Oleh: Luthfi Seli Fauzi

 

            Beberapa tahun yang lalu tepatnya beberapa hari setelah hari raya ‘Idul Fitri, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan kehidupan dan suasana hari ‘Idul Fitri yang dialami oleh para anggota Ahmadiyah di tempat pengungsian (lebih tepatnya pengasingan) setelah sebelumnya mereka diusir dari kampung halaman mereka karena keyakinan mereka yang dianggap menyimpang. Jujur, saya pribadi menyaksikan tayangan tersebut merasa terharu, sedih, marah, dan bingung.

            Bagaimana rumah mereka dihancurkan, bagaimana mereka diusir dari tempat kelahirannya, bagaimana anak-anak mereka dijauhi oleh teman-temannya, bagaimana diri mereka dihakimi secara tidak adil layaknya penjahat, dan berbagai perlakuan yang menurut saya sangat tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Jujur, saya meneteskan air mata ketika melihat mereka tinggal di tempat pengasingan yang kumuh, mereka merayakan ‘idul fitri dengan kesedihan, tak ada baju baru, tak ada makanan enak, bahkan untuk tidur saja antar keluarga hanya dipisah oleh sekat kain sarung. Saya tanpa sadar meneteskan air mata dan marah ketika sebuah rumah dilempari batu, sedangkan didalam rumah tersebut berbaring seorang nenek tua yang sudah tidak bisa berjalan. Karena apa ia diperlakukan seperti itu? Hanya karena dia pengikut Ahmadiyah!

            Tunggu dulu! Saya memaparkan kisah ini bukan berarti saya pro Ahmadiyah, bukan berarti saya membela ajaran Ahmadiyah, apalagi meyakininya (Nauzhubillahi min dzalik). Saya pribadi sangat tidak setuju sekali dengan ajaran Ahmadiyah, saya juga tidak setuju kalau Ahmadiyah dikategorikan sebagai Muslim (sebagaimana fatwa Imam Khomeini yang menyatakan bahwa Ahmadiyah telah murtad), tapi ada satu hal yang harus kita ingat bahwa para pengikut Ahmadiyah adalah juga manusia. Jadi perlu saya tekankan bahwa saya tidak membela ajaran Ahmadiyah, tapi saya membela pengikut Ahmadiyah.

            Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebab tindakan kekerasan yang dialamatkan kepada pengikut Ahmadiyah dikarenakan ajaran mereka yang telah menyimpang jauh dari ajaran pokok Islam namun tetap membawa embel-embel Islam, ditambah lagi sikap keberagamaan mereka yang sangat eksklusif (saya sendiri dulu mempunyai kawan orang Ahmadiyah dan saking eksklusifnya mereka tidak mau sholat berjamaah kecuali kalau dia sendiri atau pengikut Ahmadiyah lain yang menjadi Imam). Pola penyebaran gerakan Ahmadiyah yang mirip misionaris kristenpun menjadi faktor penyebab banyaknya konflik diberbagai daerah. Tapi permasalahannya adalah apakah betul membendung arus Ahmadiyah dengan kekerasan? Inilah inti masalahnya.

            Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, justru malah menambah masalah baru, yang terpenting sekarang adalah bagaimana agar orang yang sudah terlanjur menjadi pengikut Ahmadiyah dapat kembali kepada Islam, tentunya bukan dengan paksaan apalagi penyiksaan tapi dengan dialog, dari hati kehati.

Keyakinan adalah masalah hati, bukan materi. Masalah keyakinan bukanlah suatu hal yang mudah untuk dirubah, semudah membalikan telapak tangan. Saya yakin seandainya orang-orang Ahmadiyah dibantai, tetap saja mereka tidak akan bergeming dari keyakinan yang dianutnya atau kalaulah ada yang secara lisan mengaku bertaubat, tetap saja hati mereka tidak bisa berbohong, jauh dilubuk hati mereka Ahmadiyah adalah kebenaran.

            Mengenai pembubaran organisasi Ahmadiyah, saya sendiri masih ragu. Karena walau bagaimanapun, semakin Ahmadiyah ditekan justru malah akan semakin berkembang, dan yang perlu diingat adalah bahwa gerakan Ahmadiyah ini bukanlah gerakan yang bersifat Nasional tapi Internasional sehingga sia-sia saja membubarkan mereka di Indonesia tapi gerakan Internasional tetap kuat (Apalagi Ahmadiyah didukung oleh Amerika, Inggris, Kanada, dan negara Eropa lainnya). Dampak pembubaran ini juga sangat besar, dan dapat menimbulkan aksi kekerasan yang semakin menjadi-jadi, yang pada akhirnya citra Islam yang dipertaruhkan.

            Pembubaran Organisasi Ahmadiyah, harus dibarengi dengan fatwa mutlak mengenai tidak bolehnya melakukan tindakan anarkisme terhadap para pengikut Ahmadiyah beserta asetnya. Disinilah peran MUI sebagai lembaga yang menaungi Ormas-ormas Islam di Indonesia. MUI harus tegas menangani tindakan kekerasan ini karena diakui atau tidak MUI juga ikut menyumbang dalam tindakan anarkisme terhadap pengikut Ahmadiyah melalui fatwa yang dikeluarkannya. Begitu pula dengan PAKEM dan kepolisian, semua harus bertanggung jawab terhadap keselamatan warga Ahmadiyah.

            Saya meyakini selama seseorang berikrar bahwa tiada tuhan selain Alloh dan meyakini Nabi Muhammad shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam sebagai Nabi terakhir, maka ia adalah muslim. Jika seseorang keluar dari garis tersebut, maka tercabutlah hak-haknya sebagai seorang Muslim, namun walaupun begitu ia tetap mempunyai hak sebagai seorang manusia. Kalau memang Ahmadiyah bukan muslim, lantas apa hak kita untuk merampas hak mereka sebagai seorang manusia? Atau dalam sebuah jawaban yang diberikan Rosulullah kepada sahabatnya yang protes karena Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam menghormati mayat orang yahudi beliau berkata: “Bukankah ia juga manusia?”. Kalau kita transformasikan ucapan Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam tersebut kepada kasus Ahmadiyah, saya akan berkata: “Bukankah Ahmadiyah juga manusia?”.

Kita harus bijak menyikapi kasus Ahmadiyah ini. Kita harus menempatkan diri kita sebagai orang yang netral, kita harus bisa melihat tidak hanya dari sudut pandang kita sebagai seorang muslim, tapi kita juga harus melihat masalah ini dari sudut pandang Ahmadiyah sendiri. Kita bukanlah Tuhan yang berhak menghakimi keyakinan seseorang, kita hanyalah manusia biasa yang mencoba memahami realitas yang ada, dan tentu saja realitas yang terlihat oleh kita akan dipahami secara berbeda pula oleh setiap orang. Oleh karena itu gunakanlah kacamata universal untuk melihat realitas yang ada, kacamata kemanusiaan.