20
Apr
Oleh luthfis pada Psikologi. 1 Komentar
Oleh : Lutfi Seli Fauzi
Matahari padang pasir memancarkan sinarnya dan membakar kulit orang-orang yang berjalan dibawahnya. Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam berjalan menuju sebuah rumah sederhana, rumah itu adalah rumah orang tua miskin yang buta, Yahudi lagi. Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam sering mengunjunginya dan memberikan makanan kepadanya. Tidak hanya itu Rosulullah juga menyuapinya, bukan sekedar menyuapi lelaki tua Yahudi tersebut, beliau juga menghaluskan terlebih dahulu makanan yang hendak diberikan kepada orang tua tersebut dengan menyunyahnya.
Seringkali sang Yahudi tua mencaci maki Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam, ia mencaci-maki beliau bahkan dihadapan Rosulullah sendiri yang sedang menyuapinya. Hebatnya Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam, beliau tidak memberitahu si Yahudi tersebut bahwa dirinya adalah Muhammad saw. yang selalu dihinanya. Rosulullah tidak menghiraukan ucapan Yahudi tersebut dan terus saja beliau berkunjung ke rumah sang Yahudi dan memberikan makanan sampai akhir hayat beliau saw.
Lanjutkan membaca
3
Apr
Oleh luthfis pada Studi Kritis. & Komentar
Oleh : Luthfi Seli Fauzi
“Orang Islam itu luar biasa!” kata Urwah ats-Tsaqofi kepada kaumnya, yang merupakan salah satu utusan kafir Quraisy dari Mekkah dalam perjanjian Hudaibiyah. “Demi Allah, aku pernah menjadi utusan untuk menemui raja-raja, aku pernah berkunjung kepada Kaisar, Kisra, dan Najasyi. Demi Allah, aku belum pernah melihat orang-orang mengagungkan rajanya seperti sahabat-sahabat Muhammad mengagungkan Muhammad (shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam). Demi Allah, jika ia meludah, ludahnya selalu jatuh pada telapak tangan salah seorang diantara mereka, lalu mereka usapkan ludah itu kepada wajah dan kulit mereka. Bila ia memerintah, mereka berlomba-lomba melaksanakannya. Bila ia berwudlu, mereka hampir-hampir berkelahi memperebutkan bekas air wudhunya. Bila ia bicara, mereka merendahkan suara dihadapannya. Dan mereka menundukkan pandangan dihadapannya karena memuliakannya.” (Shohih Bukhori 3: 255)
Saya sengaja mengutip kisah diatas karena beberapa waktu lalu kita telah memperingati maulid Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam (tepatnya tanggal 12 Rabiul awwal versi Sunni dan 17 Rabiul awwal versi Ahlul bayt) dan juga hari wafatnya, yang menurut riwayat Ahlul bayt terjadi pada tanggal 28 Shafar. Saya juga sengaja menulis kisah diatas untuk kawan-kawan kita yang anti maulid, dan bahkan membid’ahkan serta memusyrikan orang yang mengagungkan dan merayakannya.
Lanjutkan membaca
3
Apr
Oleh luthfis pada Lain-lain. & Komentar
Oleh: Luthfi Seli Fauzi
Bagaimana menjadi pribadi yang inovatif? Itulah mungkin pertanyaan yang harus kita jawab bersama. Diakui atau tidak (dan memang harus diakui) sebuah perubahan besar dalam lingkungan social masyarakat ataupun dalam sebuah lingkup social politik atau dalam ruang lingkup apapun hanya akan terjadi jika didalam lingkungan tersebut ada sebuah inovasi baru didalamnya. Sebuah inovasi baru yang memang diciptakan oleh orang-orang yang inovatif, orang yang mampu berpikir jauh kedepan dan berbeda dengan orang lain disekitarnya.
Yang jadi pertanyaannya sekarang adalah, mungkinkah kita bisa menjadi peribadi yang inovatif? Pasti bisa! Kenapa tidak?! Saya berpikir bahwa untuk menjadi seorang pribadi yang inovatif kita harus melakukan berbagai hal yang dapat menguatkan kita, yang dapat memberikan kepada kita sebuah jalan tersendiri untuk menjadi innovator. Ada beberapa hal yang setidaknya harus dimiliki agar seseorang menjadi orang yang inovatif atau seorang innovator, diantaranya:
Lanjutkan membaca
3
Apr
Oleh luthfis pada Psikologi. & Komentar
Oleh: Luthfi Seli Fauzi
Menurut Albert Ellis manusia itu bersifat rasional dan juga irasional. Orang berperilaku dalam cara-cara tertentu karena ia percaya bahwa ia harus bertindak dalam cara itu. Orang mempunyai derajat yang tinggi dalam sugestibilitas dan emosionalitas yang negatif ( seperti kecemasan, rasa berdosa, pemusuhan, dan sebaginya ). Masalah-masalah emosional terletak dalam berpikir yang tidak logis. Dengan mengoptimalkan kekuatan intelektualnya, seseorang dapat membebankan dirinya dari gangguan emosional. Lanjutkan membaca
11
Mar
Oleh luthfis pada Akhlak. Tinggalkan sebuah Komentar
Oleh: Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc.
Satu-satunya manusia yang dilahirkan di bawah naungan Ka’bah adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika ibunya, Fathimah binti Asad, dalam keadaan hamil tua, ia thawaf mengelilingi Ka’bah. Pada saat itulah, datang tanda-tanda bahwa ia akan segera melahirkan. Abu Thalib lalu membawanya masuk ke dalam Ka’bah dan di tempat itulah Ali bin Abi Thalib lahir.
Menurut satu riwayat, ibunya meminta agar anak yang baru lahir itu diberi nama Haidar, yang berarti singa. Kakek dari arah ibunya bernama Asad, yang juga berarti singa. Tetapi Abu Thalib berkata, “Kita tunggu saja sampai Rasulullah saw datang.” Masih menurut riwayat ini, Ali kecil tidak mau menyusu kepada ibunya sebelum Rasulullah saw datang. Ketika Rasulullah saw tiba, ia mengecup Ali dan Ali pun mengecup Nabi. Rasulullah saw menamainya ‘Ali yang berarti orang yang memiliki ketinggian. ‘Ali adalah salah satu nama Tuhan. Misalnya dalam ayat, “Wa lâ ya’udduhû hifzhuhumâ wa huwal ‘aliyul ‘azhîm.” (QS. Al-Baqarah 255). Sama halnya dengan nama Muhammad, yang juga merupakan nama Tuhan, seperti dalam hadits Qudsi, “Ana Mahmud, wa anta Muhammad. Aku Tuhan adalah Yang Terpuji dan engkau juga adalah yang terpuji,” Lanjutkan membaca
11
Mar
Oleh luthfis pada Psikologi. & Komentar
Oleh: Lutfi Seli Fauzi
Definisi Homoseksual
Homoseksual merupakan salah satu masalah yang menghinggapi remaja saat ini. Fakta dilapangan menunjukan bahwa perilaku homoseksual dilakukan mulai umur remaja. Sebagai contoh, jumlah homoseksual di Kanada sekitar 1% dari keseluruhan penduduknya, dengan usia 18-59 tahun. Sedangkan di Amerika berdasarkan hasil penelitian dari National Center for Health Research (Kamilia Manaf: 2007) tahun 2002 sekitar 4,4% masyarakat Amerika pernah melakukan hubungan homoseksual, dengan usia 15-44 tahun. Di Indonesia sendiri (Deti Riyanti dan Sinly Evan Putra: 2008) berdasarkan hasil statistik menunjukan bahwa sekitar 8 sampai 10 juta pria pernah terlibat dalam hubungan homoseksual.
Para ahli mendefinisikan homoseksual secara beragam, menurut Deti Riyanti dan Sinly Evan Putra (2008) homoseksual dapat diartikan sebagai kelainan terhadap orientasi seksual yang ditandai dengan timbulnya rasa suka terhadap orang lain yang mempunyai kelamin sejenis atau identitas gender yang sama. Sedangkan Kaplan (Wayan Westa: 2006) mengemukakan bahwa homoseksual adalah penyimpangan psikoseksual di mana seseorang dewasa tertarik gairah seksualnya dengan teman sejenis.
Lanjutkan membaca
24
Feb
Oleh luthfis pada Akhlak. Tinggalkan sebuah Komentar
Wawancara bersama Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc
Salah satu perkembangan memprihatinkan di masyarakat Islam Indonesia belakangan ini adalah makin kuatnya kecenderungan meninggalkan akhlak ketika menghadapi perbedaan dalam paham keagamaan. Karena itu, Dr. Jalaluddin Rakhmat menulis buku Dahulukan Akhlak di Atas Fikih, yang akan diluncurkan pekan ini di Jakarta. Apa isi buku itu dan bagaimana Kang Jalal—sapaan cendikiawan muslim itu—melihat perkembangan masyarakat Indonesia? Berikut perbincangan Burhanuddin dan M. Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (KIUK) dengan beliau, Kamis (29/9) lalu.JIL: Kang Jalal, tanggal 8 Oktober ini, Anda akan meluncurkan buku Dahulukan Akhlak di Atas Fikih. Apa latar belakang penulisannya?
DR. JALALUDDIN RAHMAT: Saya harus mengingat kembali pengalaman hidup saya. Saya dilahirkan dalam keluarga nahdliyin. Kakek saya punya pesantren di puncak bukit Cicalengka. Ayah saya pernah ikut serta dalam gerakan keagamaan untuk menegakkan syariat Islam. Begitu bersemangatnya, beliau sampai meninggalkan saya pada waktu kecil dan bergabung dengan para pecinta syariat. Saya lalu berangkat ke kota untuk belajar, dan bergabung mula-mula dengan kelompok Persatuan Islam (Persis) dan masuk kelompok diskusi yang menyebut dirinya Rijâlul Ghad, atau pemimpin masa depan.
Lanjutkan membaca
13
Feb
Oleh luthfis pada Psikologi. & Komentar
SKIZOFRENIA adalah gangguan yang kompleks yang dapat muncul dalam beberapa bentuk.
GEJALAAda 2 kategori gejala:
ditandaiè1. gejala positif = gejala tipe I munculnya persepsi, pikiran, dan perilaku yang tidak biasa secara menonjol, misalnya: halusinasi, delusi, pikiran dan pembicaraan kacau, dan perilaku katatonik.
ditandai hilangnya atauè2. gejala negatif = gejala tipe II berkurangnya kemampuan di area tertentu, misalnya tidak munculnya perilaku tertentu, afek datar, dan alogia (tidak mau bicara).
Selain gejala2 tsb, terdapat beberapa ciri lain skizofrenia, yang sebenarnya bukan kriteria formal untuk diagnosa namun sering muncul sebagai gejala, yaitu:
1. afek yang tidak tepat (mis. Tertawa saat sedih dan menangis saat bahagia),
2. anhedonia (kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi ttt, apapun yang dialami tidak dapat merasakan sedih atau gembira), dan
3. ketrampilan sosial yang terganggu (mis. kesulitan memulai pembicaraan, memelihara hubungan sosial, dan mempertahankan pekerjaan).
Lanjutkan membaca
13
Feb
Oleh luthfis pada Psikologi. & Komentar
Oleh: M.M. Nilam Widyarini M.Si.
Jika orang yang Anda kenal merasa diri hebat, mengaku jenderal, bahkan malaikat, nabi, atau wakil Tuhan, waspadailah. Siapa tahu ia mengalami gangguan bipolar (manik depresi).
Salah satu tanda bipolar yang menonjol, menurut Dr. Yul Iskandar, Sp.KJ, Ph.D, psikiater dari RS Khusus Dharma Graha, memang delusi kebesaran (grandiosity). Celakanya, orang bipolar juga biasanya memiliki insting kuat dan apa yang terjadi pada dirinya sepertinya masuk akal, sehingga orang lain mudah tersugesti.
“Karenanya tak sedikit orang yang mengaku hebat itu lalu banyak pengikutnya, meskipun klaim bahwa dia mendapat suara atau bisikan sulit dibuktikan,” tutur Dr. Yul.
Kondisi itu tak ubahnya hidup keseharian kita yang diberondong tayangan magis-mistik, dan lama-kelamaan membuat kita percaya juga. Lanjutkan membaca
4
Feb
Oleh luthfis pada Akhlak. Tinggalkan sebuah Komentar
Di bawah ini akan kami ungkapkan pandangan beberapa tokoh organisasi Ikhwanul Muslimin terhadap upaya pendekatan dan persatuan di antara mazhab Ahlulsunnah dan Syi’ah.
Asy-Syahid Hasan Al-Banna telah menghidupkan pemikiran untuk mempersatukan Ahlulsunnah dan Syi’ah. Ia sendiri adalah peserta aktif Jama’ah Taqrib. Sehubungan dengan itu, Imam Hasan Al-Banna pernah berjumpa dengan pemimpin Syi’ah, Ayatullah Abdul Qasim Kasyani pada musim haji tahun 1948, dan terjadilah saling pengertian di antara mereka, seperti yang dinyatakan Abdul Muta’al Al-Jabri dalam bukunya Limadza Yuqtalu Hasan (Mengapa Hasan Al-Banna Dibunuh?). Al-Jabri, seorang murid Al-Banna, mengutip kata-kata Robert Jackson: ”Apabila laki-laki ini berusia lebih panjang, mungkin ia akan membawa banyak manfaat bagi negeri ini, terutama sehubungan dengan persetujuan antar Al-Banna dengan Ayatullah Kasyani, seorang ulama besar Iran, untuk mencabut akar-akar perpecahan antara Sunni dan Syi’ah. Mereka bertemu di Hijaz (Saudi Arabia) tahun 1948. Nampaknya mereka telah mengadakan pembicaraan-pembicaraan dan telah mencapai suatu pengertian dasar, tetapi Al-Banna segera dibunuh.” (Edisi I, hal.33)
Lanjutkan membaca