Beranda

Memadamkan Api Dengan Setetes Air Mata

5 Komentar

“Segala sesuatu (di dunia ini) pasti memiliki timbangan dan takaran kecuali air mata, karena satu tetes darinya dapat memadamkan lautan api”.(Imam Ja’far Shadiq as.)

Orang-orang yang menangis memiliki faktor yang beraneka ragam. Kadang-kadang faktor pendorongnya untuk menangis adalah kehilangan harta, putranya meninggal dunia, penyesalan atas dosa-dosa yang pernah dilakukannya, dan banyak faktor lain yang mungkin dimiliki oleh seseorang.Sebagai sarana mengekspresikan emosi, tetesan air mata mengkomunikasikan pesan dengan makna-makna tertentu. Ia mengekspresikan suasana hati yang terdalam, entah sedih, gembira, takut, atau sakit. Sehingga nilai air mata begitu istimewa, khusus, serta berkesan. Bukankah hati hanya bisa disentuh oleh hati lagi? Maka jangan heran, jika air mata bisa meluluhkan hati yang keras, serta menaklukkan sesuatu yang tidak bisa ditaklukkan dengan pedang.

Lagi

Iklan

Sungguh akan Kami Berikan Cobaan Kepadamu

4 Komentar

Pernahkah kita merasa diuji oleh Allah? Kita cenderung mengatakan kalau kita ditimpa kesusahan maka kita sedang mendapat cobaan dan ujian dari Allah. Jarang sekali kalau kita dapat rezeki dan kebahagiaan kita teringat bahwa itupun merupakan ujian dan cobaan dari Allah. Ada diantara kita yang tak sanggup menghadapi ujian itu dan boleh jadi ada pula diantara kita yang tegar menghadapinya.

Al-Qur’an mengajarkan kita untuk berdo’a: “Ya Tuhan kami, jangnlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya…”(QS 2: 286)

Do’a tersebut lahir dari sebuah kepercayaan bahwa setiap derap kehidupan kita merupakan cobaan dari Allah. Kita tak mampu menghindar dari ujian dan cobaan tersebut, yang bisa kita pinta adalah agar cobaan tersebut sanggup kita jalani. Cobaan yang datang ke dalam hidup kita bisa berupa rasa takut, rasa lapar, kehilangan, kurang harta dan lainnya.

Lagi

Menyikapi Kasus Ahmadiyah

5 Komentar

Oleh: Luthfi Seli Fauzi

 

            Beberapa tahun yang lalu tepatnya beberapa hari setelah hari raya ‘Idul Fitri, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan kehidupan dan suasana hari ‘Idul Fitri yang dialami oleh para anggota Ahmadiyah di tempat pengungsian (lebih tepatnya pengasingan) setelah sebelumnya mereka diusir dari kampung halaman mereka karena keyakinan mereka yang dianggap menyimpang. Jujur, saya pribadi menyaksikan tayangan tersebut merasa terharu, sedih, marah, dan bingung.

            Bagaimana rumah mereka dihancurkan, bagaimana mereka diusir dari tempat kelahirannya, bagaimana anak-anak mereka dijauhi oleh teman-temannya, bagaimana diri mereka dihakimi secara tidak adil layaknya penjahat, dan berbagai perlakuan yang menurut saya sangat tidak mencerminkan nilai-nilai Islam. Jujur, saya meneteskan air mata ketika melihat mereka tinggal di tempat pengasingan yang kumuh, mereka merayakan ‘idul fitri dengan kesedihan, tak ada baju baru, tak ada makanan enak, bahkan untuk tidur saja antar keluarga hanya dipisah oleh sekat kain sarung. Saya tanpa sadar meneteskan air mata dan marah ketika sebuah rumah dilempari batu, sedangkan didalam rumah tersebut berbaring seorang nenek tua yang sudah tidak bisa berjalan. Karena apa ia diperlakukan seperti itu? Hanya karena dia pengikut Ahmadiyah!

Lagi

Dimanakah Rahmatan Lil ‘Alamin itu?

3 Komentar

Oleh : Lutfi Seli Fauzi

 

            Matahari padang pasir memancarkan sinarnya dan membakar kulit orang-orang yang berjalan dibawahnya. Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam berjalan menuju sebuah rumah sederhana, rumah itu adalah rumah orang tua miskin yang buta, Yahudi lagi. Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam sering mengunjunginya dan memberikan makanan kepadanya. Tidak hanya itu Rosulullah juga menyuapinya, bukan sekedar menyuapi lelaki tua Yahudi tersebut, beliau juga menghaluskan terlebih dahulu makanan yang hendak diberikan kepada orang tua tersebut dengan menyunyahnya.

            Seringkali sang Yahudi tua mencaci maki Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam, ia mencaci-maki beliau bahkan dihadapan Rosulullah sendiri yang sedang menyuapinya. Hebatnya Rosulullah shallallohu ‘alayhi wa alihi wa sallam, beliau tidak memberitahu si Yahudi tersebut bahwa dirinya adalah Muhammad saw. yang selalu dihinanya. Rosulullah tidak menghiraukan ucapan Yahudi tersebut dan terus saja beliau berkunjung ke rumah sang Yahudi dan memberikan makanan sampai akhir hayat beliau saw.

Lagi

ALI BIN ABI THALIB; PENDIRI MAZHAB CINTA

1 Komentar

 Oleh: Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc.

Satu-satunya manusia yang dilahirkan di bawah naungan Ka’bah adalah Ali bin Abi Thalib. Ketika ibunya, Fathimah binti Asad, dalam keadaan hamil tua, ia thawaf mengelilingi Ka’bah. Pada saat itulah, datang tanda-tanda bahwa ia akan segera melahirkan. Abu Thalib lalu membawanya masuk ke dalam Ka’bah dan di tempat itulah Ali bin Abi Thalib lahir. 
Menurut satu riwayat, ibunya meminta agar anak yang baru lahir itu diberi nama Haidar, yang berarti singa. Kakek dari arah ibunya bernama Asad, yang juga berarti singa. Tetapi Abu Thalib berkata, “Kita tunggu saja sampai Rasulullah saw datang.” Masih menurut riwayat ini, Ali kecil tidak mau menyusu kepada ibunya sebelum Rasulullah saw datang. Ketika Rasulullah saw tiba, ia mengecup Ali dan Ali pun mengecup Nabi. Rasulullah saw menamainya ‘Ali yang berarti orang yang memiliki ketinggian. ‘Ali adalah salah satu nama Tuhan. Misalnya dalam ayat, “Wa lâ ya’udduhû hifzhuhumâ wa huwal ‘aliyul ‘azhîm.” (QS. Al-Baqarah 255). Sama halnya dengan nama Muhammad, yang juga merupakan nama Tuhan, seperti dalam hadits Qudsi, “Ana Mahmud, wa anta Muhammad. Aku Tuhan adalah Yang Terpuji dan engkau juga adalah yang terpuji,” 
Lagi

Dahulukan Akhlak diatas Fikih

Tinggalkan komentar

Wawancara bersama Prof. Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc 

Salah satu perkembangan memprihatinkan di masyarakat Islam Indonesia belakangan ini adalah makin kuatnya kecenderungan meninggalkan akhlak ketika menghadapi perbedaan dalam paham keagamaan. Karena itu, Dr. Jalaluddin Rakhmat menulis buku Dahulukan Akhlak di Atas Fikih, yang akan diluncurkan pekan ini di Jakarta. Apa isi buku itu dan bagaimana Kang Jalal—sapaan cendikiawan muslim itu—melihat perkembangan masyarakat Indonesia? Berikut perbincangan Burhanuddin dan M. Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (KIUK) dengan beliau, Kamis (29/9) lalu.JIL: Kang Jalal, tanggal 8 Oktober ini, Anda akan meluncurkan buku Dahulukan Akhlak di Atas Fikih. Apa latar belakang penulisannya?

DR. JALALUDDIN RAHMAT: Saya harus mengingat kembali pengalaman hidup saya. Saya dilahirkan dalam keluarga nahdliyin. Kakek saya punya pesantren di puncak bukit Cicalengka. Ayah saya pernah ikut serta dalam gerakan keagamaan untuk menegakkan syariat Islam. Begitu bersemangatnya, beliau sampai meninggalkan saya pada waktu kecil dan bergabung dengan para pecinta syariat. Saya lalu berangkat ke kota untuk belajar, dan bergabung mula-mula dengan kelompok Persatuan Islam (Persis) dan masuk kelompok diskusi yang menyebut dirinya Rijâlul Ghad, atau pemimpin masa depan.

Lagi

Subhanallah, ini adalah perkataan Khawarij!

Tinggalkan komentar

Oleh: Lutfi S. Fauzi

 

            “Aku (Hasyim, si tukang pos) pernah berkumpul bersama Abu Muhammad bin Maslam dan Abu Al-Khattab. Lalu Abu Al-Khattab berkata kepada kami, “Bagaimanakah pendapat kalian tentang orang yang tidak mengetahui perkara ini (Imamah)?” maka saya menjawab, “Barangsiapa yang tidak mengetahui perkara tersebut, dia adalah kafir”. Kemudian Abu al-Khattab berkata lagi, “Orang tersebut tidak kafir, sampai ada bukti atau alasan-alasan yang menguatkannya. Kalau ada alasan yang menguatkannya, maka ia kafir”. Lalu Muhammad bin Maslam menyambung dialog tersebut, “Subhanallah, apakah orang tidak tahu dan menentang itu dikafirkan? Kalau dia tidak menentang, dia tidak kafir”. Maka pada suatu musim haji aku menemui Abu Abdillah, dan kuceritakan peristiwa tersebut kepadanya. Lalu Abu Abdillah berkata, “Engkau datang tapi dua orang temanmu yang lain tidak ada. datanglah pada malam pelemparan jumrah al-wustha di Mina”. Lagi

Older Entries