<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://luthfis.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://luthfis.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 05 Nov 2009 04:44:32 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='luthfis.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/8e02f222cecfda3be81b25403c3c4c02?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title></title>
		<link>http://luthfis.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title></title>
		<link>http://luthfis.wordpress.com/2009/02/20/164/</link>
		<comments>http://luthfis.wordpress.com/2009/02/20/164/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Feb 2009 08:04:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthfis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthfis.wordpress.com/2009/02/20/164/</guid>
		<description><![CDATA[
Benarkah berita tentang kiamat 2012. Sebenarnya informasi tentang kiamat 2012 ada dalam buku ‘Apocalypse 2012’ (Lawrence E.Joseph: 2007), penulis berdarah Lebanon yang menjabat sebagai Ketua Dewan Direksi Aerospace Consulting Corporation di New Mexico ini dipaparkan dengan sangat jelas dan juga ilmiah tentang kemungkinan terjadinya bencana alam di tahun tersebut.
Bencana itu antara lain: siklus aktivitas matahari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=164&subd=luthfis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://support.wordpress.com/advertising/"><img class="alignnone size-full wp-image-165" title="3 m" src="http://luthfis.files.wordpress.com/2009/02/3-m.png?w=500&#038;h=75" alt="3 m" width="500" height="75" /></a></p>
<p>Benarkah berita tentang kiamat 2012. Sebenarnya informasi tentang kiamat 2012 ada dalam buku ‘Apocalypse 2012’ (Lawrence E.Joseph: 2007), penulis berdarah Lebanon yang menjabat sebagai Ketua Dewan Direksi Aerospace Consulting Corporation di New Mexico ini dipaparkan dengan sangat jelas dan juga ilmiah tentang kemungkinan terjadinya bencana alam di tahun tersebut.</p>
<p>Bencana itu antara lain: siklus aktivitas matahari yang memuncak di tahun 2012 yang menyebabkan panas yang luar biasa di bumi, terlebih atmosfer kita sudah mengalami penipisan dan bolong di beberapa bagian sehingga selain memanaskan bumi dengan radikal juga melelehkan es di kutub dan juga menimbulkan badai serta topan yang dahsyat.</p>
<p>Medan magnet bumi yang berfungsi sebagai pertahanan utama bumi terhadap radiasi sinar matahari mulai retak bahkan ada yang sampai sebesar kota California di sana-sini. Pergeseran kutub juga tengah berlangsung.</p>
<p>Tata surya kita tengah memasuki medan awan energi antar bintang. Awan itu mengaktifkan dan merusak keseimbangan matahari serta atmosfer planet-planet. Para ahli geofisika Rusia berpendapat bahwa ketika bumi akan memasuki awan energi tersebut di tahun 20120 hingga 2020 dan akan menimbulkan bencana besar yang belum pernah ada sebelumnya.</p>
<p>Fisikawan UC Berkeley menyatakan dinosaurus serta spesies lainnya telah punah akibat tumbukan asteroid raksasa 65 juta tahun silam. Menurut siklus yang diperhitungkan secara ilmiah, seharusnya hal itu sudah terjadi lagi di saat-saat sekarang.</p>
<p>Supervulkan Yellowstone yang memiliki siklus letusan dahsyat setiap 600 hingga 700 ribu tahun tengah bersiap untuk meletus kembali. Beberapa perhitunmgan ilmiah lainnya turut mendukung pandangan ini.</p>
<p>Menariknya, ramalan bangsa Maya (juga suku Hopi, Mesir Kuno, dan beberapa suku kuno lainnya) di dalam kalendernya dengan detil mengungkapkan jika tahun 2012 merupakan akhir sekaligus awal zaman baru. Bagaikan kelahiran seorang anak manusia, maka kelahiran zaman baru ini akan dipenuhi dengan darah. Suku Maya merupakan salah satu suku kuno di dunia ini yang dikenal sebagai suku yang sangat detil memperhatikan dan menghitung bintang-bintang dan benda langit lainnya.</p>
<p>Kitab kuno dari Cina, I Ching, juga menyatakan akan terjadi bencana besar di tahun 2012.</p>
<p>Beberapa ativitas modern juga terkait dengan tahun 2012, yakni dateline modernisasi besar-besaran Pentagon paska ditubruk rudal dalam peristiwa 11 September 2001, batas akhir pelaksanaan Codex Alimentarius yang berupaya mengurangi populasi manusia di bumi dengan rekayasa genetika dan makanan transgenik, dan sebagainya.</p>
<p>Seorang tokoh spiritual Yahudi dunia bernama Titzchak Qadduri jauh-jauh hari sudah menyerukan kaum Yahudi agar sesegera mungkin meninggalkan daratan Amerika Serikat karena menurut perhitungannya, sebuah komet atau asteroid raksasa tengah meluncur di alam semesta dan mengarah serta akan menumbuk menuju daratan Amerika.</p>
<p>Akan tetepi semua itu merupakan ramalan-ramalan para pakar di bidangnya masing-masing.Menurut Islam, kiamat adalah hal yang tidak bisa dihindarkan. Hanya saja, kita tidak akan pernah tahu kapan pastinya akan terjadi. Bisa dua jam lagi, bisa besok, atau entah kapan. Umat Islam adalah umat akhir zaman. Semoga berita tentang kiamat 2012 akan membuat orang-orang zalim untuk bertobat.</p>
<p>www.wartadunia.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthfis.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthfis.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthfis.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthfis.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthfis.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthfis.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthfis.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthfis.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthfis.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthfis.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=164&subd=luthfis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthfis.wordpress.com/2009/02/20/164/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/640800a1c484097b7eb63e0375359a56?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luthfis</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://luthfis.files.wordpress.com/2009/02/3-m.png" medium="image">
			<media:title type="html">3 m</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konon Cinta Adalah&#8230;</title>
		<link>http://luthfis.wordpress.com/2008/10/07/konon-cinta-adalah/</link>
		<comments>http://luthfis.wordpress.com/2008/10/07/konon-cinta-adalah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 14:34:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthfis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthfis.wordpress.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lutfi Seli Fauzi
 
Konon, kata yang paling sulit didefinisikan di dunia ini adalah ’Cinta’ kata para pencinta. Entah betul ataupun tidak, konon katanya ketika cinta itu didefinisikan maka cinta itu bukan lagi cinta, cinta telah berubah menjadi mahluk lain. Konon definisi itu terlalu sempit untuk menggambarkan apa itu cinta, karena konon definisi yang beragam itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=159&subd=luthfis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Oleh: Lutfi Seli Fauzi</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Konon, kata yang paling sulit didefinisikan di dunia ini adalah ’Cinta’ kata para pencinta. Entah betul ataupun tidak, konon katanya ketika cinta itu didefinisikan maka cinta itu bukan lagi cinta, cinta telah berubah menjadi mahluk lain. Konon definisi itu terlalu sempit untuk menggambarkan apa itu cinta, karena konon definisi yang beragam itu tidak bisa menggambarkan keseluruhan cinta kecuali hanya sebagian kecil saja. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Siapa orang yang paling bijak didunia ini yang bisa memberikan definisi cinta? Konon, tidak ada yang bisa, Nabi Muhammad saw.? Yesus as.(Nabi Isa as.)? Raja Sulaiman as.? Budha? Krishna? Zoroaster? Atau kalau menurut ’Dewi-Dewi’ Dokter cinta? Siapa? <span id="more-159"></span>Konon memang tidak ada, konon juga mereka semua hanya bisa memberi teladan tentang cinta, mengabarkan pentingnya cinta, mengajarkan cara mencinta, dan semua hal yang ada hubungannya dengan cinta, tapi pernahkan mereka mendefinisikan cinta? Ah, aku belum pernah dengar tuh!! Lalu kalau begitu apa itu cinta? Entah konon ataupun tidak yang jelas konon katanya Cinta hanya dapat di definisikan secara sempurna dengan cinta lagi, jadi konon cinta adalah cinta. Maka dari itu tetap saja mendefinisikan cinta dengan cinta sama artinya dengan cinta itu tidak berdefinisi, bahasa ’Jerman’nya <em>bhulachk bhalichk the chock</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Konon, cinta sendiri adalah mahluk paling ajaib yang pernah diciptakan Tuhan di alam semesta ini. Konon, cinta itu bisa membuat bahagia, konon juga cinta itu membuat kita menderita. Konon membuat orang senyum, sekaligus muram durja. Konon juga menjadikan suka cita, sekaligus duka. Konon membuat orang tertawa, tapi juga menangis terisak-isak. Membuat waras, sekaligus gila (masih konon). Semuanya konon disebabkan oleh lima huruf yang membentuk kata c-i-n-t-a. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Sungguh sebuah kata yang aneh!! Kenapa harus ada derita jika cinta bisa membuat bahagia? Kenapa harus bermuram durja jika bisa melukiskan senyuman? Kenapa harus ada duka karenanya jika suka cita jauh berharga? Kenapa juga harus ada tangisan, jika tawa menghidupkan suasana? Kenapa harus menjadi gila karena cinta jika waras itu jauh, jauh, lebih baik? Tanyakan pada cinta, mahluk seperti apa sih sampai-sampai mempunyai ilmu sihir yang konon katanya membuat semua orang jadi tidak karuan seperti itu? </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Masih tentang kononnya cinta. Konon katanya cinta itu mirip hantu ’jaelangkung’, datang tak diundang, pulang tak diantar. Ditunggu-tunggu sampai ubanan, sampai lumutan, tetap tidak datang-datang. Eh, giliran kita sama sekali tidak mengharapkan, malah datang dengan sendirinya, tanpa perlu ditunggu tanpa perlu diundang pakai kemenyan, cinta datang membawa bayangan surga di dunia. Kelepek&#8230;kelepek&#8230;kelepek&#8230;sampai konon katanya orang bisa mati berdiri karena cinta! Dasar cinta&#8230;cinta&#8230; memang dirimu titisan hantu jaelangkung!</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Karena cinta adalah titisan jaelangkung maka jangan heran kalau konon katanya ada orang yang kesurupan cinta, sehingga membuat orang yang kerasukan cinta menjadi buta, karena memang banyak orang yang bilang bahwa cinta itu buta. Konon katanya bagi orang yang kesurupan cinta tak ada lagi bedanya kotoran ayam dan coklat, sampai-sampai kotoran ayampun terasa coklat, seperti kata pepatah air susu sama dengan air tuba(?). Bener gak seh? Mungkin anda yang saat ini sedang dimabuk cinta bisa bereksperimen dengan mencoba memakannya sehingga anda bisa tahu seperti apa rasanya. Kalau tidak enak rasanya ya berarti anda masih sadar, tapi kalau enak saya menyarankan anda untuk segera mendapatkan terapi <em>Ruqyah Hubbiyah</em>.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Ah, semua yang ditulis diatas adalah konon. Karena cinta konon orang bisa begini, bisa begitu, jadi ini, jadi itu, dan lain sebagainya. Konon banyak para filosof dan orang bijak yang sampai saat ini masih memutar otak memikirkan tentang cinta, dan mereka semuanya konon menjadi gila. Tapi bagiku, peduli amat dengan semua ocehan para filosof dan orang bijak itu. Tak ada konon bagiku, tak ada dialektika filosofis bagiku, akupun tetap tidak tahu apa, mengapa, dan bagaimana cinta sehingga akupun tidak perlu menjadi gila seperi mereka. Satu hal yang aku tahu, karena cinta aku membuat tulisan gila ini. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthfis.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthfis.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthfis.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthfis.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthfis.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthfis.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthfis.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthfis.wordpress.com/159/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthfis.wordpress.com/159/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthfis.wordpress.com/159/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=159&subd=luthfis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthfis.wordpress.com/2008/10/07/konon-cinta-adalah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/640800a1c484097b7eb63e0375359a56?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luthfis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Logoterapi: Sebuah Pendekatan untuk Hidup Bermakna</title>
		<link>http://luthfis.wordpress.com/2008/05/11/logoterapi-sebuah-pendekatan-untuk-hidup-bermakna/</link>
		<comments>http://luthfis.wordpress.com/2008/05/11/logoterapi-sebuah-pendekatan-untuk-hidup-bermakna/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 07:25:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthfis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthfis.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Luthfi Seli Fauzi 
 
            Langit kota Kufah19 Ramadhan tahun 40 Hijriyah sudah mulai menampakkan cahaya kekuningan. Baru saja Imam Ali ibn Abi Thalib as. mulai mengimami sholat shubuh. Seketika, ketika ia baru saja mengangkat kepalanya dari sujud, pedang beracun Ibnu Muljam langsung menghantam kepala sang Imam. Dengan senyuman, Imam Ali langsung mengusapkan darah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=133&subd=luthfis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Oleh : Luthfi Seli Fauzi </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Langit kota Kufah19 Ramadhan tahun 40 Hijriyah sudah mulai menampakkan cahaya kekuningan. Baru saja Imam Ali ibn Abi Thalib as. mulai mengimami sholat shubuh. Seketika, ketika ia baru saja mengangkat kepalanya dari sujud, pedang beracun Ibnu Muljam langsung menghantam kepala sang Imam. Dengan senyuman, Imam Ali langsung mengusapkan darah yang membasahi janggut kepada wajahnya. Dengan wajah tenang, mulutnya berucap: <em>“Fuztu wa Rabbil Ka’bah. demi Tuhan yang memelihara Ka’bah, sungguh aku bahagia!”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"><span>            </span>Kisah diatas sengaja saya kutip sebagai pengantar agar kita lebih dapat memahami logoterapi. Kisah Imam Ali diatas jelas-jelas merupakan sebuah kemalangan, jelas-jelas apa yang dialami Amirul Mukminin adalah sebuah musibah, jelas-jelas sebuah bencana yang mengantarkannya kepada kematian. Tapi apa yang terjadi? Apa yang diucapkan Imam Ali? <em>“Fuztu wa Rabbil Ka’bah. demi Tuhan yang memelihara Ka’bah, sungguh aku bahagia!”</em>. Luar biasa. Sikap Imam Ali inilah sebenarnya yang menjadi tujuan dari Logo terapi. Lantas kalau begitu apa sebenarnya Logoterapi itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"> <span id="more-133"></span></span></p>
<h2 style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>Pengertian Logoterapi</span><span></span></span></span></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Logoterapi diperkenalkan oleh <em>Viktor Frankl</em>, seorang dokter ahli penyakit saraf dan jiwa (<em>neuro-psikiater</em>). Logoterapi berasal dari kata “<em>logos</em>” yang dalam bahasa Yunani berarti makna (<em>meaning</em>) dan juga rohani (<em>spirituality</em>), sedangkan terapi adalah penyembuhan atau pengobatan. Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi/ psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (<em>the meaning of life</em>) dan hasrat untuk hidup bermakna (<em>the will of meaning</em>) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (<em>the meaningful life</em>) yang didambakannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Ada tiga asas utama logoterapi yang menjadi inti dari terapi ini, yaitu:</span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Hidup itu memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Setiap manusia memiliki kebebasan &#8211; <em>yang hampir tidak terbatas</em> – untuk menentukan sendiri makna hidupnya. Dari sini kita dapat memilih makna atas setiap peristiwa yang terjadi dalam diri kita, apakah itu makna positif atupun makna yang negatif. Makna positif ini lah yang dimaksud dengan hidup <em>bermakna</em>.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mangambil sikap terhadap peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri dan lingkungan sekitar.<span>  </span>Contoh yang jelas adalah seperti kisah Imam Ali diatas, ia jelas-jelas mendapatkan musibah yang tragis, tapi ia mampu memaknai apa yang terjadi secara positif sehingga walaupun dalam keadaan yang seperti itu Imam tetap bahagia.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="ListParagraph" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Ajaran Logoterapi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Ketiga asas itu tercakup dalam ajaran logoterapi mengenai eksistensi manusia dan makna hidup sebagai berikut.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">a.<span style="font:7pt &quot;">       </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Dalam setiap keadaan, termasuk dalam penderitaan sekalipun, kehidupan ini selalu mempunyai makna.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">b.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Kehendak untuk hidup bermakna merupakan motivasi utama setiap orang.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">c.<span style="font:7pt &quot;">       </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Dalam batas-batas tertentu manusia memiliki kebebasan dan tanggung jawab pribadi untuk memilih, menentukan dan memenuhi makna dan tujuan hidupnya.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">d.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Hidup bermakna diperoleh dengan jalan merealisasikan tiga<span>  </span>nilai kehidupan, yaitu nilai-nilai kreatif (<em>creative values</em>), nilai-nilai penghayatan (<em>eksperiental values</em>) dan nilai-nilai bersikap (<em>attitudinal values</em>).</span></p>
<p class="ListParagraph" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.25in;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<h2 style="margin:6pt 0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Tujuan Logoterapi</span></span></span></h2>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Tujuan dari logoterapi adalah agar setiap pribadi:</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">a.<span style="font:7pt &quot;">       </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">b.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan;</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-17.85pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 35.7pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">c.<span style="font:7pt &quot;">       </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mamp[u tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 35.7pt;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="ListParagraph" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Pandangan Logoterapi terhadap Manusia</span></strong></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">a.<span style="font:7pt &quot;">       </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Menurut Frankl manusia merupakan kesatuan utuh dimensi ragawi, kejiwaan dan spiritual. <em>Unitas bio-psiko-</em>spiritual.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">b.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Frankl menyatakan bahwa manusia memiliki dimensi spiritual yang terintegrasi dengan dimensi ragawai dan kejiwaan. Perlu dipahami bahwa sebutan “<em>spirituality</em>” dalam logoterapi tidak mengandung konotasi keagamaan karena dimens ini dimiliki manusia tanpa memandang ras, ideology, agama dan keyakinannya. Oleh karena itulah Frankl menggunakan istilah <em>noetic </em>sebagai padanan dari <em>spirituality</em>, supaya tidak disalahpahami sebagai konsep agama.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">c.<span style="font:7pt &quot;">       </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Dengan adanya dimensi <em>noetic </em>ini manusiamampu melakukan <em>self-detachment</em>, yakni dengan sadar mengambil jarak terhadap dirinya serta mampu meninjau dan menilai dirinya sendiri.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">d.<span style="font:7pt &quot;">      </span></span><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Manusia adalah makhluk yang terbuka terhadap dunia luar serta senantiasa berinteraksi dengan sesama manusia dalam lingkungan sosial-budaya serta mampu mengolah lingkungan fisik di sekitarnya.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="ListParagraph" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Logoterapi sebagai Teori Kepribadian</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Kerangka pikir teori kepribadian model logoterapi dan dinamika kepribadiannya dapat digambarkan sebagai berikut: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Setiap orang selalu mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam pandangan logoterapi kebahagiaan itu tidak datang begitu saja, tetapi merupakan akibat sampingan dari keberhasilan seseorang memenuhi keinginannya untuk hidup bermakna (<em>the will to meaning</em>). Mereka yang berhasil memenuhinya akan mengalami hidup yang bermakna (<em>meaningful life</em>) dan ganjaran<span>  </span>(<em>reward</em>) dari hidup yang bermakna adalah kebahagiaan (happiness). Di lain pihak mereka yang tak berhasil memenuhi motivasi ini akan mengalami kekecewaan dan kehampaan hidup serta merasakan hidupnya tidak bermakna (<em>meaningless</em>). Selanjutnya akibat dari penghayatan hidup yang hampa dan tak bermakna yang berlarut-larut tidak teratasi dapat mengakibatkan gangguan neurosis (<em>noogenik neurosis</em>) mengembangkan karakter totaliter (<em>totalitarianism</em>) dan konformis (<em>conformism</em>). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthfis.wordpress.com/133/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthfis.wordpress.com/133/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthfis.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthfis.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthfis.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthfis.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthfis.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthfis.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthfis.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthfis.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthfis.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthfis.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=133&subd=luthfis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthfis.wordpress.com/2008/05/11/logoterapi-sebuah-pendekatan-untuk-hidup-bermakna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/640800a1c484097b7eb63e0375359a56?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luthfis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konseling Logoterapi</title>
		<link>http://luthfis.wordpress.com/2008/05/11/konseling-logoterapi/</link>
		<comments>http://luthfis.wordpress.com/2008/05/11/konseling-logoterapi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 07:22:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthfis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthfis.wordpress.com/?p=132</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Luthfi Seli Fauzi
 
Konseling logoterapi merupakan konseling untuk membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Konseling logoterapi berorientasi pada masa depan (future oriented) dan berorientasi pada makna hidup (meaning oriented). Relasi yang dibangun antara konselor dengan konseli adalah encounter, yaitu hubungan antar pribadi yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=132&subd=luthfis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="ListParagraph" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Oleh : Luthfi Seli Fauzi</span></p>
<p class="ListParagraph" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Konseling logoterapi merupakan konseling untuk membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Konseling logoterapi berorientasi pada masa depan (<em>future oriented</em>) dan berorientasi pada makna hidup (<em>meaning oriented</em>). Relasi yang dibangun antara konselor dengan konseli adalah <em>encounter, </em>yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami dan menerima sepenuhnya satu sama lain. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="ListParagraph" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Komponen-Komponen Konseling Logoterapi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Komponen-komponen pribadi dalam konseling logoterapi adalah kemampuan, potensi, dan kualitas insane dari diri konseli yang dijajagi, diungkap, dan difungsikan pada proses konseling dalam rangka meningkatkan kesadaran terhadap makna dan tujuan hidupnya. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span id="more-132"></span></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Dalam logoterapi usaha meningkatkan kesadaran atas kualitas dan kemampuan pribadi- seperti pemahaman diri, pengubahan sikap, pengarahan diri, tanggungjawab, komitmen, keimanan, cinta kasih, hati nurani, penemuan makna hidup-merupakan hal-hal penting yang menentukan keberhasilan konseling. Selain itu konseli disadarkan pula atas rasa tanggungjawab untuk mengubah sikap dan perilakunya menjadi lebih baik dan lebih sehat serta bermanfaat bagi diri dan lingkungannya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="ListParagraph" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><strong><span style="font-size:12pt;font-family:Arial;">Tahapan Konseling Logoterapi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Ada empat tahap utama didalam proses konseling logterapi diantaranya adalah:</span></span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Tahap perkenalan dan pembinaan <em>rapport</em><span>. Pada tahap ini</span><em> </em>diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan pembina <em>rapport </em>yang makin lama makin membuka peluang untuk sebuah <em>encounter. </em>Inti sebuah <em>encounter </em>adalah penghargaan kepada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan. Percakapan dalam tahap ini tak jarang memberikan efek terapi bagi konseli.</span></span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah. Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli. Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membeiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.</span></span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Pada tahap pembahasan bersama, konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.</span></span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan <em>symptom</em>. <em><span> </span></em></span></span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthfis.wordpress.com/132/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthfis.wordpress.com/132/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthfis.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthfis.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthfis.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthfis.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthfis.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthfis.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthfis.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthfis.wordpress.com/132/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthfis.wordpress.com/132/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthfis.wordpress.com/132/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=132&subd=luthfis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthfis.wordpress.com/2008/05/11/konseling-logoterapi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/640800a1c484097b7eb63e0375359a56?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luthfis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Incest: Hubungan Seksual Sedarah</title>
		<link>http://luthfis.wordpress.com/2008/05/11/incest-hubungan-seksual-sedarah/</link>
		<comments>http://luthfis.wordpress.com/2008/05/11/incest-hubungan-seksual-sedarah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 07:20:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthfis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthfis.wordpress.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Luthfi Seli Fauzi
 
Incest (hubungan seksual yang dilakukan oleh individu didalam sebuah keluarga dengan anggota keluarga lainnya, baik itu ayah dengan anak, ibu dengan anak, kakek denagn cucu, kakak dengan adik.) sebagian termasuk kedalam kejahatan atau penganiayaan seksual, dimana perilaku seksual yang dilakukan dapat berupa penganiayaan secara fisik maupun non fisik, oleh orang yang lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=131&subd=luthfis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Oleh: Luthfi Seli Fauzi</span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Incest (</span><span style="font-family:Arial;">hubungan seksual yang dilakukan oleh individu didalam sebuah keluarga dengan anggota keluarga lainnya, baik itu ayah dengan anak, ibu dengan anak, kakek denagn cucu, kakak dengan adik.</span><span style="font-family:Arial;">) sebagian termasuk kedalam kejahatan atau penganiayaan seksual, dimana perilaku seksual yang dilakukan dapat berupa penganiayaan secara fisik maupun non fisik, oleh orang yang lebih tua atau memiliki kekuasaan yang bertujuan untuk memuaskan hasrat seksual pelakunya. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:0.5in;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Studi yang dilakukan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur (2000), berhasil mengungkap bahwa pelaku tindak perkosaan ternyata tidak selalu penjahat atau preman kambuhan atau orang yang tidak dikenal korban, tapi acap kali pelakunya adalah orang yang sudah dikenal baik oleh korban, entah itu tetangga, saudara, kerabat, guru, atau bahkan kakek atau ayah kandung korban sendiri. Dari 312 kasus perkosaan yang berhasil diidentifikasi dari berita media massa selama 1996-1999 di Jawa Timur, sekitar 10,4 persen pelakunya ternyata adalah ayah kandung. Tidak mustahil jumlah kasus incest yang sebenarnya jauh lebih besar daripada yang diekspos media massa.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:6pt 0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> <span id="more-131"></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:6pt 0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Sejarah Incest</span></span></strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:small;"><span class="grame"><span style="font-family:Arial;">Peristiwa incest </span></span><span class="spelle"><span style="font-family:Arial;">telah</span></span><span class="grame"><span style="font-family:Arial;"> </span></span><span class="spelle"><span style="font-family:Arial;">terjadi</span></span><span class="grame"><span style="font-family:Arial;"> </span></span><span class="spelle"><span style="font-family:Arial;">sejak</span></span><span class="grame"><span style="font-family:Arial;"> </span></span><span class="spelle"><span style="font-family:Arial;">dulu</span></span><span class="grame"><span style="font-family:Arial;"> </span></span><span class="spelle"><span style="font-family:Arial;">kala</span></span><span class="grame"><span style="font-family:Arial;">.</span></span><span style="font-family:Arial;"> <span class="grame">Dalam </span><span class="spelle">sejarah</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">dicatat</span><span class="grame"> raja-raja </span><span class="spelle">Mesir</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">kuno</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">dan</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">putra-putrinya</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">kerap</span><span class="grame"> kali </span><span class="spelle">melakukan</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">tingkah</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">laku</span><span class="grame"> incest </span><span class="spelle">dengan</span><span class="grame"> motif </span><span class="spelle">tertentu</span><span class="grame">, </span><span class="spelle">sangat</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">mungkin</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">bertujuan</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">untuk</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">meningkatkan</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">dan</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">kualitas</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">generasi</span><span class="grame"> </span><span class="spelle">penerusnya</span><span class="grame">.</span></span><span style="font-family:Arial;"> Pascainvasi Alexander the Great (Iskandar Zulkarain) para bangsawan Mesir banyak yang melakukan perkawinan dengan saudara kandung dengan maksud untuk mendapatkan keturunan berdarah murni dan melanggengkan kekuasaan. Contoh yang terdokumentasi adalah perkawinan Ptolemeus II dengan saudara perempuannya, Elsione. Beberapa ahli berpendapat, tindakan seperti ini juga biasa dilakukan kalangan orang biasa. Toleransi semacam ini didasarkan pada Mitologi Mesir Kuno tentang perkawinan Dewa Osiris dengan saudaranya, Dewi Isis. Sedangakn dalam mitologi Yunani kuno ada kisah Dewa Zeus yang kawin dengan Hera, yang merupakan kakak kandungnya sendiri.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Kisah-kisah tentang incest ini bukan hanya pada mitologi saja, tapi bahkan ada juga yang tercatat dalam kitab suci beberapa agama. Dalam kitab agama Kristen misalnya banyak sekali dikisahkan peristiwa incest yang bahkan sangat tidak masuk akal seperti kisah incest yang melibatkan beberapa orang Nabi beserta keluarganya. Sebagai contoh kisah tentang Lot (Nabi Luth) yang konon melakukan hubungan seks dengan kedua putrinya:</span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 37.4pt;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Demikianlah juga pada malam itu mereka memberi ayah mereka minum anggur, lalu bangunlah yang lebih muda untuk tidur dengan ayahnya; dan ayahnya itu tidak mengetahui ketika anaknya itu tidur dan ketika ia bangun. 36<span>  </span>Lalu mengandunglah kedua anak Lot (Nabi Luth) itu dari ayah mereka. </span></em><span style="font-family:Arial;">(<em>Kejadian 19: 35-36)</em>, </span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">ada juga kisah tentang Ruben putra sulung Nabi Ya’kub yang konon pemperkosa istri Nabi Ya’kub:</span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 37.4pt;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Arial;">Ketika Ya’kub diam di negeri ini, terjadilah bahwa Ruben sampai tidur dengan Bilha, istri ayahnya, dan kedengaranlah hal itu kepada Israel.</span></em><span style="font-family:Arial;"> (<em>Kejadian 35: 22</em>), </span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">selain itu ada juga kisah tentang Amnon putra Nabi Daud lainnya yang konon memperkosa saudara perempuannya Tamar:</span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 37.4pt;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Arial;">Ketika gadis itu menghidangkannya kepadanya supaya ia makan, dipegangnyalah gadis itu dan berkata kepadanya: &#8220;Marilah tidur dengan aku, adikku.&#8221; 12<span>  </span>Tetapi gadis itu berkata kepadanya: &#8220;Tidak kakakku, jangan perkosa aku, sebab orang tidak berlaku seperti itu di Israel. Janganlah berbuat noda seperti itu. 13<span>  </span>Dan aku, ke manakah kubawa kecemaranku? Dan engkau ini, engkau akan dianggap sebagai orang yang bebal di Israel. Oleh sebab itu, berbicaralah dengan raja, sebab ia tidak akan menolak memberikan aku kepadamu.&#8221; 14<span>  </span>Tetapi Amnon tidak mau mendengarkan perkataannya, dan sebab ia lebih kuat dari padanya, diperkosanyalah dia, lalu tidur dengan dia. (2 Samuel 13: 12-14)</span></em><span style="font-family:Arial;">, </span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">dan masih banyak lagi kisah tentang incest lainnya yang dapat kita temukan dalam Alkitab (Bible) yang konon bukan hanya melibatkan manusia biasa tapi juga melibatkan orang-orang pilihan Tuhan.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Di Indonesia sendiri sampai saat ini perilaku incest masih ada pada kelompok masyarakat tertentu, seperti suku Polahi di Kabupaten Polahi, Sulawesi, dimana praktek hubungan incest banyak terjadi. Perkawinan sesama saudara adalah hal yang wajar dan biasa di kalangan suku Polahi.</span></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:6pt 0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="font-family:Arial;">Penyebab Incest</span></strong></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:0.5in;margin:6pt 0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="font-weight:normal;font-family:Arial;">Ada beberapa penyebab atau pemicu timbulnya incest. Akar dan penyebab tersebut tidak lain adalah karena pengaruh aspek struktural, yakni situasi dalam masyarakat yang semakin kompleks. </span></strong><span style="font-family:Arial;">Kompleksitas situasi menyebabkan ketidakberdayaan pada diri individu. Khususnya apabila ia seorang laki-laki (notabene cenderung dianggap dan menganggap diri lebih berkuasa) akan sangat terguncang, dan menimbulkan ketidakseimbangan mental-psikologis. Dalam ketidakberdayaan tersebut, tanpa adanya iman sebagai kekuatan internal/spiritual, seseorang akan dikuasai oleh dorongan primitif, yakni dorongan seksual ataupun agresivitas. </span><strong><span style="font-weight:normal;font-family:Arial;">Faktor-faktor struktural tersebut antara lain adalah: </span></strong><strong></strong></span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">(1)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span style="font-size:small;"><strong><span style="font-weight:normal;font-family:Arial;">Konflik budaya. </span></strong><span style="font-family:Arial;">Seperti kita ketahui, perubahan sosial terjadi begitu cepatnya seiring. dengan perkembangan teknologi. Alat-alat komunikasi seperti radio, televisi, VCD, HP, koran, dan majalah telah masuk ke seluruh pelosok wilayah Indonesia. Seiring dengan itu masuk pula budaya-budaya baru yang sebetulnya tidak cocok dengan budaya dan norma-norma setempat. Orang dengan mudah mendapat berita kriminal seks melalui tayangan televisi maupun tulisan di koran dan majalah. Juga informasi dan pengalaman pornografi dan berbagai jenis media. Akibatnya, tayangan televisi, VCD, dan berita di koran atau majalah yang sering menampilkan kegiatan seksual incest serta tindak kekerasannya, dapat menjadi model bagi mereka yang tidak bisa mengontrol nafsu birahinya. </span></span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">(2)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Kemiskinan. Meskipun incest dapat terjadi dalam segala lapisan ekonomi, secara khusus kondisi kemiskinan merupakan suatu rantai situasi yang sangat potensial menimbulkan incest. Sejak krisis 1998, tingkat kemiskinan di Indonesia semakin tinggi. Banyak keluarga miskin hanya memiliki satu petak rumah. Kita tidak dapat membedakan mana kamar tidur, kamar tamu, atau kamar makan. Rumah yang ada merupakan satu atau dua kamar dengan multi fungsi. Tak pelak lagi, kegiatan seksual terpaksa dilakukan di tempat yang dapat ditonton anggota keluarga lain. Tempat tidur anak dan orangtuanya sering tidak ada batasnya lagi. Ayah yang tak mampu menahan nafsu birahinya mudah terangsang melihat anak perempuannya tidur. Situasi semacam ini memungkinkan untuk terjadinya incest kala ada kesempatan. </span></span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">(3)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Pengangguran. Kondisi krisis juga mengakibatkan banyak terjadinya PHK yang berakibat banyak orang yang menganggur. Dalam situasi suit mencari pekerjaan, sementara keluarga butuh makan, tidak jarang suami istri banting tulang bekerja seadanya. Dengan kondisi istri jarang di rumah (apalagi bila menjadi TKW), membuat sang suami kesepian. Mencari hiburan di luar rumah pun butuh biaya. Tidak menutup kemungkinan anak yang sedang dalam kondisi bertumbuh menjadi sasaran pelampiasan nafsu birahi ayahnya. </span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span></span><span style="font-family:Arial;">Selain faktor-faktor diatas, Lustig (Sawitri Supardi: 2005) mengemukakan factor-faktor lain yaitu:</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">(1)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Keadaan terjepit, dimana anak perempuan manjadi figur perempuan utama yang mengurus keluarga dan rumah tangga sebagai pengganti ibu. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">(2)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Kesulitan seksual pada orang tua, ayah tidak mampu mengatasi dorongan seksualnya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">(3)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Ketidakmampuan ayah untuk mencari pasangan seksual di luar rumah karena kehutuhan untuk mempertahankan <em>facade</em> kestabilan sifat <em>patriachat-</em>nya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">(4)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Ketakutan akan perpecahan keluarga yang memungkinkan beberapa anggota keluarga untuk lebih memilih desintegrasi struktur daripada pecah sama sekali. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">(5)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Sanksi yang terselubung terhadap ibu yang tidak berpartisipasi dalam tuntutan peranan seksual sebagai istri.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">(6)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span class="spelle"><span>Pengawasan</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>dan</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>didikan</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>orangtua</span></span><span class="grame"><span> yang </span></span><span class="spelle"><span>kurang</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>karena</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>kesibukan</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>orang</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>bekerja</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>mencari</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>nafkah</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>dapat</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>melonggarkan</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>pengawasan</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>oleh</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>orangtua</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>bisa</span></span><span class="grame"><span> </span></span><span class="spelle"><span>terjadi</span></span><span class="grame"><span> incest.</span></span><span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">(7)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span class="spelle"><span>Anak</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>remaja</span></span><span> yang normal </span><span class="spelle"><span>pada</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>saat</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>mereka</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>remaja</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>dorongan</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>seksualnya</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>begitu</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>tinggi</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>karena</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>pengaruh</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>tayangan</span></span><span> yang </span><span class="spelle"><span>membangkitkan</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>naluri</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>birahi</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>juga</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>ikut</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>berperan</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>dalam</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>hal</span></span><span> </span><span class="spelle"><span>ini</span></span><span>. </span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:6pt 0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Alasan Anggota Keluarga Melakukan Incest</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-0.25in;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">(1)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Ayah sebagai pelaku. Kemungkinan pelaku mengalami masa kecil yang kurang menyenangkan, latar belakang keluarga yang kurang harmonis, bahkan mungkin saja pelaku merupakan korban penganiayaan seksual di masa kecilnya. Pelaku cenderung memiliki kepribadian yang tidak matang, pasif, dan cenderung tergantung pada orang lain. Ia kurang dapat mengendalikan diri/hasratnya, kurang dapat berfikir secara realistis, cenderung pasif-agresif dalam mengekpresikan emosinya, kurang memiliki rasa percaya diri. Selain itu, kemungkinan pelaku adalah pengguna alkohol atau obat-obatan terlarang lainnya.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-0.25in;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">(2)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Ibu sebagai pelaku. Ibu yang melakukan penganiayaan seksual cenderung memiliki tingkat kecerdasan yang rendah dan mengalami gangguan emosional. Ibu yang melakukan incest terhadap anak laki-lakinya cenderung didorong oleh keinginan adanya figur ‘pria lain’ dalam kehidupannya, karena kehadiran suami secara fisik maupun emosinal dirasakan kurang sehingga ia berharap anak laki-lakinya dapat memenuhi keinginan yang tidak didapatkan dari suaminya. Kasus ini jarang didapati, terutama karena secara naluriah wanita cenderung memiliki sifat mengasuh dan ‘melindungi’ anak.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:-0.25in;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">(3)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Saudara kandung sebagai pelaku. Kakak korban yang melakukan penganiayaan seksual biasanya menirukan perilaku orang tuanya atau memiliki keinginan mendominasi/menghukum adiknya. Selain itu, penganiayaan seksual mungkin pula dilakukan oleh orang tua angkat/tiri, atau orang lain yang tinggal serumah dengan korban, misalnya saudara angkat.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><br />
<strong><span style="font-size:small;">Akibat Incest</span></strong></span><strong></strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Ada beberapa akibat dari perilaku incest ini, khususnya yang terjadi karena paksaan. Diantaranya adalah:</span></span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">(1)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Gangguan psikologis. Gangguan psikologis akibat dan kekerasan seksual atau trauma <em>post sexual abuse</em>, antara lain : tidak mampu mempercayai orang lain, takut atau khawatir dalam berhubungan seksual, depresi, ingin bunuh diri dan perilaku merusak diri sendiri yang lain, harga diri yang rendah, merasa berdosa, marah, menyendiri dan tidak mau bergaul dengan orang lain, dan makan tidak teratur. </span></span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">(2)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Secara medis menunjukan bahwa anak hasil dari hubungan incest berpotensi besar untuk mengalami kecatatan baik fisik ataupun mental.</span></span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">(3)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Akibat lain yang cukup meresahkan korban adalah mereka sering disalahkan dan mendapat stigma (label) yang buruk. Padahal, kejadian yang mereka alami bukan karena kehendaknya. Mereka adalah korban kekerasan seksual. Orang yang semestinya disalahkan adalah pelaku kejahatan seksual tersebut. </span></span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">(4)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Berbagai studi memperlihatkan, hingga dewasa, anak-anak korban kekerasan seksual seperti incest biasanya akan memiliki self-esteem (rasa harga diri) rendah, depresi, memendam perasaan bersalah, sulit mempercayai orang lain, kesepian, sulit menjaga membangun hubungan dengan orang lain, dan tidak memiliki minat terhadap seks.</span></span></p>
<p style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">(5)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Studi-studi lain bahkan menunjukkan bahwa anak-anak tersebut akhirnya ketika dewasa juga terjerumus ke dalam penggunaan alkohol dan obat terlarang, pelacuran, dan memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan seksual kepada anak-anak. </span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.25in;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="font-family:Arial;">Upaya Mengatasi Incest</span></strong></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0;"><span style="font-size:small;"><strong><span style="font-weight:normal;font-family:Arial;">Untuk menghindari terjadinya incest yang baik disertai atapun tidak disertai kekerasan seksual, perlu dilakukan tindakan sebagai berikut: </span></strong><strong></strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">(1)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Memperkuat keimanan dengan menjalankan ajaran agama secara benar. Bukan hanya mengutamakan ritual, tetapi terutama menghayati nilai-nilai yang diajarkan sehingga menjadi bagian integral dari diri sendiri. Hal ini dapat dicapai dengan penghayatan akan Tuhan sebagai pribadi, sehingga relasi dengan Tuhan bersifat “mempribadi”, bukan sekadar utopia yang absurd. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">(2)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Memperkuat rasa empati, sehingga lebih sensitif terhadap penderitaan orang lain, sekaligus tidak sampai hati membuat orang lain sebagai korban. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">(3)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Mengisi waktu luang dengan kegiatan kreatif-positif. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">(4)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Menjauhkan diri dan keluarga dari hal-hal yang dapat membangkitkan syahwat.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">(5)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Memberikan pengawasan dan bimbingan terhadap anggota keluarga, sehingga dapat terkontrol.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:6pt 0 6pt 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">(6)</span><span style="font:7pt;">   </span></span><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Memberikan pendidikan seks sejak dini, sesuai dengan usia anak. </span></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthfis.wordpress.com/131/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthfis.wordpress.com/131/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthfis.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthfis.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthfis.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthfis.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthfis.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthfis.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthfis.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthfis.wordpress.com/131/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthfis.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthfis.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=131&subd=luthfis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthfis.wordpress.com/2008/05/11/incest-hubungan-seksual-sedarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/640800a1c484097b7eb63e0375359a56?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luthfis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Peran BK dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan</title>
		<link>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/21/peran-bk-dalam-meningkatkan-mutu-pendidikan/</link>
		<comments>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/21/peran-bk-dalam-meningkatkan-mutu-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Apr 2008 08:05:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthfis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthfis.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Luthfi Seli Fauzi
 

Pendidikan merupakan komponen utama dalam menentukan tingkat kemajuan suatu bangsa. Pendidikan dapat mengarahkan kepada masa depan bangsa, baik itu baik taupun buruk, itu ditentukan oleh pendidikan kita saat ini. Jika pendidikan saat ini sudah teroptimalkan dan dimanfaatkan fungsinya secara baik maka kemajuan bangsa, masa depan bangsa yang cerah bukan lagi hanya sekedar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=127&subd=luthfis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Oleh: Luthfi Seli Fauzi</span></span></p>
<h2 style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></h2>
<h2 style="margin:0;"></h2>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Pendidikan merupakan komponen utama dalam menentukan tingkat kemajuan suatu bangsa. Pendidikan dapat mengarahkan kepada masa depan bangsa, baik itu baik taupun buruk, itu ditentukan oleh pendidikan kita saat ini. Jika pendidikan saat ini sudah teroptimalkan dan dimanfaatkan fungsinya secara baik maka kemajuan bangsa, masa depan bangsa yang cerah bukan lagi hanya sekedar impian belaka, tapi sudah menjadi kepastian yang akan terwujud.</span></span></p>
<h2 style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Seperti yang kita pahami bersama bahwa pendukung utama bagi tercapainya sasaran pembangunan manusia Indonesia yang bermutu adalah pendidikan yang bermutu. Pendidikan yang bermutu dalam penyelenggaraannya tidak cukup hanya dilakukan melalui taranformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, teori-teori, taupun hal-hal yang bersifat kognitif saja tetapi juga harus didukung oleh peningkatan profesionalitas dan sistem manajemen tenaga pendidikan serta pengembangan kemampuan peserta didik untuk menolong dirinya sendiri dalam memilih dan mengambil keputusan untuk pencapaian cita-cita dan harapan yang dimilikinya.</span></span></h2>
<h2 style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Kemampuan diatas tidak hanya menyangkut hal-hal yang bersifat akademis, tetapi juga menyangkut aspek perkembangan pribadi, sosial, kematangan intelektual, dan sistem nilai peserta didik. Dari sana kita dapat melihat bahwa pendidiakn yang bermutu adalah pendidiakn yang mengahntarkan peserta didik pada pencapaian standar akademis yang diharapakn dalam kondisi perkembnagan diri yang sehat dan optimal.</span></span></h2>
<p style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span id="more-127"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span> </span>Didalam keseluruhan proses pendidikan setidaknya ada 3 (tiga) komponen pokok yang paling menunjang dan harus dilaksanakan dalam pendidikan yaitu: program yang baik, administrasi dan supervisi yang lancar, serta pelayanan bimbingan yang terarah. Dari sini jelas bahwa bimbingan dan konseling mempunyai peran yang cukup penting didalam proses pendidikan.</span></span></span></p>
<h2 style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-weight:normal;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Sebagai salah satu komponen penunjang pendidikan, bimbingan dan konseling mempunyai posisi kunci didalam kemajuan atau kemunduran pendidikan. Mutu pendidikan ikut ditentukan oleh bagaimana bimbingan dan konseling itu dimanfaatkan dan dioptimalkan fungsinya dalam pendidikan, khususnya institusi sekolah. </span></span></h2>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Peran bimbingan dan konseling dalam meningkatkan mutu pendidikan seperti yang telah disebutkan sebelumnya,<span>  </span>tidak hanya terbatas pada bimbingan yang bersifat akademik tetapi juga sosial, pribadi, intelektual dan pemberian nilai. Dengan bantuan bimbingan dan konseling maka pendidikan yang tercipta tidak hanya akan menciptakan manusia-manusia yang berorientasi akademik tinggi, namun dalam kepribaian dan hubungan sosialnya rendah serta tidak mempunyai sistem nilai yang mengontrol dirinya sehingga yang dihasilkan pendidikan hanyalah robot-robot intelektual, dan bukannya manusia seutuhnya. Dengan adanya bimbingan dan konseling maka integrasi dari seluruh potensi ini dapat dimunculkan sehinga keseluruhan aspek yang muncul, bukan hanya kognitif atau akademis saja tetapi juga seluruh komponen dirinya baik itu kepribadian, hubungan sosial serta memiliki niali-nilai yang dapatdijadiakn pegangan.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Jadi, dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa peran bimbingan dan konseling didalam meningkatkan mutu pendidikan terletak pada bagaiaman bimbingan dan konseling itu membangun manusai yang seutuhnya dari dberbagai aspek yang ada didadalam diri peserta didik. Karena seperti diawal telah dijelaskan bahwa pendidikan yang bermutu bukanlah pendidikan yang hanya mentransformasikan ilmu pengetahuan dan teknologi saja tetapi juga harus meningaktkan profesionalitas dan sistem manjemen, dimana kesemuanya itu tidak hanya menyangkut aspek akademik tetapi juga aspek pribadi, sosial, kematangan intelektual, dan sistem nilai. Peran BK dalam keempat aspek inilah yang menjadikan bimbingan konseling ikut berperan dalam peningkatan mutu pendidikan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Referensi:</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-37.4pt;line-height:150%;margin:0 0 0 37.4pt;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Kosnandar. (2000). <em>Bimbingan dan Konseling di Sekolah</em>. Bandung: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Kantor Wilayah jawa Barat.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-37.4pt;line-height:150%;margin:0 0 0 37.4pt;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Juntika Nurihsan, Achmad. (2005). <em>Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling</em>. Bandung: Refika Aditama.</span></span></p>
<p> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthfis.wordpress.com/127/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthfis.wordpress.com/127/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthfis.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthfis.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthfis.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthfis.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthfis.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthfis.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthfis.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthfis.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthfis.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthfis.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=127&subd=luthfis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/21/peran-bk-dalam-meningkatkan-mutu-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/640800a1c484097b7eb63e0375359a56?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luthfis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyikapi Kasus Ahmadiyah</title>
		<link>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/20/menyikapi-kasus-ahmadiyah/</link>
		<comments>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/20/menyikapi-kasus-ahmadiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 13:00:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthfis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthfis.wordpress.com/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Luthfi Seli Fauzi
 

            Beberapa tahun yang lalu tepatnya beberapa hari setelah hari raya ‘Idul Fitri, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan kehidupan dan suasana hari ‘Idul Fitri yang dialami oleh para anggota Ahmadiyah di tempat pengungsian (lebih tepatnya pengasingan) setelah sebelumnya mereka diusir dari kampung halaman mereka karena keyakinan mereka yang dianggap menyimpang. Jujur, saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=121&subd=luthfis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h1 style="margin:0;"></h1>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Oleh: Luthfi Seli Fauzi</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Beberapa tahun yang lalu tepatnya beberapa hari setelah hari raya ‘Idul Fitri, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan kehidupan dan suasana hari ‘Idul Fitri yang dialami oleh para anggota Ahmadiyah di tempat pengungsian (lebih tepatnya pengasingan) setelah sebelumnya mereka diusir dari kampung halaman mereka karena keyakinan mereka yang dianggap menyimpang. Jujur, saya pribadi menyaksikan tayangan tersebut merasa terharu, sedih, marah, dan bingung. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Bagaimana rumah mereka dihancurkan, bagaimana mereka diusir dari tempat kelahirannya, bagaimana anak-anak mereka dijauhi oleh teman-temannya, bagaimana diri mereka dihakimi secara tidak adil layaknya penjahat, dan berbagai perlakuan yang menurut saya sangat tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Jujur, saya meneteskan air mata ketika melihat mereka tinggal di tempat pengasingan yang kumuh, mereka merayakan ‘idul fitri dengan kesedihan, tak ada baju baru, tak ada makanan enak, bahkan untuk tidur saja antar keluarga hanya dipisah oleh sekat kain sarung. Saya tanpa sadar meneteskan air mata dan marah ketika sebuah rumah dilempari batu, sedangkan didalam rumah tersebut berbaring seorang nenek tua yang sudah tidak bisa berjalan. Karena apa ia diperlakukan seperti itu? Hanya karena dia pengikut Ahmadiyah!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span id="more-121"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Tunggu dulu! Saya memaparkan kisah ini bukan berarti saya pro Ahmadiyah, bukan berarti saya membela ajaran Ahmadiyah, apalagi meyakininya <em>(Nauzhubillahi min dzalik)</em>. Saya pribadi sangat tidak setuju sekali dengan ajaran Ahmadiyah, saya juga tidak setuju kalau Ahmadiyah dikategorikan sebagai Muslim (sebagaimana fatwa Imam Khomeini yang menyatakan bahwa Ahmadiyah telah murtad), tapi ada satu hal yang harus kita ingat bahwa para pengikut Ahmadiyah adalah juga manusia. Jadi perlu saya tekankan bahwa saya tidak membela ajaran Ahmadiyah, tapi saya membela pengikut Ahmadiyah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebab tindakan kekerasan yang dialamatkan kepada pengikut Ahmadiyah dikarenakan ajaran mereka yang telah menyimpang jauh dari ajaran pokok Islam namun tetap membawa embel-embel Islam, ditambah lagi sikap keberagamaan mereka yang sangat eksklusif (saya sendiri dulu mempunyai kawan orang Ahmadiyah dan saking eksklusifnya mereka tidak mau sholat berjamaah kecuali kalau dia sendiri atau pengikut Ahmadiyah lain yang menjadi Imam). Pola penyebaran gerakan Ahmadiyah yang mirip misionaris kristenpun menjadi faktor penyebab banyaknya konflik diberbagai daerah. Tapi permasalahannya adalah apakah betul membendung arus Ahmadiyah dengan kekerasan? Inilah inti masalahnya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, justru malah menambah masalah baru, yang terpenting sekarang adalah bagaimana agar orang yang sudah terlanjur menjadi pengikut Ahmadiyah dapat kembali kepada Islam, tentunya bukan dengan paksaan apalagi penyiksaan tapi dengan dialog, dari hati kehati.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Keyakinan adalah masalah hati, bukan materi. Masalah keyakinan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dirubah, semudah membalikan telapak tangan. Saya yakin seandainya orang-orang Ahmadiyah dibantai, tetap saja mereka tidak akan bergeming dari keyakinan yang dianutnya atau kalaulah ada yang secara lisan mengaku bertaubat, tetap saja hati mereka tidak bisa berbohong, jauh dilubuk hati mereka Ahmadiyah adalah kebenaran. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Mengenai pembubaran organisasi Ahmadiyah, saya sendiri masih ragu. Karena walau bagaimanapun, semakin Ahmadiyah ditekan justru malah akan semakin berkembang, dan yang perlu diingat adalah bahwa gerakan Ahmadiyah ini bukanlah gerakan yang bersifat Nasional tapi Internasional sehingga sia-sia saja membubarkan mereka di Indonesia tapi gerakan Internasional tetap kuat (Apalagi Ahmadiyah didukung oleh Amerika, Inggris, Kanada, dan negara Eropa lainnya). Dampak pembubaran ini juga sangat besar, dan dapat menimbulkan aksi kekerasan yang semakin menjadi-jadi, yang pada akhirnya citra Islam yang dipertaruhkan. </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Pembubaran Organisasi Ahmadiyah, harus dibarengi dengan fatwa mutlak mengenai tidak bolehnya melakukan tindakan anarkisme terhadap para pengikut Ahmadiyah beserta asetnya. Disinilah peran MUI sebagai lembaga yang menaungi Ormas-ormas Islam di Indonesia. MUI harus tegas menangani tindakan kekerasan ini karena diakui atau tidak MUI juga ikut menyumbang dalam tindakan anarkisme terhadap pengikut Ahmadiyah melalui fatwa yang dikeluarkannya. Begitu pula dengan PAKEM dan kepolisian, semua harus bertanggung jawab terhadap keselamatan warga Ahmadiyah.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Saya meyakini selama seseorang berikrar bahwa tiada tuhan selain Alloh dan meyakini Nabi Muhammad <em>shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam</em> sebagai Nabi terakhir, maka ia adalah muslim. Jika seseorang keluar dari garis tersebut, maka tercabutlah hak-haknya sebagai seorang Muslim, namun walaupun begitu ia tetap mempunyai hak sebagai seorang manusia. Kalau memang Ahmadiyah bukan muslim, lantas apa hak kita untuk merampas hak mereka sebagai seorang manusia? Atau dalam sebuah jawaban yang diberikan Rosulullah kepada sahabatnya yang protes karena Rosulullah <em>shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam </em>menghormati mayat orang yahudi beliau berkata: “Bukankah ia juga manusia?”. Kalau kita transformasikan ucapan Rosulullah <em>shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam</em> tersebut kepada kasus Ahmadiyah, saya akan berkata: “Bukankah Ahmadiyah juga manusia?”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Kita harus bijak menyikapi kasus Ahmadiyah ini. Kita harus menempatkan diri kita sebagai orang yang netral, kita harus bisa melihat tidak hanya dari sudut pandang kita sebagai seorang muslim, tapi kita juga harus melihat masalah ini dari sudut pandang Ahmadiyah sendiri. Kita bukanlah Tuhan yang berhak menghakimi keyakinan seseorang, kita hanyalah manusia biasa yang mencoba memahami realitas yang ada, dan tentu saja realitas yang terlihat oleh kita akan dipahami secara berbeda pula oleh setiap orang. Oleh karena itu gunakanlah kacamata universal untuk melihat realitas yang ada, kacamata kemanusiaan.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">            </span></span></span></p>
<p> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthfis.wordpress.com/121/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthfis.wordpress.com/121/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthfis.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthfis.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthfis.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthfis.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthfis.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthfis.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthfis.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthfis.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthfis.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthfis.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=121&subd=luthfis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/20/menyikapi-kasus-ahmadiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/640800a1c484097b7eb63e0375359a56?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luthfis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengaruh Musik Terhadap Perkembangan Kognitif dan Kecerdasan Emosi</title>
		<link>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/20/pengaruh-musik-terhadap-perkembangan-kognitif-dan-kecerdasan-emosi/</link>
		<comments>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/20/pengaruh-musik-terhadap-perkembangan-kognitif-dan-kecerdasan-emosi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 12:57:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthfis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthfis.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Luthfi Seli Fauzi
 

Kognitif dan Musik
Kognitif merupakan semua proses dan produk pikiran untuk mencapai pengetahuan yang berupa aktivitas mental seperti mengingat, mensimbolkan, mengkategorikan, memecahkan masalah, menciptakan dan berfantasi.
 
Penelitian menunjukkan bahwa musik dapat memberikan rangsangan-rangsangan yang kaya untuk segala aspek perkembangan secara kognitif dan kecerdasan emosional (emotional intelligent). Roger Sperry (1992) dalam Siegel (1999) penemu teori [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=120&subd=luthfis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Oleh: Luthfi Seli Fauzi</span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"></span></strong></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Kognitif dan Musik</span></span></strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Kognitif merupakan semua proses dan produk pikiran untuk mencapai pengetahuan yang berupa aktivitas mental seperti mengingat, mensimbolkan, mengkategorikan, memecahkan masalah, menciptakan dan berfantasi.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Penelitian menunjukkan bahwa musik dapat memberikan rangsangan-rangsangan yang kaya untuk segala aspek perkembangan secara kognitif dan kecerdasan emosional (emotional intelligent). Roger Sperry (1992) dalam Siegel (1999) penemu teori Neuron mengatakan bahwa neuron baru akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik sehingga neuron yang terpisah-pisah itu bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak, sehingga terjadi perpautan antara neuron otak kanan dan otak kiri itu.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Mengacu pada perkembangan kognitif dari Piaget (1969) dalam teori belajar yang didasari oleh perkembangan motorik, maka salah satu yang penting yang perlu distimulasi adalah keterampilan bergerak. Melalui keterampilan motorik anak mengenal dunianya secara konkrit. Dengan bergerak ini juga meningkatkan kepekaan sensori, dan dengan kepekaan sensori ini juga meningkatkan perkiraan yang tepat terhadap ruang (<em>spatial</em>), arah dan waktu. Perkembangan dari struktur ini merupakan dasar dari berfungsinya efisiensi pada area lain. Kesadaran anak akan <em>tempo</em> dapat bertambah melalui aktivitas bergerak dan bermain yang menekankan sinkronis, ritme dan urutan dari pergerakan. Kemampuan-kemampuan visual, auditif dan sentuhan juga diperkuat melalui aktivitas gerak.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Gallahue, (1998) mengatakan, kemampuan-kemampuan seperti ini makin dioptimalkan melalui stimulasi dengan memperdengarkan musik klasik. Rithme, melodi, dan harmoni dari musik klasik dapat merupakan stimulasi untuk meningkatkan kemampuan belajar anak. Melalui musik klasik anak mudah menangkap hubungan antara waktu, jarak dan urutan (rangkaian) yang merupakan keterampilan yang dibutuhkan untuk kecakapan dalam logika berpikir, matematika dan penyelesaian masalah.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><span id="more-120"></span></span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Hasil penelitian Herry Chunagi (1996) Siegel (1999), yang didasarkan atas teori neuron (sel kondiktor pada sistem saraf), menjelaskan bahwa neuron akan menjadi sirkuit jika ada rangsangan musik, rangsangan yang berupa gerakan, elusan, suara mengakibatkan neuron yang terpisah bertautan dan mengintegrasikan diri dalam sirkuit otak. Semakin banyak rangsangan musik diberikan akan semakin kompleks jalinan antarneuron itu. Itulah sebenarnya dasar adanya kemampuan matematika, logika, bahasa, musik, dan emosi pada anak.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Selain itu juga, Gordon Shaw (1996) mengatakan kecakapan dalam bidang yakni matematika, logika, bahasa, musik dan emosi bisa dilatih sejak kanak-kanak melalui musik. Dengan melakukan penelitian membagi 2 kelompok yaitu kelas kontrol dan kelas eksperimen melalui pendidikan musik sehingga sirkuit pengatur kemampuan matematika menguat.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Musik berhasil merangsang pola pikir dan menjadi jembatan bagi pemikiran-pemikiran yang lebih kompleks. Didukung pula oleh Martin Gardiner (1996) dalam Goleman (1995) dari hasil penelitiannya mengatakan seni dan musik dapat membuat para siswa lebih pintar, musik dapat membantu otak berfokus pada hal lain yang dipelajari. Jadi, ada hubungan logis antara musik dan matematika, karena keduanya menyangkut skala yang naik turun, yaitu ketukan dalam musik dan angka dalam matematika. </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Daryono Sutoyo, Guru Besar Biologi UNS Solo, melakukan penelitian (1981) tentang kontribusi musik yaitu menstimulasi otak, mengatakan bawha pendidikan kesenian penting diajarkan mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) agar peserta didik sejak dini memperoleh stimulasi yang seimbang antara belahan otak kiri dan belahan otak kanannya. Bila mereka mampu menggunakan fungsi kedua belahan otaknya secara seimbang, maka apabila mereka dewasa akan menjadi manusia yang berpikir logis dan intutif, sekaligus cerdas, kreatif, jujur, dan tajam perasaannya.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Implementasi dari penelitian tersebut, pendidikan kesenian sewaktu di SD mempengaruhi keberhasilan studi pada pendidikan berikutnya yaitu di SMP, dan begitu juga dengan pendidikan kesenian di SMP kan mempengaruhi keberhasilan studi pada masa di SMA. Dan kesenian di SMA, mau tidak mau menjadii factor penentu dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia yang baik.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Musik dan Kecerdasan Emosi</span></span></strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Sternberg dan Salovery (1997) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali emosi diri, yang merupakan kemampuan seseorang dalam mengenali perasaannya sendiri sewaktu perasaan atau emosi itu muncul, dan ia mampu mengenali emosinya sendiri apabila ia memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka yang sesungguhnya dan kemudian mengambil keputusan-keputusan secara mantap. </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Kemampuan mengelola emosi merupakan kemampuan seseorang untuk mengendalikan perasaannya sendiri sehingga tidak meledak dan akhirnya dapat mempengaruhi perilakunya secara wajar. Misalnya seseorang yang sedang marah maka kemarahan itu tetap dapat dikendalikan secara baik tanpa harus menimbulkan akibat yang akhirnya disesali di kemudian hari.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Kepekaan akan rasa indah timbul melalui pengalaman yang dapat diperoleh dari menghayati musik. Kepekaan adalah unsur yang penting guna mengerahkan kepribadian dan meningkatkan kualitas hidup. Seseorang memiliki kepekaan yang tinggi atas perasaan mereka maka ia akan dapat mengambil keputusan-keputusan secara mantap dan membentuk kepribadian yang tangguh.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><span> </span>Kemampuan motivasi adalah kemampuan untuk memberikan semangat kepada diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang baik dan bermanfaat. Dalam hal ini terkandung adanya unsur harapan dan optimisme yang tinggi, sehingga memiliki kekuatan semangat untuk melakukan suatu aktivitas tertentu, misalnya dalam hal belajar. Seperti apa yang kita cita-citakan dapat diraih dan mengisyaratkan adanya suatu perjalanan yang harus ditempuh dari suatu posisi di mana kita berada ke titik pencapaian kita dalam kurun waktu tertentu.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Kemampuan membina hubungan bersosialisasi sama artinya dengan kemampuan mengelola emosi orang lain. Evelyn Pitcer dalam Kartini (1982) mengatakan musik membantu remaja untuk mengerti orang lain dan memberikan kesempatan dalam pergaulan sosial dan perkembangan terhadap emosional mereka.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Remaja, merupakan pribadi sosial yang memerlukan relasi dan komunikasi dengan orang lain untuk memanusiakan dirinya. Remaja ingin dicintai, ingin diakui, dan dihargai. Berkeinginan pula untuk dihitung dan mendapatkan tempat dalam kelompoknya. Jelas bahwa individualitas dan sosialitas merupakan unsur-unsur yang komplementer, saling mengisi dan melengkapi dalam eksistensi remaja.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Kecerdasan emosional perlu dikembangkan karena hal inilah yang mendasari keterampilan seseorang di tengah masyarakat kelak, sehingga akan membuat seluruh potensi anak dapat berkembang secara lebih optimal.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Idealnya seseorang dapat menguasai keterampilan kognitif sekaligus keterampilan sosial emosional. Daniel Goleman (1995) melalui bukunya yang terkenal &#8220;<em>Emotional Intelligences </em>(EQ)&#8221;, memberikan gambaran <em>spectrum</em> kecerdasan, dengan demikian anak akan cakap dalam bidang masing-masing namun juga menjadi amat ahli. Sebagaimana dikatakan oleh para ahli, perkembangan kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh rangsangan musik seperti yang dikatakan Gordon Shaw (1996).</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Menurut Siegel (1999) ahli perkembangan otak, mengatakan bahwa musik dapat berperan dalam proses pematangan <em>hemisfer</em> kanan otak, walaupun dapat berpengaruh ke <em>hemisfer</em> sebelah kiri, oleh karena adanya <em>cross-over</em> dari kanan ke kiri dan sebaliknya yang sangat kompleks dari jaras-jaras neuronal di otak.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Efek atau suasana perasaan dan emosi baik persepsi, ekspresi, maupun kesadaran pengalaman emosional, secara predominan diperantarai oleh <em>hemisfer </em>otak kanan. Artinya, <em>hemisfer </em>ini memainkan peran besar dalam proses perkembangan emosi, yang sangat penting bagi perkembangan sifat-sifat manusia yang manusiawi.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Kehalusan dan kepekaan seseorang untuk dapat ikut merasakan perasaan orang lain, menghayati pengalaman kehidupan dengan &#8220;perasaan&#8221;, adalah fungsi otak kanan, sedang kemampuan mengerti perasaan orang lain, mengerti pengalaman dengan rasio adalah fungsi otak kiri. Kemampuan seseorang untuk dapat berkomunikasi dengan baik dan manusiawi dengan orang lain merupakan percampuran (<em>blending</em> antara otak kanan dan kiri itu).</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Proses mendengar musik merupakan salah satu bentuk komunikasi afektif dan memberikan pengalaman emosional. Emosi yang merupakan suatu pengalaman subjektif yang <em>inherent</em> terdapat pada setiap manusia. Untuk dapat merasakan dan menghayati serta mengevaluasi makna dari interaksi dengan lingkungan, ternyata dapat dirangsang dan dioptimalkan perkembangannya melalui musik sejak masa dini.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Campbell 2001 dalam bukunya efek Mozart mengatakan musik romantik (Schubert, Schuman, Chopin, dan Tchaikovsky) dapat digunakan untuk meningkatkan kasih sayang dan simpati.</span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Musik digambarkan sebagai salah satu &#8220;bentuk murni&#8221; ekspresi emosi. Musik mengandung berbagai <em>contour, spacing</em>, variasi intensitas dan modulasi bunyi yang luas, sesuai dengan komponen-komponen emosi manusia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthfis.wordpress.com/120/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthfis.wordpress.com/120/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthfis.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthfis.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthfis.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthfis.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthfis.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthfis.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthfis.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthfis.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthfis.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthfis.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=120&subd=luthfis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/20/pengaruh-musik-terhadap-perkembangan-kognitif-dan-kecerdasan-emosi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/640800a1c484097b7eb63e0375359a56?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luthfis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pola dan Perubahan Kepribadian</title>
		<link>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/20/pola-dan-perubahan-kepribadian/</link>
		<comments>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/20/pola-dan-perubahan-kepribadian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 12:54:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthfis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthfis.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Luthfi Seli Fauzi
 

Pola Kepribadian
Elizabeth B. Hurlock mengemukakan bahwa pola kepribadian merupakan suatu penyatuan struktur yang multi dimensi yang terdiri atas self-concept sebagai inti atau pusat grafitasi kepribadian dan traits sebagai struktur yang mengintegrasikan kecenderungan pola-pola respon. Masing-masing pola itu dibahas dalam paparan berikut.
 
II.2.1. Self Concept (Concept of Self)
Self-Concept ini dapat diartikan sebagai (a) persepsi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=119&subd=luthfis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Oleh: Luthfi Seli Fauzi</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Pola Kepribadian</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>Elizabeth B. Hurlock mengemukakan bahwa pola kepribadian merupakan suatu penyatuan struktur yang multi dimensi yang terdiri atas <em>self-concept</em> sebagai inti atau pusat grafitasi kepribadian dan <em>traits</em> sebagai struktur yang mengintegrasikan kecenderungan pola-pola respon. </span><span>Masing-masing pola itu dibahas dalam paparan berikut.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">II.2.1. <em>Self Concept (Concept of Self)</em></span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><em><span>Self-Concept</span></em><span> ini dapat diartikan sebagai (a) persepsi, keyakinan, perasaan, atau sikap seseorang tentang dirinya sendiri; (b) kualitas pensipatan individu tentang dirinya sendiri; (c) suatu sistem pemaknaan individu tentang dirinya sendiri dan pandangan orang lain tentang dirinya.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;"><em><span style="font-family:Arial;">Self-concept</span></em><span style="font-family:Arial;"> ini memiliki tiga komponen, yaitu: (a) <em>perceptual</em> atau <em>phsycal self-concept</em>, citra seseoarang tentang penampilan dirinya (kemenarikan tubuh atau <em>body</em>nya), seperti: kecantikan, keindahan atau kemolekan tubuhnya; (b) <em>conceptual </em>atau <em>psychological self-concept</em>, konsep seseorang tentang kemampuan (kelemahan) dirinya, dan masa depannya, serta meliputi juga kualitas penyesuaian hidupnya: <em>honesty, self-confidence, independence, </em>dan <em>courage</em>, dan (c) <em>attitudinal</em>, yang menyangkut perasaan seseorang tentang dirinya, sikapnya terhadap keberadaan dirinya, sikapnya terhadap keberadaan dirinya sekarang dan masa depannya, sikapnya terhadap keberhargaan, kebanggaan dan keterhinaannya. Apabila seseorang telah masuk masa dewasa, komponen ketiga ini terkait juga dengan aspek-aspek: keyakinan, nilai-nilai, idealita, aspirasi, dan komitmen terhadap filsafat hidupnya.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> <span id="more-119"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Dilihat dari jenisnya, <em>self-concept</em> ini terdiri atas beberapa jenis, yaitu sebagai berikut.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 30pt;"><em><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">a.</span><span style="font:7pt;">      </span></span></em><em><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">The Basic Self-Concept</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Jame menyebutnya sebagai <em>real self</em>, yaitu konsep seseorang tentang dirinya sebagaimana apa adanya. Jenis ini meliputi : persepsi seseorang tentang penampilan dirinya, kemampuan dan ketidak mampuannya, peranan dan status dalam kehidupannya, dan nilai-nilai, keyakinan, serta aspirasinya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 30pt;"><em><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">b.</span><span style="font:7pt;">      </span></span></em><em><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">The Transitory Self-Concept</span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 0.5in;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Ini artinya bahwa seseorang memiliki <em>self-concept</em> yang pada suatu saat dia memegangnya, tetapi pada saat lain dia melepaskannya. <em>Self-concept</em> ini mungkin menyenangkan, tetapi juga tidak menyenangkan. Kondisinya sangat situasional, sangat dipengaruhi oleh suasana perasaan (emosi), atau pengalaman yang telah lalu.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 0.5in;"><em><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 30pt;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">c.</span><span style="font:7pt;">      </span></span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><em><span>The Social Self-Concept.</span></em><span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>Jenis ini berkembang berdasarkan cara individu mempercayai orang lain yang mempersepsi dirinya, baik melalui perkataan maupun tindakan. Jenis ini sering juga dikatakan sebagai <em>mirror image</em>. Contoh : jika kepada seorang anak secara terus menerus dikatakan bahwa dirinya <em>naughty</em> (nakal), maka dia akan mengembangkan konsep dirinya sebagai anak yang nakal. Perkembangan konsep diri sosial seseorang dipengaruhi oleh jenis kelompok sosial dimana dia hidup, baik keluarga, sekolah, teman sebaya atau masyarakat. Jersild mengatakan apabila seoarang anak diterima, dicintai, dan dihargai oleh orang-orang yang berarti baginya (yang pertama orang tuanya, kemudian guru, dan teman), maka anak dapat mengembangkan sikap untuk menerima dan menghargai dirinya sendiri. </span><span>Namun apabila orang-orang yang berarti (<em>significant people</em>) itu menghina, menyalahkan, dan menolaknya, maka anak akan mengembangkan sikap-sikap yang tidak menyenangkan bagi dirinya sendiri.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-0.25in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0 0 0 30pt;"><em><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">d.</span><span style="font:7pt;">      </span></span></em><em><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">The Idea Self-Concept</span></span></span></em></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 0 0.5in;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">konsep diri ideal merupakan persepsi seseorang tentang apa yang diinginkan mengenai dirinya, atau keyakinan apa yang seharusnya mengenai dirinya. Konsep diri ideal ini terkait denga citra fisik maupun psikis. Pada masa anak terdapat diskrepansi yang cukup renggang antara konsep diri ideal dengan konsep diri yang lainnya. Namun diskrepansi itu dapat berkurang seiring dengan berkembangnya usia anak (terutama apabila seseorang sudah masuk usia dewasa).</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Perkembangan <em>self-concept</em> dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tertera pada gambar.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;">
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background-color:transparent;border:#ece9d8;">
<div>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Hubungan dalam<span>  </span>keluarga</span></span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background-color:transparent;border:#ece9d8;">
<div>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kematangan Biologis</span></span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background-color:transparent;border:#ece9d8;">
<div>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Harapan orang </span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">tua</span></span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background-color:transparent;border:#ece9d8;">
<div>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tuntutan Sekolah</span></span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background-color:transparent;border:#ece9d8;">
<div>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Masalah ekonomi<span>  </span>keluarga</span></span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background-color:transparent;border:#ece9d8;">
<div>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Kondisi fisik</span></span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background-color:transparent;border:#ece9d8;">
<div>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Dampak media </span></span></p>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">masa</span></span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background-color:transparent;border:#ece9d8;">
<div>
<p class="MsoBodyText2" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pengalaman ajaran agama</span></span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background-color:transparent;border:#ece9d8;">
<div>
<p class="MsoBodyText3" style="margin:0;"><span style="font-size:10pt;"><strong><span style="font-family:Times New Roman;">Self Concept</span></strong></span></p>
</div>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><strong></strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span>
</p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">II.2.2. <em>Traits </em>(Sifat-sifat)</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><span>            </span><em>traits</em> ini berfungsi untuk mengintegrasikan kebiasan, sikap, dan keterampilan kepada pola-pola berpikir, merasa, dan bertindak. Sementara konsep diri berfungsi untuk mengintegrasikan kapasitas-kapasitas psiklogis dan prakarsa-parakarsa kegiatan.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span><em>Traits</em> dapat diartikan sebagai aspek atau dimensi kepribadian yang terkait dengan karakteristik respon atau reaksi seseorang yang relatif konsisten (ajeg) dalam rangka menyesuaikan dirinya secara khas. Diartikan juga sebagai kecenderungan yang dipelajari untuk mereaksi rangsangan dari lingkungan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Deskripsi dan definisi <em>traits</em> diatas menggambarkan bahwa <em>traits</em> merupakan kecenderungan-kecenderungan yang dipelajari untuk (a) mengevaluasi situasi, dan (b) mereaksi situasi dengan cara-cara tertentu.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"><span>            </span>Setiap <em>traits </em>mempunyai tiga karakteristik: (a) <em>uniqueness</em>, kekahasan dalam berperilaku, (b) <em>likableness</em>, yaitu bahwa trait itu ada yang disenangi <em>(liked)</em> dan ada yang tidak disenangi <em>(unliked),</em> sebab <em>traits</em> itu berkontribusi kepada keharmonisan atau ketidak harmonisan, kepuasan atau ketidak puasan orang yang mempunyai <em>traits </em>tersebut. <em>Traits</em> yang disenangi seperti; jujur, murah hati, dan bertanggungjawab, sementara yang tidak disenangi seperti: egois, tidak sopan, dan kejam/bengis. Sikap seseorang terhadap traits ini merupakan hasil belajar dari lingkungan sosialnya: dan (c) <em>consistency</em>, artinya bahwa seseorang itu dapat diharapkan berperilaku atau bertindak secara ajeg.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span><span>            </span></span><span>Sama halnya dengan <em>self-concept, traits</em> pun dalam perkembangnnya dipengaruhi oleh faktor hereditas dan belajar. Faktor yang paling mempengaruhi adalah (a) pola asuh orang tua, dan (b) imitasi anak terhadap orang yang menjadi idolanya. Beberapa trait dipelajari secara trial and error, artinya belajar anak lebih bersifat kebetulan, seperti perilaku agresif dalam mereaksi frustasi. Contohnya : anak menangis sambil memecahkan vas bunga, gara-gara tidak dibelikan mainan yang diinginkannya. Apabila dengan perbuatan agresifnya itu, orang tua akhirnya membelikan mainan yang diinginkan anak, maka anak cenderung akan mengulangi perbuatan tersebut.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Anak juga belajar memahami bahwa <em>traits</em> atau sifat-sifat dasar tertentu sangat dihargai (dijunjung tinggi) oleh semua kelompok budaya secara universal, seperti: kejujuran, respek terhadap hak-hak orang lai, dan sikap apresiatif.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">II.3. Perubahan Kepribadian</span></span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><strong><span><span>            </span></span></strong><span>Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan, namun dalam kenyataan sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian itu dapat dan mungkin terjadi. Perubahan itu terjadi dipengaruhi oleh faktor gangguan fisik dan lingkungan.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kepribadian diantaranya adalah sebagai berikut.</span></span></span></p>
<ol style="margin-top:0;" type="a">
<li class="MsoNormal"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Faktor fisik, seperti: gangguan otak, kurang gizi (malnutrisi), mengkonsumsi obat-obat terlarang (NAPZA atau NARKOBA), minuman keras, dan gangguan organik (sakit atu kecelakaan).</span></span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Fator lingkungan sosial budaya, seperti; krisis politik, ekonomi, dan keamaan yang menyebabkan terjadinya masalah pribadi (stress, depresi) dan masalah sosial (pengangguran, premanisme, dan kriminalitas).</span></span></span></li>
<li class="MsoNormal"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Faktor diri sendiri, seperti: tekanan emosional (frustasi yang berkepanjangan), dan identifikasi atau imitasi terhadap orang lain yang berkepribadian menyimpang.</span></span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthfis.wordpress.com/119/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthfis.wordpress.com/119/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthfis.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthfis.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthfis.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthfis.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthfis.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthfis.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthfis.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthfis.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthfis.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthfis.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=119&subd=luthfis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/20/pola-dan-perubahan-kepribadian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/640800a1c484097b7eb63e0375359a56?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luthfis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Perkembangan Kognitif dalam Persprektif Piaget</title>
		<link>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/20/perkembangan-kognitif-dalam-persprektif-piaget/</link>
		<comments>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/20/perkembangan-kognitif-dalam-persprektif-piaget/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 20 Apr 2008 12:47:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luthfis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Akhlak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luthfis.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Luthfi Seli Fauzi
 
 
Secara sederhana Seifert dan Hoffnung mendefinisikan perkembangan sebagai “long term change in a persons growth, feeling, patterns of thinking, social relationships, and motor skills”. Sementara itu Chaplin mengartikan perkembangan sebagai perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, mulai dari lahir sampai mati. Menurut Reni Akbar Hawadi, perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=117&subd=luthfis&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><h2 style="margin:0;"></h2>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Oleh: Luthfi Seli Fauzi</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Secara sederhana Seifert dan Hoffnung mendefinisikan perkembangan sebagai <em>“long term change in a persons growth, feeling, patterns of thinking, social relationships, and motor skills”</em>. Sementara itu Chaplin mengartikan perkembangan sebagai perubahan yang berkesinambungan dan progresif dalam organisme, mulai dari lahir sampai mati. Menurut Reni Akbar Hawadi, perkembangan secara luas menunjuk pada keseluruhan proses perubahan dari potensi yang dimiliki individu dan tampil dalam kualitas kemampuan, sifat dan ciri-ciri yang baru. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Menurut F.J. Monks, pengertian perkembangan menunjuk pada suatu proses kearah yang lebih sempurna dan tidak dapat diulang kembali. Perkembangan menunjuk kepada sifat yang tetap dan tidak dapat diputar kembali. Perkembangan juga dapat diartikan sebagai proses yang kekal dan tetap yang menuju kearah suatu organisasi pada tingkat integrasi yang lebih tinggi, beradasarkan pertumbuhan, pematanagn dan belajar.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Santrock menjelaskan pengertian perkembangan sebagai berikut : <em>”development is the pattern of change that begin at conception and continous throught the life span. Most development involves growth, although it includes decay (as in death and dying). The pattern of movement is complex because it is product of several processes-biological, cognitive, and socio motional.”</em></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><em><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> <span id="more-117"></span></span></span></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><em><span><span>            </span></span></em><span>Kesimpulan umum yang dapat ditarik dari berbagai definisi diatas adalah bahwa perkembangan tidak terbatas pada pengertian pertumbuhan yang sermakain membesar, melainkan didalamnya juga terkandung serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi-fungsi jasmaniah dan rohaniah yang dimiliki individu menuju ketahap kematangan melaui proses pertumbuhan, pematangan dan belajar.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ketahap yang lebih tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tapi pasti, melalui suatu tahap ke tahap berikutnya, yang kian hari kian bertambah maju, mulai dari masa pembuahan dan berakhir dengan kematian.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Ini menunjukan bahwa sejak masa konsepsi sampai meninggal dunia, individu tidak pernah statis, melainkan selalu mengalami perubahan-perubahan yang bersifat progresif dan berkesinambungan. Selama masa kanak-kanak sampai menginjak remaja misalnya, ia mengalami perkembangan dalam struktur fisik dan mental, jasmani dan rohani sebagai ciri-ciri dalam memasuki jenjang kedewasaan. Demikian seterusnya, perubahan-perubahan diri individu itu terus berlangsung tanpa henti, meskiipun perkembangannya semakin hari semakin pelan, setelah ia mencapai titik puncaknya. Ini berarti dalam konsep perkembangan juga tercakup makna pembusukan (decay) seperti kematian.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<h1 style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Teori Kognitif Piaget</span></span></h1>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Teori kognitif didasarkan pada asumsi bahawa kemampuan kognitif merupakan sesuatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku anak. Dengan kemampuan kognitif ini, maka anak dipandang sebagai individu yang secara aktif membangun sendiri pengetahuan mereka tentang dunia.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Teori perkembangan kognitif Piaget adalah salah satu teori yang menjelasakan bagaimana anak beradaptasi dengan dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian sekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek seperti mainan, perabot, dan makanan serta objek-objek sosial seperti diri, orangtua dan teman. Bagaimana cara anak mengelompokan objek-objek untuk mengetahui persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaannya, untuk memahami penyebab terjadinya perubahan dalam objek-objek dan perisiwa-peristiwa dan untuk membentuk perkiraan tentang objek dan peristiwa tersebut.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:0.5in;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Piaget memandang bahwa anak memainkan peran aktif didalam menyusun pengetahuannya mengenai realitas. Anak tidak pasif menerima informasi. Walaupun proses berfikir dalam konsepsi anak mengenai realitas telah dimodifikasi oleh pengalaman dengan dunia sekitarnya, namun anak juga berperan aktif dalam menginterpretasikan informasi yang ia peroleh melalui pengalaman, serta dalam mengadaptasikannya pada pengetahuan dan konsepsi mengenai dunia yang telah ia punyai.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Piaget percaya bahawa pemikiran anak-anak berkembang menurut tahap-tahap atau priode-periode yang terus bertambah kompleks. Menurut teori tahapan Piaget, setiap individu akan melewati serangkaian perubahan kualitatif yang bersifat invariant, selalu tetap, tidak melompat atau mundur. Perubahan kualitatif ini terjadi karena tekanan biologis untuk menyesuaikan diri dengan lingkunagn serta adanya pengorganisasian struktur berfikir. </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Untuk menunjukan struktur kognitif yang mendasari pola-pola tingkah laku yang terorganisir Piaget menggunakan istilah skema dan adaptasi. Dengan kedua komponen ini berarti bahwa kognisi merupakan sistem yang selalu diorganisir dan diadaptasi, sehingga memungkinkan individu beradaptasi dengan lingkungannya.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Skema (struktur kognitif) adalah proses atau cara mengorganisir dan merespons berbagai pengalaman. Dengan kata lain, skema adalah suatu pola sistematis dari tindakan, perilaku, pikiran, dan strategi pemecahan masalah yang memberikan suatu kerangka pemikiran dalam menghadapi berbagai tantangan dan jenis situasi. Adaptasi (struktur fungsional) adalah sebuah istilah yang digunakan oleh Piaget untuk menunjukan pentingnya pola hubungan individu dengan lingkungannya dalam proses perkembangan kognitif. Menurut Piaget, adaptasi ini terdiri dari dua proses yang saling melengkapi, yaitu asimilasi dan akomodasi.</span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:-26.25pt;margin:0 0 0 44.25pt;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;">1.</span><span style="font:7pt;">           </span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Asimilasi dari sudut biologi adalah integrasi antara elemen-elemen eksternal (dari luar) terhadap struktur yang sudah lengkap pada organisme. Asimilasi kognitif meliputi objek eksternal menjadi struktur pengetahuan internal.<span>  </span>Proses asimilasi ini didasarkan atas kenyataan bahwa setiap saat manusia selalu mengasimilasikan informasi-informasi yang sampai kepadanya, kemudian informasi-informasi tersebut dikelompokan kedalam istilah-istilah yang sebelumnya telah mereka ketahui. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0 0 0 0.25in;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:-26.25pt;margin:0 0 0 44.25pt;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;">2.</span><span style="font:7pt;">           </span><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Akomodasi adalah menciptakan langkah baru atau memperbarui atau menggabung-gabungakn istilah lama untuk menghadapin tantangan baru. Akomodasi kognitif berarti mengubah struktur kognitif yang telah dimiliki sebelumnya untuk disesuaikan dengan objek stimulus eksternal. Jadi kalau pada asimilasi terjadi perubahan pada objeknya, maka pada akomodasi perubahan terjadi pada subjeknya, sehingga ia dapat menyesuaiakan diri denagn objek yang ada diluar dirinya. Struktur kognitif yang sudah ada dalam diri seseorang mengalami perubahan suapaya sesuai dengan rangsangan-rangsangan objeknya.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Piaget mengemukakan bahwa setiap organisme yang ingin mengadakan penyesuaian (adaptasi) dengan lingkungannya harus mencapai keseimbangan (ekuilibrium), yaitu antara aktivitas individu terhadap lingkungan (asimilasi) dan aktivitas lingkungan terhadap individu (akomodasi). Agar terjadi ekuilibrasi antara individu dengan lingkungan, maka peristiwa-peristiwa asimilasi dan akomodasi harus terjadi secara terpadu, bersama-sama dan komplementer.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Perkembangan Kognitif Pada Setiap Masa Menurut Piaget</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 0 0.5in;"><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;">A.</span><span style="font:7pt;">     </span></strong><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Perkembangan Masa Bayi</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Dalam pandangan Piaget tahap-tahap perkembanagn pemikiran dibedakan atas empat tahap, yaitu tahap pemikiran sensoris-motorik, praoperasional, operasional konkret, dan operasional formal. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Pemikiran bayi termasuk kedalam pemikiran sensoris motorik, tahap sensoris motorik berlangsung dari kelahiran hingga kira-kira berumur 2 tahun. Selama tahap ini perkembangan mental ditandai dengan perkembangan pesat dengan kemampuan bayi untuk mengorganisasikan dan mengkoordinasikan sensasi melalui gerakan-gerakan dan tindakan-tindakan fisik. Dalam hal ini bayi yang baru lahir bukan saja menerima secara pasif rangsangan-rangsangan terhadap alat-alat indranya, melainkan juga aktif memberikan respons terhadap rangsangan tersebut, yakni melaui gerak-gerak refleks. Pada akhir tahap ini ketika anak berusia sekitar 2 tahun, pola-pola sensorik motoriknya semakin kompleks dan mulai mengadopsi suatu sistem simbol yang primitif. Misalnya, anak usia dua tahun dapat membayangkan sebuah mainan dan dan memanipulasinya dengan tangannya sebelum mainan tersebut benar-benar ada. Anak juga dapat menggunakan kata-kata sederhana, seperti “mama melompat” untuk menunjukan telah terjadinya sebuah peristiwa sensoris motorik.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 0 0.5in;"><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;">B.</span><span style="font:7pt;">    </span></strong><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Perkembanagn Masa Anak-Anak Awal</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Perkemabnagn kognitif pada masa awal anak-anak dinamakan tahap praoperasional <em>(preoperational stage),</em> yang berlangsung dari usia 2 hingga 7 tahun. Pada tahap ini konsep yang stabil dibentuk, penalaran mental muncul, egosentisme mulai kuat dan kemudian melemah, serta terbentuknya keyakinan terhadap hal yang magis. </span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Pemikiran praoperasional tidak lain adalah suatu masa tunggu yang singkat pada pemikiran operasional, sekalipaun label praoperasional menekankan bahwa pada tahap ini belum berpikir secara operasional. Dalam tahap pra operasional pemikiran masih kacau dan tidak terorganisir secara baik. Pemikiran praoperasional adalah awal dari kemampuan untuk merekonstruksi pada level pemikiran apa yang telah ditetapkan dalam tingkah laku. Pemikiran praoperasional juga mencakaup transisi dari penggunaan simbol-simbol primitif kepada yang lebih maju.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 0 0.5in;"><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;">C.</span><span style="font:7pt;">    </span></strong><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Perkembangan Masa Pertengahan dan Akhir Anak-Anak</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Pemikiran anak-anak pada masa ini disebut pemikiran operasional konkrit <em>(concrete operational thought).</em> Menurut Piaget operasi adalah hubungan-hubungan logis diantara konsep-konsep atau skema-skema. Sedangkan operasi konkrit adalah aktivitas mental yang difokuskan pada objek-objek atau peristiwa-peristiwa nyata atau konkrit dapat diukur.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Pada masa ini anak sudah mengembangkan pikiran logis, ia mulai mampu memahami operasi sejumlah konsep. Dalam upaya memahami alam sekitarnya, mereka tidak lagi terlalu mengandalkan informasi yang bersumber dari panca indra, karena ia mulai mempunyai kemampuan untuk membedakan apa yang tampak oleh mata dengan kenyataan sesungguhnya, dan antara yang bersifat sementara dengan yang berasifat menetap.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Anak-anak pada masa konkrit operasional ini telah mampu menyadari konservasi, yaitu kemampuan anak untuk berhubungan dengan berhubungan dengan sejumlah aspek yang berbeda secara serempak. Hal ini karena pada masa ini anak telah mengembangkan tiga macam proses yang disebut dengan operasi-operasi yaitu negasi, resiprokasi, dan identitas.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:-0.25in;margin:0 0 0 0.5in;"><strong><span style="font-size:small;font-family:Arial;">D.</span><span style="font:7pt;">    </span></strong><strong><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;">Perkembangan Masa Remaja</span></span></strong></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Arial;">Ditinjau dari perspektif teori kognitif Piaget, maka pemikiran masa remaja telah mencapai tahap pemikiran operasional formal <em>(formal operational thought),</em> yakni suatu tahap perkembangan kognitif yang dimulai kira-kira 11 atau 12 tahun dan terus berlanjut sampai remaja mencapai masa tenang atau dewasa. Pada tahap ini anak sudah mulai berfikir abstrak dan hipotesis. Pada masa ini anak sudah mampu memikirkan sesuatu yang akan atau mungkin terjadi, sesuatu yang abstrak.</span></p>
<p class="MsoBodyText" style="text-indent:0.5in;margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></p>
<p class="MsoBodyText" style="margin:0;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"><span>            </span>Diasamping itu pada tahap ini remaja juga sudah mampu berpikir secara sistematik, mampu memikirkan semua kemungkinan secara sistematik untuk memecahkan masalah. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Arial;"> </span></span></span></p>
<p> </p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luthfis.wordpress.com/117/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luthfis.wordpress.com/117/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luthfis.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luthfis.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luthfis.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luthfis.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luthfis.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luthfis.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luthfis.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luthfis.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luthfis.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luthfis.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luthfis.wordpress.com&blog=1202579&post=117&subd=luthfis&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luthfis.wordpress.com/2008/04/20/perkembangan-kognitif-dalam-persprektif-piaget/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/640800a1c484097b7eb63e0375359a56?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">luthfis</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>