Beranda

Dahulukan Akhlak diatas Fikih

Tinggalkan komentar

Wawancara bersama Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc 

Salah satu perkembangan memprihatinkan di masyarakat Islam Indonesia belakangan ini adalah makin kuatnya kecenderungan meninggalkan akhlak ketika menghadapi perbedaan dalam paham keagamaan. Karena itu, Dr. Jalaluddin Rakhmat menulis buku Dahulukan Akhlak di Atas Fikih, yang akan diluncurkan pekan ini di Jakarta. Apa isi buku itu dan bagaimana Kang Jalal—sapaan cendikiawan muslim itu—melihat perkembangan masyarakat Indonesia? Berikut perbincangan Burhanuddin dan M. Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (KIUK) dengan beliau, Kamis (29/9) lalu.JIL: Kang Jalal, tanggal 8 Oktober ini, Anda akan meluncurkan buku Dahulukan Akhlak di Atas Fikih. Apa latar belakang penulisannya?

DR. JALALUDDIN RAHMAT: Saya harus mengingat kembali pengalaman hidup saya. Saya dilahirkan dalam keluarga nahdliyin. Kakek saya punya pesantren di puncak bukit Cicalengka. Ayah saya pernah ikut serta dalam gerakan keagamaan untuk menegakkan syariat Islam. Begitu bersemangatnya, beliau sampai meninggalkan saya pada waktu kecil dan bergabung dengan para pecinta syariat. Saya lalu berangkat ke kota untuk belajar, dan bergabung mula-mula dengan kelompok Persatuan Islam (Persis) dan masuk kelompok diskusi yang menyebut dirinya Rijâlul Ghad, atau pemimpin masa depan.

Lagi

Skizofrenia

11 Komentar

SKIZOFRENIA adalah gangguan yang kompleks yang dapat muncul dalam beberapa bentuk.

GEJALAAda 2 kategori gejala:
 ditandai
è1. gejala positif = gejala tipe I  munculnya persepsi, pikiran, dan perilaku yang tidak biasa secara menonjol, misalnya: halusinasi, delusi, pikiran dan pembicaraan kacau, dan perilaku katatonik.
 ditandai hilangnya atau
è2. gejala negatif = gejala tipe II  berkurangnya kemampuan di area tertentu, misalnya tidak munculnya perilaku tertentu, afek datar, dan alogia (tidak mau bicara).

Selain gejala2 tsb, terdapat beberapa ciri lain skizofrenia, yang sebenarnya bukan kriteria formal untuk diagnosa namun sering muncul sebagai gejala, yaitu:
1. afek yang tidak tepat (mis. Tertawa saat sedih dan menangis saat bahagia),
2. anhedonia (kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi ttt, apapun yang dialami tidak dapat merasakan sedih atau gembira), dan
3. ketrampilan sosial yang terganggu (mis. kesulitan memulai pembicaraan, memelihara hubungan sosial, dan mempertahankan pekerjaan).

Lagi

Bipolar, Merasa Diri Nabi

32 Komentar

lia-eden.jpg Oleh: M.M. Nilam Widyarini M.Si.
Jika orang yang Anda kenal merasa diri hebat, mengaku jenderal, bahkan malaikat, nabi, atau wakil Tuhan, waspadailah. Siapa tahu ia mengalami gangguan bipolar (manik depresi). 
Salah satu tanda bipolar yang menonjol, menurut Dr. Yul Iskandar, Sp.KJ, Ph.D, psikiater dari RS Khusus Dharma Graha, memang delusi kebesaran (grandiosity). Celakanya, orang bipolar juga biasanya memiliki insting kuat dan apa yang terjadi pada dirinya sepertinya masuk akal, sehingga orang lain mudah tersugesti. 

“Karenanya tak sedikit orang yang mengaku hebat itu lalu banyak pengikutnya, meskipun klaim bahwa dia mendapat suara atau bisikan sulit dibuktikan,” tutur Dr. Yul. 

Kondisi itu tak ubahnya hidup keseharian kita yang diberondong tayangan magis-mistik, dan lama-kelamaan membuat kita percaya juga.  Lagi