Oleh: Lutfi S. Fauzi

 

            “Aku (Hasyim, si tukang pos) pernah berkumpul bersama Abu Muhammad bin Maslam dan Abu Al-Khattab. Lalu Abu Al-Khattab berkata kepada kami, “Bagaimanakah pendapat kalian tentang orang yang tidak mengetahui perkara ini (Imamah)?” maka saya menjawab, “Barangsiapa yang tidak mengetahui perkara tersebut, dia adalah kafir”. Kemudian Abu al-Khattab berkata lagi, “Orang tersebut tidak kafir, sampai ada bukti atau alasan-alasan yang menguatkannya. Kalau ada alasan yang menguatkannya, maka ia kafir”. Lalu Muhammad bin Maslam menyambung dialog tersebut, “Subhanallah, apakah orang tidak tahu dan menentang itu dikafirkan? Kalau dia tidak menentang, dia tidak kafir”. Maka pada suatu musim haji aku menemui Abu Abdillah, dan kuceritakan peristiwa tersebut kepadanya. Lalu Abu Abdillah berkata, “Engkau datang tapi dua orang temanmu yang lain tidak ada. datanglah pada malam pelemparan jumrah al-wustha di Mina”.

            “Ketika tiba malam yang dijanjikan, kami bertemu disertai Abu al-Khattab dan Muhammad bin Maslam. Imam Shadiq mengambil bantal dan meletakkannya di dada, kemudian berkata, “apakah para pembantu, wanita, dan anggota keluarga kalian bahwa tiada Tuhan Selain Allah?” aku menjawab: “Ya, betul”. Seterusnya beliau bertanya pula, “Bukankah mereka bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah?” saya menjawab, “Ya, betul”. Seterusnya beliau bertanya pula “Apakah mereka mengetahui apa yang kalian ketahui (imamah)?” saya menjawab “tidak”. Imam Shadiq bertanya pula “bagaimanakah mereka menurut pendapat kalian?” Aku berkata, “Barangsiapa tidak mengetahui Imam mereka, maka mereka adalah kafir”.

Imam Shadiq berkata: “Tahukah kalian ahli jalan dan ahli air?” Aku berkata, “ya, aku tahu”. Imam Shadiq berkata, “apakah mereka shalat puasa dan haji? Dan apakah mereka bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rosulullah?” Aku berkata, “Ya, Betul”.  Imam Shadiq berkata: “Apakah mereka juga tahu tentang Imamah?” Saya berkata, “Tidak”. Imam Shadiq berkata, “Bagaimanakah mereka menurut pendapat kalian?” Saya berkata, “Barangsiapa tidak mengetahuinya, maka dia kafir”. Imam Shadiq berkata, “Subhanallah, apakah kalian melihat Ka’bah dan orang-orang Yaman yang bertawaf dan bergelantungan pada kiswah Ka’bah?” Saya berkata, “Ya”. Imam Shadiq berkata, “apakah mereka berasaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rosulullah? Dan  apakah mereka shalat puasa dan haji?” saya berkata, “Ya”. Imam Shadiq berkata: “Apakah mereka tahu tentang Imamah?” Saya berkata, “Tidak”. Imam Shadiq berkata, “Bagaimanakah mereka menurut pendapat kalian?” Saya berkata, “Barangsiapa tidak mengetahuinya, maka dia kafir”. Imam Shadiq berkata, “Subhanallah, ini adalah perkataan orang Khawarij!”. Kemudian beliau melanjutkan perkataannya, “maukah kalian aku beri tahu?” aku menjawab, “tidak”.  Lalu imam Shadiq berkata, “Adalah jelek sekiranya kalian mengatakan sesuatu yang belum kalian dengar dari kami”. Hasyim berkata, “saya mengira bahwa Imam Shadiq hendak menggiring kami pada pendapat Muhammad bin Maslam (yaitu orang yang tidak tahu dan tidak menentang tidak termasuk orang kafir)”. (Al-Kafi, Jilid II, Hal. 401-402)

            “Ini adalah perkataan Khawarij!” itulah yang dikatakan Imam Ja’far Shadiq untuk menunjukan bahwa kita tidak boleh mengkafirkan sesama orang yang mengucapkan Laailaaha illa Allah, Muhammadurrasulullah. Tidak jarang diantara kita dengan mudahnya menganggap orang lain sebagai kafir karena pendapatnya bertentangan dengan kita, dengan lancang kita mengklaim bahwa kunci-kunci surga ada ditangan kita.

            Dengan mudahnya kita menganggap orang lain sesat, kafir, dan berbagai julukan jelek lainnya hanya dikarenakan orang tidak sepaham dengan pendapat kita. Kitapun mengklaim bahwa kita adalah pemilik kebenaran yang mutlak, sehingga orang yang bertentangan dengan kita pasti masuk neraka. Dewasa ini masih saja ada orang yang berpemahaman seperti itu. Dikalangan Syiah misalnya pernah ada sebagain kecil yang berpendapat sama dengan Hasyim dalam kisah daitas.   Sebagian orang-orang Ahlusunnah (Wahhabi dan yang terpengaruh olehnya) dengan mudahnya mengakfirkan, menyesatkan, memusyrikkan, membid’ahkan, orang-orang yang tidak sependapat dengan mereka, bahkan tidak jarang saling mengkafirkan diantara sesama mereka sendiri. Ini adalah perkataan Khawarij!

            Apakah kita Khawarij? Kita lihat diri kita, identified your self. Silahkan anda mengidentifikasi diri anda, apakah anda memahami teks al-Quran dan Hadits secara tekstual? Apakah anda sangat rajin beribadah siang dan malam tapi anda juga rajin mengkafirkan saudara sendiri siang dan malam? Kalau ya, mungkin anda memang Khawarij.

            Fenomena kafir mengkafirkan ini sungguh sangat tidak sesuai dengan ajaran Islam khususnya mazhab Ahlul Bayt (Syiah) yang mengklaim sebagai mazhab cinta. Ditambah lagi realitas hari ini dunia Islam tengah tercabik-cabik oleh kekuatn asing yang ingin menghancurkan ajaran suci Islam. Ketika orang-orang Barat (Amerika cs.) memporakporandakan dunia Islam, kita sesama myuslim malah sibuk saling mengkafirkan sesama bukannya melawan penjajah. 

            Inilah dilema yang dihadapi oleh kita umat Islam kita saling mengkafirkan sesama muslim tapi bersikap lemah lembut terhadap orang yang sudah jelas-jelas kafir. Kita mengkafirkan sesama muslim, tapi kita malah ikut membantu orang-orang yang yanghancurkan Islam, dan itulah salah satu ciri khawarij!

            Saya akan menutup tulisan ini dengan sebuah kisah lagi masih tentang khawarij. Suatu hari Hasan al-Bashri, salah seorang ulama generasi thabiin hendak melintasi suatu daerah, ditengah-tengah perjalanan ia bertemu dengan orang khawarij. Lantas dengan wajah seramnya, Khawarij itu bertanya kepada Hasan al-Bashri “engkau Muslim atau Musyrikin?” Hasan al-Bashri menjawab, “Musyrikin”. Seketika wajah sang khawarij berubah menjadi wajah yang ceria penuh senyuman dan bersikap ramah terhadap Hasan al-Bashri, sampai akhirnya ia bisa melewati daerah tersebut denagn aman. Inilah sikap khawarij, apakah anda termasuk khawarij?

 

Wallahualam.