatan, silahkan halangi. Allah taala sendiri terus menggiring orang-orang kesini. Dari Mesir datang permohonan untuk bai’at. Di Eropa terjadi pergerakan. Di Amerika juga terjadi pergerakan…..” (Malfudzat, Add. Nazir Isyaat, London, 1984, jil.7, h.142-146/MI 05-08.05.2001)

    Beliau gambaran terhadap pendakwaan beliau, ghulam Ahmad berkata:

    “Siapa yang bisa membayangkan sebelumnya bahwa ketika menanam seperti biji sawi kemudian ribuan kaki telah menginjak-injak dan diterjang angin badai serta topan kemudian diterjang oleh air bah yang gemuruh, namun akan tetap terhindar dari bencana. Dengan karunia Tuhan tunas itu tidak sia-sia bahkan semakin hari bertambah besar dan berkembang. (tunas itu) Sekarang sudah menjadi sebuah pohon besar yang dibawahnya berteduh ratusan ribu manusia.”(Darsus no 32 9-8-90 khutbah tgl 18-5-90 di masjid fadl London)

    Sebagai nasihat terakhir yang diutujukan kepada kaum ulama, yakni ulama-ulama yang telah mewakafkan hidupnya untuk menghapus Ahmadiyah hingga sekarang. Mirza Ghulam Ahmad bersabda:

    “Saya kemukakan beberapa nasihat kepada kaum ulama, bahwa mencaci maki dan mengeluarkan kata-kata kotor adalah bertentangan dengan sikap terpuji. Kalau itu memang cara yang ditempuh mereka, terserah mereka. Tetapi kalau mereka mencap saya pendusta itu pun hak mereka untuk berkumpul di mesjid atau sendiri-sendiri dan mendoakan buruk untukku dan dengan penuh isak tangis memohonkan kehancuranku…yakni daripada mencerca, memfitnah, berpropaganda yang berlebih-lebihan sebagaimana yang mereka lakukan, saya menyarankan satu cara yaitu sekiranya mereka beriman kepada Allah dan demi Dia mereka bermusuhan, kenapa mereka tidak memilih jalan doa? Daripada berkeliaran ke lorong-lorong dan mendatangi rumah-rumah untuk menyulut kerusuhan, lebih baik memasuki masjid dan bersujud di singgasana-nya serta mintalah: ‘wahai Tuhan! Orang ini seorang yang zalim, yang mendirikan sebuah jamaah yang zalim. Orang-orang yang engkau anggap musuh adalah musuh kami juga demi engkau. Oleh karena itu tolonglah kami dan untuk menghadapuskan orang ini kerahkanlah kekuatan langit, karena tindakan di bumi senantiasa mengalami kegagalan’. Dengan kata-kata seperti inilah harus mereka panjatkan memohonkan kebinasaan, yakni mendoakan untuk kesudahanku selamanya…lalu sekiranya aku pendusata doa mereka pasti terkabul dan senantiasa kalian memanjatkan doa. (Darsus no 32 9-8-90 khutbah tgl 18-5-90 di masjid fadl London)

    Demikianlah, bahwa kita seharusnya mengenai masalah ghaib hendaknya kita serahkan juga kepada sang ‘‘Alimul Ghoiib-Sang Maha Ghaib Yang Maha Mengetahui. Kalau dalam pandangan manusia segala penjelasan belum juga mengerti kita serahkan kepada Yang Maha Mengerti, kita tanyakan langsung dan berdoa pula secara langsung.

    Balas

  2. Posted by falah1 on Oktober 30, 2008 at 3:44 am

    peringatan suda di berikan tapi gimana faktanya????? jujur aja secra manusia ada rasa kasian, tetapi dengan kebandelan mereka yang lebih memilih kekafiran mereka. Secara aqidah mereka kafir. Kalo ane lebih melihat saudara2 kita yang ada di dunia lain seperti palestina, irak dan lain2. yang sama2 menderita dari pada Ahmadiyah.

    Balas

  3. Posted by luthfis on November 10, 2008 at 5:36 am

    Alloh telah memberi pilihan Iman atau Kafir….

    jadi terserah Ahmadiyah mau kafir….
    itu hak mereka….
    tugas kita hanya menginagtkan!

    Balas

Tanggapi posting ini