Oleh : Lutfi Seli Fauzi

 

            Matahari padang pasir memancarkan sinarnya dan membakar kulit orang-orang yang berjalan dibawahnya. Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam berjalan menuju sebuah rumah sederhana, rumah itu adalah rumah orang tua miskin yang buta, Yahudi lagi. Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam sering mengunjunginya dan memberikan makanan kepadanya. Tidak hanya itu Rosulullah juga menyuapinya, bukan sekedar menyuapi lelaki tua Yahudi tersebut, beliau juga menghaluskan terlebih dahulu makanan yang hendak diberikan kepada orang tua tersebut dengan menyunyahnya.

            Seringkali sang Yahudi tua mencaci maki Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam, ia mencaci-maki beliau bahkan dihadapan Rosulullah sendiri yang sedang menyuapinya. Hebatnya Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam, beliau tidak memberitahu si Yahudi tersebut bahwa dirinya adalah Muhammad saw. yang selalu dihinanya. Rosulullah tidak menghiraukan ucapan Yahudi tersebut dan terus saja beliau berkunjung ke rumah sang Yahudi dan memberikan makanan sampai akhir hayat beliau saw.

 

            Setelah Rosulullah saw. Wafat, Abu Bakar menjadi khalifah. Ia mengunjungi Aisyah dan bertanya kepadanya tentang amalan yang biasa dilakukan oleh Rosulullah. Lantas Aisyah menjawab bahwa ia tidak akan mampu menyaingi akhlaq Rosulullah saw, ia menceritakan kepada Abu Bakar tentang kebisaan Rosulullah memberi makan kepada sang Yahudi tersebut. Abu Bakar mendatangi gubuk sang Yahudi buta tersebut, tanpa berbicara apa-apa ia langsung menyuapi orang Yahudi. Seketika sang Yahudi merasa ada yang berbeda, kali ini bukan seperti biasanya.

Dialogpun terjadi diantara Abu Bakar dan Yahudi buta tersebut. Yahudi berkata kepada Abu Bakar, “aku tahu engkau bukanlah orang yang biasa datang menyuapiku.”

            Abu Bakar bertanya. “ kenapa kau tahu aku bukan orang yang biasa datang kepadamu?”

            “Orang yang biasa datang kepadaku senantiasa menyuapiku dengan terlebih dahulu menghaluskannya dengan mulutnya, sedangkan kau tidak. Ia begitu mengerti aku, ia memenuhi semua keperluanku, sungguh engau sangat berbeda jauh dengan orang yang biasa menyuapiku” Jawab pria tua tersebut.

            “Engkau benar, aku bukanlah orang itu. Orang yang biasa datang menyuapimu adalah Muhammad Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam dan kini ia telah meninggal dunia.” Timpal Abu Bakar. Selanjutnya diriwayatkan bahwa kemudian orang Yahudi tersebut menangis dan menyesali perbuatannya menghina orang yang selama ini menyuapinya, sampai akhirnya ia masuk Islam.

            Dari kisah ini kita dapat melihat bagaimana tingginya akhlaq Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam terhadap orang lain bahkan orang Yahudi yang menghinanya (Sudah Yahudi, miskin buta lagi!) sekalipun. Saat ini, kita sungguh jauh dari akhlaq beliau tersebut. kita mengenal Rosulullah dan apa yang dibawanya adalah rahmat bagi semesta alam, tapi karena keegoisan, kita telah mengkebiri ajaran cinta Rosulullah, ajaran ukhuwah rosulullah hanya untuk kaum muslimin saja. Rosulullah bukan lagi rahmatan lil alamin, tapi rahmatan lil muslimin. Bukan hanya itu, bahkan rahmatan lil musliminpun tidak, rahmat rosulullah berubah menjadi rahmatan lil mazhaby, rahmat sosulullah hanya untuk suatu mazhab tertentu, lebih ekstrim lagi rahmat bagi maszhabnyapun tidak, tapi rahmat bagi sekelompok orang yang mengikuti ustadz tertentu saja walaupun satu mazhab bahkan mungkin satu kampung.

            Ah, sungguh aneh kita ini. Kita membatasi rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu hanya kepada sebuah sudut kecil di tempat kita mengaji. Rahmat Alloh yang terimplementasikan dalam Rahmat Rosulullah telah berubah menjadi sesuatu yang menakutkan.  Islampun berubah wajahnya menjadi ajaran yang dianggap menakutkan bahkan membahayakan, bukan karena orang luar Islam tapi karena ulah umat Islam itu sendiri.

            Dengan mudahnya lidah kita mencap kafir, sesat, bid’ah, dan embel-embel buruk lainnya terhadap orang yang tidak sepemahaman dengan kita. Hanya karena berbeda pemahaman dalam cabang fikih ataupun cabang akidah, kita tidak mau lagi bersatu. Masjidpun sengaja dibuat beberapa buah dalam satu kampung, sebagai lambang pemahaman kita. Masjid A untuk organisasi A, masjid B untuk organisasi B, masjid C untuk organisasi C, dan seterusnya. Bahkan mungkin dalam satu kampung bisa terdiri dari lima masjid, yang masing-masing menggunakan pemahaman yang berbeda, padahal semuanya tetap sama, Islam! Itu baru dengan berbeda mazhab, apalagi kalau berbeda agama tentunya lebih parah lagi.

             Kunci utama dari Rahmatan lil alamin ini adalah bagaimana kita mampu menjalin hubungan yang baik antar sesama manusia ataupun dengan semua mahluk Alloh yang lainnya. Antar orang yang berbeda mazhab prinsip yang harus dipegang adalah bahwa kita adalah sesama muslim, masih orang yang berikrar Laa ilaaha illa alloh, Muhamamdar rosulullah. Selama terucap kalimat ini dan melaksanakan pokok ibadah, maka ia jelas-jelas adalah muslim dan tidak selayaknya kita membid’ahkan, menyesatkan, bahkan mengkafirkan. Begitu pula jika ada orang yang berbeda secara prinsip, seperti tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir, berbeda agama, tetap harus kita perlakukan secara baik, sebagai apa? Tentunya bukan sebagai Muslim tapi sebagai sesama manusia, atau dalam istilah Nabi Muhammmad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam ketika berdiri untuk menghormati mayat orang musyrik, beliau berkata kepada sahabatnya yang protes atas penghormatan Nabi tersebut “Bukankah dia juga manusia?” kata Nabi (Shahih Bukhori).

            Jangan biarkan kita rusak ajaran cinta Muhammad oleh tingkah laku kita, jangan biarkan rahmatan lilalaminnya Rosulullah kita kebiri, kita batasi hanya kepada kelompok kita saja, kita batasi hanya kepada pemahaman kita saja. Rahmatan lil ‘alaminnya rosulullah itu bukan milik anda, bukan milik jemaah pengajian anda, bukan milik organisasi anda, bukan milik mazhab anda, bukan hanya milik umat islam saja, Rahmatan lil ‘alaminnya rosulullah adalah milik kita bersama! milik semesta!